Connect with us

Techno

Kebijakan Terbaru WhatsApp Tuai Protes, Jumlahan Unduhan Pesaingnya Melonjak

Published

on

Kebijakan Terbaru WhatsApp Tuai Protes, Jumlahan Unduhan Pesaingnya Melonjak

Channel9.id-Jakarta. Pesaing WhatsApp seperti Telegram dan Signal mengalami kenaikan jumlah unduhan dan pemasangan. Sedangkan WhatsApp sendiri mengalami penurunan hingga 11% pada tujuh hari pertama di 2021—jika dibandingkan minggu sebelumnya.

Data itu didapat dari laporan Sensor Tower, sebuah layanan analisis aplikasi global. Kendati mengalami penurunan, angka unduhan Whatsapp secara global masih berjumlah sekitar 10,5 juta.

Sementara itu, popularitas layanan pesan instan seperti Signal dan Telegram meningkat signifikan. Tercatat 100.000 lebih pengguna yang memasang Signal di toko aplikasi Apple dan Google dalam dua hari terakhir, dan Telegram hampir 2,2 juta unduhan.

Baca juga : Banyak Pengguna WhatsApp Hijrah ke Telegram, Ini Respons Telegram

Peningkatan pemasangan Signal diduga naik setelah CEO Tesla dan SpaceX Elon Musk, melalui cuitannya, menyarankan untuk tak menggunakan aplikasi perpesanan milik Facebook, termasuk WhatsApp. Ia pun menyarankan untuk berhijrah ke aplikasi perpesanan yang lebih aman, yaitu Signal.

Tindakan Musk itu dilatarbelakangi oleh pembaruan kebijakan privasi Facebook, yang memungkinkan Facebook dan perusahaan mitranya, WhatsApp, berbagi lebih banyak data. Termasuk berbagi nomor telepon, interaksi di platform, informasi tentang perangkat seluler yang digunakan untuk mengakses layanan, dan alamat IP.

Jika pengguna WhatsApp tak setuju berbagi data, maka mereka tak lagi bisa mengakses layanan WhatsApp digunakan. Pengguna hanya punya pilihan untuk menghapus akun mereka.

Sebagai informasi, Musk dan Facebook memang kerap berseteru. Musk pernah mengatakan bahwa dia memilih untuk menghapus akun SpaceX dan Tesla di Facebook setelah skandal Cambridge Analytica pada 2018. Ia pun pernah berseteru dengan CEO Facebook Mark Zuckerberg secara pribadi. Keduanya pernah saling mengecam media sosial seperti Twitter beberapa kali. Misalnya terkait kecerdasan buatan.

Terakhir, Musk menilai WhatsApp dan Facebook menimbulkan masalah privasi. Sehingga, menurutnya, Signal bisa menjadi alternatif karena terenkripsi dan lebih aman.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Pakar Sebut RI Heboh Kritik WhatsApp Karena Aturan Data Tak Jelas

Published

on

By

Channel9. Id-Jakarta. Di tengah gelombang kritik terhadap WhatsApp yang berbagi data Facebook, pakar Keamanan Siber Ruby Alamsyah menilai bahwa regulasi soal perlindungan data di Indonesia belum jelas.

“Undang-undang perlindungan data pribadi ini harus segera disahkan, karena kita tak punya regulasinya, pemerintah tak bisa berbuat banyak untuk bertindak tegas ke aplikasi sejenis WhatsApp ini,” tandas Ruby, Kamis (14/1).

Ruby mengambil contoh Turki yang berani tegas hingga menyelidiki WhatsApp soal privasi data, karena sudah punya undang-undang yang tegas.

Ia berpendapat, kepanikan yang terjadi di Indonesia terjadi akibat penerjemahan aturan yang tak jelas. Padahal, lanjutnya, data-data yang diambil oleh WhatsApp hanya beberapa aspek, di antaranya: nomor pengguna, seberapa sering pengguna mengakses aplikasi tersebut, informasi perangkat pengguna, zona waktu dan provider seluler.

Ruby menilai aspek tersebut lumrah diambil dan kebiasaan aplikator untuk mengolah data pengguna. Tujuannya untuk mempermudah pengiklan untuk memasang iklan di slot iklan pada aplikasi tersebut.

Lebih lanjut ia menjelaskan, langkah tersebut untuk melakukan monetisasi demi keuntungan.

“No free for lunch, kalau kita mau pakai aplikasi tersebut secara gratis, harus ada yang dikorbankan atau dibayar, itu salah satu return-nya. Aplikator melakukan monetisasi untuk meraup keuntungan,” kata Ruby.

Apa yang dilakukan WhatsApp juga dilakukan oleh platform lain, seperti Google. Ruby menjelaskan bahwa Google juga melakukan pengambilan data pengguna Gmail dan Google Chrome sejak 2016 untuk slot para pengiklan.

Lebih lanjut, Ruby kembali mengaskan pentingnya peran pemerintah untuk membangun regulasi yang jelas.

