Connect with us

Ekbis

Kementerian KKP Bantah Ekspor Kepiting Anjlok 81 Persen

Published

on

Saat ini teknologi pembenihan kepiting dikembangkan di empat balai budidaya KKP diMaros, Takalar, Gondol, dan Jepara. Balai tersebut terus melakukan diseminasi teknologinya ke masyarakat.  BBPBAP Jepara dan BPBAP Takalar telah berhasil melakukan pembenihan kepiting rajungan secara massal, dan saat ini telah berhasil dikembangkan di masyarakat Kabupaten Demak, Jepara, Tarakan, Balikpapan,Belitung, Pangkalan Susu, dan Bangka.

Kerjasama juga telah dilakukan, antara lain dengan menggandeng Asosiasi PengelolaanRajungan Indonesia (APRI) yang beranggotakan 16 perusahaan rajungan. BBPBAP Jepara dan APRI telah berhasil melakukan panen massal kepiting rajungan di Jepara sebesar 250 kg (dengan ukuran panen 100 gram/ekor) dan di Kalimantan Utara kerjasamadilakukan dengan Koperasi Mina Laut panen sebanyak 300 kg.

“Semua upaya ini telah mendapat apresiasi tinggi dari para pengusaha.Selain untuk kepentingan pengembangan usaha budidaya, Balai KKP juga mendorong produksi benih kepiting dan rajungan untuk kepentingan restocking di alam, dengan tujuan untuk menjaga kelestarian stok di alam. Jadi kalau ada anggapan bahwa teknologinya tidak disebarkan ke masyarakat, tentu itu keliru,” ucapnya.

Sebagai informasi, terkait pengembangan potensi perikanan budidaya, data KKP menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir (tahun 2013 –2017) produksi perikanan budidaya nasional tumbuh rata-rata per tahun sebesar 6,69 persen.

Tahun 2017 volume produksi akuakultur tercatat sebesar 17.217.701 ton atau naik sebesar 7,59 persen dibanding tahun 2016.Sementara itu, pemanfaatan lahan budidaya dalam kurun waktu lima tahun terakhir (tahun 2012-2016) juga tumbuh rata-rata per tahun sebesar 1,94 persen. Tahun 2016 total lahan yang telah dimanfaatkan mencapai 1.198.855 hektare.

“Kita perlu bicara berdasarkan data dan data yang ada menunjukkan perikanan budidayaterus berkembang dengan memanfaatkan potensi yang ada,” tegasnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekbis

Mendarat di Zona Hijau, IHSG Ditutup Menguat 0,53%

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,53% atau 32,20 poin ke 6.120,73, pada hari ini, Kamis (29/07). Indeks menguat usai dua hari berturut-turut melemah.

Tercatat delapan indeks sektoral menjadi pendorong menguatnya indeks, diantaranya sektor infrastruktur naik 1,82%, sektor barang baku menguat 1,81%, sektor energi menanjak 1,70%, dan sektor properti dan real estat naik 1,61%.

Kemudian, sektor teknologi naik 1,16%, sektor transportasi dan logistik menguat 0,40%, sektor barang konsumsi nonprimer naik 0,25% dan sektor keuangan menguat 0,22%.

Baca juga: Melempem, IHSG Ditutup Melemah 0,14 Persen 

Di sisi lain, ada tiga indeks sektoral yang berakhir di zona merah yaitu sektor perindustrian melorot 1,04%, sektor kesehatan turun 0,88% dan sektor barang konsumsi primer melemah 0,44%.

Investor asing kembali terpantau melakukan aksi beli bersih atau net buy dengan nilai Rp15,52 miliar di seluruh pasar di awal perdagangan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) paling banyak diborong investor asing pada awal perdagangan dengan total net buy senilai Rp12,4 miliar.

Disusul kemudian oleh saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dengan net buy Rp11,5 miliar dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar RP9,7 miliar.

Continue Reading

Ekbis

Wuih, Industri Keuangan Stabil selama Semester I 2021

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga semester I 2021 sektor jasa keuangan tetap stabil. Kondisi ini dicerminkan oleh membaiknya sejumlah indikator seperti intermediasi perbankan dan penghimpunan dana di pasar modal serta terjaganya rasio kehati-hatian di lembaga jasa keuangan.

“Meskipun indikator ekonomi domestik sampai Juni masih menunjukkan berlanjutnya pemulihan, OJK mencermati adanya penurunan mobilitas karena pemberlakuan PPKM yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi laju pemulihan ekonomi ke depan,” kata Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK, Anto Prabowo, Kamis, 29 Juli 2021.

