Channel9.id-Jakarta. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menjadwalkan peluncuran video aransemen baru lagu “Hari Merdeka” oleh Erwin Gutawa pada 2026, Minggu (16/8/2026), pukul 19.00 WIB melalui siaran langsung TVRI Nasional.
Berdasarkan publikasi di media sosial @kemenkebud, gubahan aransemen baru oleh Erwin Gutawa itu melibatkan instrumen musik bambu tradisional angklung lewat kolaborasi bersama musisi Manshur Praditya
Tayangan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut dijadwalkan untuk diresmikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Rekaman pertunjukan yang diunggah di kanal YouTube @Kemenhub151 itu menunjukkan penampilan Twilite Orchestra pimpinan Addie MS memperdengarkan aransemen dengan harmoni instrumen tiup, alat musik gesek, serta ketukan “snare drum” sepanjang lagu.
Hasil penelusuran lebih lanjut mencatat nama Singgih Sanjaya sebagai komposer Indonesia modern yang pertama kali menggubah aransemen orkes lagu karya Husein Mutahar tersebut pada 1997.
Berdasarkan “liner notes” lagu di album “Simfoni Negeriku” yang dirilis pada 1998, gubahan aransemen lagu oleh Singgih Sanjaya tersebut direkam di Melbourne, Australia oleh Victorian Philharmonic Orchestra di bawah arahan konduktor Addie MS.
Dalam siaran langsung peluncuran lagu “Hari Merdeka” di TVRI Nasional, yang dipantau dari Jakarta, Minggu (16/8/2026) malam, musisi yang tampil dalam proyek tersebut ialah Shabrina Leanor, Ardhito Pramono, Novia Bachmid, Ruth Sahanaya, Harvey Malaihollo, Titik Hamzah, Vina Panduwinata, Judika, Ahmad Albar, Rita Butar Butar.
Erwin Gutawa menjelaskan batasan utama dalam mengaransemen ulang lagu perjuangan terletak pada ikatan kuat antara karya musik dengan peristiwa sejarah saat lagu itu diciptakan. Atas dasar prinsip itu, Erwin memutuskan untuk tetap mempertahankan pakem irama ketukan asli pada aransemen baru tersebut.
“Husein Mutahar memilih irama lagunya, bentuk melodinya memilih dengan irama marching, kayak derap langkah begitu, itu untuk mewakili semangat yang kuat karena waktu itu tahun 1946 kita memerlukan semangat tersebut,” kata Erwin menjelaskan.
Erwin menerangkan bahwa setiap musisi sebenarnya memiliki kebebasan interpretasi. Namun, nilai historis dari sebuah lagu perjuangan merupakan hal mutlak yang tidak boleh dihilangkan secara serta-merta.
“Namun, biasanya dalam konteks lagu perjuangan atau lagu nasional, nilai-nilai serta rasa di dalamnya tidak boleh diganti dan jangan sampai hilang,” terangnya.
Video aransemen baru lagu “Hari Merdeka” karya Husein Mutahar garapan komposer Erwin Gutawa disaksikan ratusan kali hanya dalam hitungan jam sejak disiarkan di kanal YouTube secara serentak pada Minggu malam, pukul 20.00 WIB.
Video aransemen itu dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenbud) serta Kanal Indonesiana TV.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memuji hasil produksi audio-visual tersebut karena sukses menyajikan aransemen megah (grande) sekaligus relevan dengan semangat zaman generasi muda saat ini.
“Iya, menurut saya sih luar biasa. Terima kasih banyak ini Mas Erwin dan seluruh penyanyi ini. Satu hasil kerja singkat, cepat, efisien, padat, gitu ya. Luar biasa. Bangga, gitu ya. Jadi, grande-nya lagu itu dan semangat zamannya juga terlihat dari mulai pembuka dan juga di akhir. Jadi, kita menjadikan lagu ini semakin relevan dan sesuai dengan semangat zamannya,” kata Fadli Zon.
Fadli Zon menegaskan bahwa musik Indonesia yang merdeka adalah musik yang membawa budaya bangsa semakin dikenal di seluruh dunia.
“Yang membawa budaya kita semakin dikenal seluruh dunia,” ujar Fadli Zon.
Kontributor: Akhmad Sekhu




