Channel9.id – Jakarta. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan 9.355 tenaga kesehatan dan menyiapkan 814 rumah oksigen di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Langkah tersebut dilakukan untuk menangani dampak kesehatan, termasuk kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak.
Juru Bicara Kemenkes Widyawati mengatakan tenaga kesehatan yang dikerahkan berasal dari berbagai kompetensi, mulai dari dokter, bidan, apoteker, ahli gizi, hingga pengemudi ambulans.
Menurut dia, penanganan dampak karhutla membutuhkan dukungan tenaga kesehatan lintas kompetensi agar pelayanan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
“Dan ini menunjukkan penanganan dampak karhutla tidak hanya membutuhkan tenaga medis, tetapi juga membutuhkan dukungan tenaga kesehatan lintas kompetensi untuk respons cepat. Kami memastikan koordinasi Dinas Kesehatan provinsi terus diperkuat untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak,” ujar Widyawati dalam konferensi pers, sebagaimana dikutip Channel9.id melalui keterangan tertulis yang diterima, Rabu (4/11/2026).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi per 3 November 2026, jumlah tenaga kesehatan yang dikerahkan paling banyak berada di Kalimantan Timur, yakni 5.525 orang. Berikutnya Jambi sebanyak 2.589 orang, Kalimantan Tengah 487 orang, Sumatera Selatan 382 orang, Riau 209 orang, Kalimantan Barat 121 orang, dan Kalimantan Selatan 42 orang.
Selain mengerahkan tenaga kesehatan, Kemenkes mencatat terdapat 814 rumah oksigen yang tersebar di tujuh provinsi. Rinciannya, 336 unit di Kalimantan Tengah, 175 unit di Kalimantan Selatan, 158 unit di Kalimantan Barat, 131 unit di Jambi, 10 unit di Riau, tiga unit di Sumatera Selatan, dan satu unit di Kalimantan Timur.
Widyawati mengatakan penyediaan rumah oksigen tidak hanya berfokus pada jumlah fasilitas, tetapi juga memastikan masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan dapat mengakses bantuan tersebut.
“Yang menjadi perhatian kami sebenarnya bukan semata-mata jumlah dari rumah oksigen yang tersedia, melainkan juga bagaimana memastikan dukungan oksigen tersebut dapat diakses masyarakat yang membutuhkan, terutama bagi pasien-pasien yang terganggu pernapasannya,” katanya.
Untuk mendukung pelayanan kesehatan di daerah terdampak, Kemenkes juga mendistribusikan berbagai logistik medis. Hingga 4 November 2026 pukul 15.00 WIB, bantuan yang telah disalurkan meliputi sekitar 3,8 juta masker, 280 unit konsentrator oksigen, 41 ribu pasang sarung tangan medis, dan 939 tabung oksigen.
Bantuan tersebut juga mencakup alat pelindung diri (APD), air purifier, makanan tambahan, obat-obatan, vitamin, serta perlengkapan penunjang medis lainnya. Widyawati menyebut penyaluran dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan fasilitas kesehatan di setiap daerah.
“Kemudian pemberian makanan tambahan atau PMT, bermacam obat, vitamin, hingga kelengkapan penunjang medis lainnya. Disalurkan secara terukur sesuai dengan tingkat kebutuhan fasilitas di daerah masing-masing,” ujarnya.
Di sisi lain, Kemenkes mencatat 401.586 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota hingga 2 November 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 91.913 kasus terjadi pada balita usia 0–5 tahun, 87.704 kasus pada anak usia 6–9 tahun, dan 56.092 kasus pada kelompok lanjut usia di atas 60 tahun.
Kemenkes juga mencatat 590 ibu hamil, 1.530 penderita asma, dan 8.086 pekerja luar ruangan sebagai kelompok yang menjadi perhatian dalam penanganan dampak kesehatan di wilayah terdampak karhutla.
HT