Di tengah perkembangan tersebut, pasar keuangan domestik masih terjaga stabil. IHSG hingga 23 Juli 2021 tercatat menguat ke level 6.102 atau tumbuh 1,9 persen (month to date) dengan aliran dana nonresiden tercatat masuk sebesar Rp2,02 triliun. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) juga terpantau menguat dengan rerata imbal hasil SBN turun 13,5 basis poin (bps) di seluruh tenor. Namun, investor nonresiden tercatat jual bersih sebesar Rp11,73 triliun.

Penghimpunan dana di pasar modal hingga 27 Juli 2021 telah mencapai nilai Rp116,6 triliun atau meningkat 211 persen dari periode yang sama tahun lalu dengan 27 emiten baru yang melakukan IPO. Selain itu, masih terdapat penawaran umum yang dalam proses dari 86 emiten dengan nilai nominal sebesar Rp54,2 trliun.

Di sektor perbankan, kredit perbankan pada Juni 2021 meningkat sebesar Rp67,39 triliun dan telah tumbuh sebesar 0,59 persen (yoy). Tren ini meneruskan tren perbaikan selama empat bulan terakhir seiring berjalannya stimulus pemerintah, OJK, dan otoritas terkait lainnya. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) kembali mencatatkan pertumbuhan dua digit sebesar 11,28 persen (yoy). “Dari sisi suku bunga, transmisi kebijakan penurunan suku bunga telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit ke level yang cukup kompetitif,” kata Anto.

Sektor asuransi mencatatkan penghimpunan premi pada Juni 2021 sebesar Rp31 triliun dengan rincian asuransi jiwa sebesar Rp21,1 triliun, Asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp9,9 triliun.

Selanjutnya, fintech P2P lending pada periode yang sama mencatatkan pertumbuhan baki debet pembiayaan cukup signifikan menjadi Rp23,38 triliun (Juni 2020 dan Mei 2021 masing-masing tercatat sebesar Rp11,8 triliun dan Rp21,7 triliun). Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan masih terkontraksi dan mencatatkan pertumbuhan negatif 11,1 persen (yoy) pada Juni 2021.

Profil risiko lembaga jasa keuangan pada Juni 2021 masih relatif terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau NPL gross tercatat sebesar 3,24 persen (NPL net: 1,06 persen) dan rasio pembiayaan bermasalah atau NPF perusahaan pembiayaan pada Juni 2021 turun pada 3,96 persen dari Mei 4,05 persen. Selain itu, posisi devisa neto Juni 2021 sebesar 2,32 persen atau jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20 persen.

Continue Reading

Ekbis

Genjot Pertumbuhan, Bank Indonesia Beberkan Empat Hal Dorong Kredit

Published

on

By

Bank Indonesia Catat Transaksi Belanja Online Melonjak 63,4 Persen

Channel9.id-Jakarta. Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memaparkan ada empat hal yang bisa mendorong pertumbuhan kedit perbankan lebih terakselerasi pada 2021. “Kredit dari yang sebelumnya kami perkirakan 6-8 persen pada  tahun ini, kami turunkan menjadi 4-6 persen. Namun ada empat hal yang bisa mendorong akselerasinya,” ujarnya, Kamis, 29 Juni 2021.

Dia menyebutkan, pertama, yakni terus membaiknya ekonomi global yang bisa mengangkat harga komoditas dunia, sehingga Indonesia sebagai negara berbasis komoditas juga akan bisa menikmati dampak dari naiknya harga tersebut dan mampu mendorong kredit.

Kedua, kapasitas permodalan bank yang relatif tinggi dengan tingkat risiko yang terjaga, termasuk ketahanan likuiditas bank. Dengan begitu bisa mendorong bank untuk bisa terus menyalurkan kreditnya.

Ketiga, yaitu percepatan korporatisasi serta digitalisasi ekonomi dan keuangan yang dapat lebih mendukung aktivitas dan mendorong pemulihan ekonomi, khususnya UMKM yang merupakan penopang perekonomian Tanah Air. “Lebih dari 99 persen pelaku usaha itu adalah segmen UMKM dan kalau kami lihat pemulihannya di segmen kredit, kredit usaha mikro kecil dan menengah lebih cepat pulih ketimbang segmen korporasi,” tuturnya.

Keempat, efektivitas pelaksanaan bauran kebijakan sektor lintas lembaga, sehingga Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus meningkatkan sinergi dan koordinasi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional serta mendorong intermediasi dari bank.

Destry mengingatkan masih terdapat beberapa hal yang perlu diwaspadai dan berpotensi menekan pertumbuhan kredit, yakni penyebaran Covid-19 varian Delta hingga persepsi risiko perbankan yang cukup tinggi. “Ini menimbulkan kehati-hatian bank dalam menyalurkan kredit,” kata dia.

Continue Reading

HOT TOPIC