Channel9.id – Surabaya. Rumah tokoh pergerakan HOS Tjokroaminoto di Surabaya menjadi bagian penting dari perjalanan sejumlah tokoh yang kelak mengambil peran dalam sejarah politik dan pergerakan Indonesia. Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyebut rumah tersebut sebagai tempat para tokoh muda pada masa Hindia Belanda menempa gagasan dan pemikiran tentang kebangsaan.
Menurut Muzani, rumah yang pernah ditempati HOS Tjokroaminoto itu menjadi ruang perjumpaan dan diskusi mengenai kebangsaan, keislaman, serta nasionalisme. Salah satu tokoh yang pernah berdiskusi di rumah tersebut adalah Soekarno ketika masih muda.
“Di tempat ini tokoh-tokoh generasi pertama kita ditempa dan dibidik oleh HOS Tjokroaminoto, di antaranya Ir. Soekarno yang pada masa muda, masa remaja banyak berdiskusi, bergelut tentang persoalan kebangsaan, keislaman, gerakan-gerakan nasionalisme,” kata Ahmad Muzani saat ngobrol di Rumah Tokoh Pergerakan HOS Tjokroaminoto, Surabaya, usai jalan sehat menyempatkan singgah di rumah tokoh perjuangan tersebut, Kamis (27/8/2026).
Selain Soekarno, sejumlah tokoh lain seperti Alimin, Muso, Semaoen, dan Kartosuwiryo juga tercatat memiliki keterkaitan dengan rumah tersebut. Mereka kemudian menempuh jalur perjuangan dan pilihan politik yang berbeda dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Muzani menjelaskan, Soekarno kemudian menjadi salah satu tokoh utama pergerakan nasional dan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Sementara Alimin, Muso, dan Semaoen dikenal dalam gerakan Partai Komunis Indonesia, sedangkan Kartosuwiryo memimpin gerakan DI/TII di Jawa Barat.
Perbedaan arah perjuangan para tokoh tersebut, menurut Muzani, menunjukkan bagaimana lingkungan pergerakan pada masa muda turut menjadi ruang pembentukan pemikiran dan karakter sebelum mereka menentukan jalan masing-masing.
“Tokoh-tokoh ini memiliki tempat-tempat ini pada zaman muda dan menjadi sebuah kawah candradimuka,” ujar dia.
HOS Tjokroaminoto diketahui tinggal di rumah tersebut selama sekitar 14 tahun. Pada 1921, ia kemudian meninggalkan Surabaya dan berpindah ke Yogyakarta hingga wafat.
Muzani menilai rumah bersejarah itu layak menjadi salah satu tujuan masyarakat saat berkunjung ke Surabaya. Menurut dia, keberadaan rumah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang edukasi untuk memahami proses pembentukan gagasan dan pemikiran para tokoh pergerakan.
Ia berharap rumah HOS Tjokroaminoto tidak hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mempelajari perjalanan intelektual dan politik tokoh-tokoh yang pernah berada di dalamnya.
Rumah tersebut menjadi saksi fase awal perjalanan sejumlah tokoh yang kemudian mengambil jalur perjuangan berbeda. Dari tempat itu, gagasan mengenai kebangsaan, keislaman, nasionalisme, dan masa depan Indonesia menjadi bagian dari diskusi yang turut membentuk generasi pergerakan.
HT