“Pemerintah harus memastikan TNC menggunakan bahasa yang jelas, bukan bahasa hukum, menggunakan bahasa Indonesia, dan dapat dimengerti masyarakat luas. Kalau di Eropa tidak boleh tuh tulis aturan yang sulit dimengerti,” kata dia.

(LH)

Continue Reading

Techno

WhatsApp Tunda Penerapan Kebijakan Privasi Baru

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. WhatsApp akhirnya menunda penerapan kebijakan privasi barunya hingga 15 Mei mendatang. Padahal mulanya keijakan ini akan diterapkan pada 8 Februari.

Langkah tersebut diambil WhatsApp lantaran khawatir akan kehilangan lebih banyak penggunanya, jika kebijakan tersebut diterapkan. Terlebih, menurut WhatsApp, banyak yang kebingungan terkait kebijakan barunya.

“Kami mendengar dari banyak orang tentang banyaknya kebingungan terkait update terbaru kami. Ada banyak misinformasi yang menyebabkan kecemasan dan kami ingin membantu setiap orang memahami prinsip kami dan faktanya,” tulis WhatsApp, Jumat (15/1).

“Kami akan memundurkan jadwal dan akan meninjau terlebih dahulu tanggapan para pengguna,” kata WhatsApp, dikutip dari AFP.

Sebelumnya, kebijakan privasi baru WhatsApp memang dianggap membingungkan bagi sebagian orang. Hal ini pun diakui oleh bos Signal Brian Acton, yang juga merupakan pendiri WhatsApp.

“Setelah membaca kebijakan privasi (WhatsApp), saya menganggapnya sangat membingungkan dan sulit diikuti,” ungkapnya. Ia menjelaskan, WhatsApp berupaya memonetisasi namun tetap menjaga privasi user. Menurutnya, tak heran bila kebijakan baru ini memicu kebingungan.

Diketahui, ada tiga poin utama pada pembaruan kebijakan privasi WhatsApp. Pertama, bagaimana WhatsApp memproses data, lalu bagaimana bisnis bisa menggunakan layanan hosting Facebook untuk menyimpan dan mengelola chat WhatsApp, dan bagaimana data diintegrasikan dengan produk Facebook lainnya.

Adapun salah satu buntut dari penerapan kebijakan baru tersebut yaitu WhatsApp akan memaksa pengguna berbagi data ke Facebook. Jika tak menyetujui kebijakan ini, pengguna tak bisa mengakses layanan WhatsApp dan pengguna bisa menghapus akunnya.

Hal ini yang membikin para pengguna protes dan kemudian hijrah ke aplikasi pesaing WhatsApp, seperti Signal Telegram.

(LH)

Continue Reading

Techno

Strategi WhatsApp Gaet Lagi Pengguna

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Beberapa hari belakangan ini, banyak pengguna yang meninggalkan WhatsApp. Mereka diketahui berhijrah secara besar-besaran ke aplikasi serupa, seperti Signal dan Telegram.

Sekadar informasi, mulai 8 Februari 2021, WhatsApp akan menerapkan kebijakan privasi terbarunya, di mana salah satu buntut dari kebijakan ini akan memaksa pengguna berbagi data ke Facebook. Menyadari pentingnya privasi dan kerap kali Facebook terseret kasusu kebocoran data, banyak pengguna yang akhirnya meninggalkan WhatsApp.

Untuk menekan laju hijrah ke aplikasi lain, WhatsApp melakukan sejumlah strategi. Salah satunya dengan mengiklan di media massa.

Baca juga : Banyak yang Hijrah ke Signal dari WhatsApp

Sebagai pasar terbesar WhatsApp, India menjadi target iklan mereka. WhatsApp memajang iklan satu halaman penuh di sejumlah koran ternama.

Pada iklan tertulis bahwa WhatsApp akan tetap menjaga ketat privasi pengguna, meski ada pembaruan kebijakan, dilansir dari Independent pada Jumat (15/1),

“Menghormati privasi Anda ada di dalam DNA kami,” tulis WhatsApp di media The Assam Tribune, The Hindu, The Times of India, Economic Times hingga Indian Express.

Tak hanya itu, terpampang pula tautan menuju FAQ WhatsApp untuk menjelaskan pembaruan kebijakan. Di iklan tersebut pula, WhatsApp mengklaim tak akan mengganggu percakapan privat para user.

“WhatsApp tak bisa melihat pesan privat Anda atau mendengar panggilan, begitu pula Facebook. Tiap pesan privat, foto, video, voice message dan dokumen yang Anda kirim ke teman, keluarga dan kolega one on one atau di grup dilindungi enkripsi end to end,” jelas WhatsApp.

Kiranya, WhatsApp tengah mewaspadai kebangkitan pesaingnya, Signal dan Telegram. Pasalnya, jumlah unduhan kedua pesaing WhatsApp ini memang melejit.

(LH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC