Connect with us

Opini

Kreativitas dan Semangat Mendidik saat Pandemi

Published

on

Oleh: Dr. Uswadin, M.Pd.

Channel9.id – Jakarta  Masa pandemi, kegiatan dalam dunia pendidikan mengalami perubahan drastis sebagaimana dialami pula bidang-bidang lain seperti ekonomi, sosial, budaya, pariwisata dan bahkan dalam bidang kehidupan agama yang tidak luput pula mengalami perubahan.

Memang penyebaran Covid-19 yang sangat masif dan cepat memerlukan antisipasi dan pencegahan yang terencana, terpadu dan sistematis baik pemerintah, lembaga maupun perorangan.

Kebiasaan para siswa belajar di sekolah atau madrasah sudah tidak terlihat lagi selama beberapa bulan ini, bahkan hampir mendekati bilangan tahun. Siswa belajar dari rumah, dan guru pun mengajar dari rumah.

Memang pada awal-awal kebijakan ini banyak kegamangan dan kebingungan yang datangnya dari guru, siswa bahkan orangtua. Bagaimana mungkin siswa bersekolah di rumah, dan bagaimana mungkin guru pun megajar dari rumah. Namun karena kondisi yang menuntut demikian maka walaupun dengan keterpaksaan dan penolakan di sana-sini, proses belajar dari rumah (BDR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) berjalan.

Babak berikutnya adalah adanya kendala untuk menyampaikan pengetahuan dari guru ke siswa (transfer of knowledge) yang ternyata tidak semudah saat pembelajaran tatap muka. Kendala tersebut diantaranya adalah terbatasnya komunikasi jarak jauh guru dan siswa, serta minimnya perangkat untuk transfer of knowledge tersebut. Beberapa kendala diantaranya belum tersedianya jaringan listrik di daerah-daerah tertentu, terbatasnya internet, tidak adanya gawai, serta tidak adanya paket atau data untuk mengakses.

Dari sisi guru, beberapa guru pun mengalami keterbatasan pengetahuan dan cara untuk mengerjakan tugasnya dari rumah. Namun karena tuntutan dan kondisi, guru-guru pun berupaya bangkit untuk belajar dan belajar lagi memanfaatkan kemajuan sosial media dan teknologi informasi yang semakin maju. Guru-guru memanfaatkan sarana dan prasarana yang tersedia, seperti menggunakan SMS, WA, Email, serta aplikasi-aplikasi yang disediakan oleh Google. Pemerintah pun membantu dengan menyiadakan sarana-sarana siaran edukasi melalui televisi dan radio serta melalui situs guru berbagi, guru penggerak dan lain-lain.

Guru di masa pandemi secara tidak langsung bisa melakukan adaptasi dalam pembelajaran dan dengan cepat pula menyesuaikan kemampuannya melalui penguasaan keterampilan dengan menggunakan paltform pembelajaran yang beraneka ragam. Zoom cloud meeting adalah salah satu yang populer digunakan guru untuk mengajar di daerah yang memiliki dukungan internet dan perangkat yang memadai. Google meet, youtube, trello, quissis, blog, canva, padlet, google form, google classroom, edmodo serta beberapa media lainnya menjadi hal yang tidak asing di kalangan guru-guru.

Guru-guru berinovasi dengan kreativitasnya serta semangat melayani siswa berakselerasi menguasai teknologi untuk menyesuaikan pembelajaran di masa pandemi. Diskusi dan sahring berbagi pun hampir setiap hari terjadi melalui webinar maupun diklat daring. Pandemi ternyata lebih mempercepat guru mengakselerasi teknologi dan lebih mampu mempererat silaturahmi dan menggali ilmu (tolabul ilmi) yang hampir tidak dibatasi oleh waktu, tempat dan jarak.

Pemerintah pun berupaya melakukan relaksasi pembelajaran di masa pandemi dengan tidak mengejar target kurikulum. serta memberikan bantuan kuota internet bagi siswa, mahasiswa dan guru. Banyak upaya yang sudah dilakukan, namun kesempurnaan tidak akan menyamai pembelajaran yang dilakukan secara langsung, dimana suasana sosial, kedekatan, emosi dan kebersamaan serta empati bersatu dalam pembelajaran.

Sukses selalu untuk guru pembelajar dan semoga pandemi ini bisa berlalu. Kita pun berharap tahun baru di 2021 bisa mulai belajar tatap muka dan suasana baru, pasti tercipta lebih baik dan berkualitas karena kita telah belajar bersama-sama dan sama-sama belajar di masa pandemi. Daerah-daerah pun sudah bersemangat untu menyambut pembelajaran tatap muka dengan persiapan-persiapan yang terencana baik melalui peraturan, sosialisasi dan uji coba terbatas.

 

Penulis adalah Pengembang Labschool UNJ

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Revolusi Apa Tanpa Perancis?

Published

on

By

Oleh: Indra J Piliang*

Channel9.id-Jakarta. Sejumlah pesohor Indonesia dengan mudah menisbikan Perancis. Hanya akibat perilaku dan penilaian sebagian warga mereka, termasuk Presiden Emmanuel Macron, terhadap Islam, lantas membuat banyak pihak gelap mata. Cara yang ditempuh luamayan kuno dan berulang: boikot produk Perancis.

Dengan cara memboikot, terbukti selama ini ummat Islam Indonesia sama sekali tidak memiliki kemandirian dalam bidang ekonomi. Sebab, ancaman boikot bukan sekali ini saja, dan tidak hanya negara Perancis. Hampir seluruh negara yang dianggap memiliki masalah dengan ummat Islam Indonesia, ummat Islam di negara mereka sendiri, dan atau ummat Islam di seluruh dunia, selalu beri ajian pamungkas: boikot!

Ambil contoh negara Myanmar, India, atau China. Ketiga negara yang mayoritas berpenduduk Hindhu dan Budha itu juga diakhiri dengan kata boikot. Myanmar untuk masalah Rohingnya, India untuk kebangkitan kaum Hindu nasionalis di bawah Partai Baratya Janata, serta China bagi persoalan Uighur. Tak ada komite evaluasi pemboikotan. Dan apakah para pesohor yang berada di depan tetap pada komitmen pemboikotan itu.

Bagaimana yang terjadi terbalik? Keempat negara tadi melakukan boikot produk-produk mereka terhadao negara-negara muslim? Industri militer dan intelektual Perancis, sebagai contoh. Atau produk murah yang berasal dari China atau India? Serta pelbagai perkembangan destinasi wisata bagi kaum muslim kelas menengah yang terdapat di Myanmar, Vietnam, Thailand, hingga Vietnam? Pembatasan makanan halal dan restoran Muslim, misalnya?

Saya tidak bisa membayangkan, kalau Perancis menyusul Inggris, keluar dari Uni Eropa. Langkah dalam membendung kaum migran asal dunia Arab, akibat konflik dalam pengaruh kebiadaban ISIS. Setengah pesepakbola Perancis beragama Islam, termasuk legendaris Zinedine Zinade. Berapa banyak pula yang kudu mengembalikan status kewarganegaraan mereka, jika konflik perbedaan identitas berkelanjutan?

Jika kita menimba mata air sejarah, seberapa banyak yang mendapat pengaruh dari Perancis dalam menjalankan revolusi? Bisa jadi sebagian besar negara yang melakukan revolusi nasional dalam abad ke 20. Pengaruh, dalam arti pergulatan pemikiran yang mereka alami selama menetap, melarikan diri, atau berpetualang di Perancis.

Bahkan kemunculan abad pencerahan atau auflarung di Eropa hampir identik dengan Perancis. Yakni kehadiran café atau kedai-kedai kopi tempat banyak orang bertemu. Pertemuan yang berujung kepada pertukaran ide dan ilmu. Banyaklah istilah yang dipakai merujuk bahasa Perancis.

Terdapat empat bentuk atau jenis revolusi paling legendaris yang mendapat pengaruh dari Perancis. Yakni Revolusi Amerika Serikat dan Revolusi Perancis (abad 18), Revolusi Industri (abad 18-19) dan Revolusi Iran (abad 20). Bisa jadi, revolusi Bolshevic (1917) saja yang tidak mendapatkan pengaruh dari Revolusi Perancis.

Revolusi yang terjadi di pelbagai belahan dunia, termasuk revolusi kemerdekaan di Indonesia, revolusi di China dan bahkan Indo China, sudah bisa “ditebak” direguk dari anggur yang terhidang dari pikiran filsuf hingga kaum revolusioner asal Perancis.

Upaya membangun “kebencian” kepada Perancis dalam konteks demonstratif ala boikot-boikotan sungguh tak punya nalar yang kuat. Ketergantungan  sejumlah negara Arab dan Afrika terhadap persenjataan moderen asal Perancis sungguh besar. Bagaimana “jihad” dengan cara boikot bekerja dalam tataran industri pertahanan ini?

Atau dalam praktek yang lebih membius. Yakni penggunaan parfum asal Perancis. Memang ada parfum selain dari Perancis? Bahan wewangian itu bukannya tersibak dari setiap sapuan kafiyeh petinggi-petinggi agama yang “berperang” melawan bau keringat dari kegiatan mereka? Wewangian yang berlabel halal ataupun minimal berbahasa Arab, bukannya baru muncul belakangan di dunia selebritas Indonesia? Itupun diampu artis-artis yang naik tangga popularitas dari industri sinetron yang sulit dilepaskan dari keluarga Punjabi yang Hindu itu.

Semula, revolusi ditasbihkan kepada perubahan radikal (sampai ke akar) dalam sistem pemerintahan. Yakni dari monarki ke republik. Monarki yang ditopang oleh teokrasi dan kelompok feodal. Itulah yang menjadi dasar betapa revolusi Perancis disebut lebih dulu, ketimbang revolusi yang lain. Belakangan, revolusi dikaitkan dengan pembebasan nasional. Atas dasar itu, Amerika Serikat pun menyebut diri sebagai kekuatan revolusioner, tatkala membebaskan diri dari Inggris. Jejak Perancis jelas ada dalam revolusi Amerika, sekalipun revolusi di Perancis terjadi limabelas tahun setelah kemerdekaan Amerika Serikat.

Dari kilas lintas itu, terlihat betapa rapuh dan konyolnya istilah revolusi moral dan lain-lain yang dihembuskan di Indonesia belakangan. Mau mengubah republik menjadi monarko atau teokrasi? Dengan mencimooh Perancis, semakin tak ada bangunan logika sekecil apapun dalam seluruh pergerakan massa yang disebut jutaan itu.

Saya tidak begitu memahami apa yang dijelaskan oleh Pak Jusuf Kalla ketika menyebut demokrasi Indonesia seperti kehilangan daya tampung atas fenomena Rizieq Shihab. Setahu saya, bahkan tokoh-tokoh yang memiliki kedekatan dengan Rizieq Shihab adalah para pemilih dalam pemilu dan pilkada. Mereka bukanlah tokoh-tokoh yang meneriakkan golongan putih atau revolusi putih. Mereka pemilih. Suara mereka sudah ditampung dalam kotak-kotak demokrasi di tempat-tempat pemungutan suara.

Sudah lama muncul kajian di negara-negara Skandinavia, betapa satu orang warga memiliki lebih sari satu organisasi. Pun dalam sistem politik Indonesia, satu warga bisa saja pendukung Rizieq Shihab, tetapi sekaligus pendukung pasangan tertentu dalam pilpres atau pilgub. Pimpinan mereka juga orang-orang yang jelas-jelas berpartai. Dalam fenomena 212, massa partai politik jelas hadir di lapangan, pun sesudahnya, termasuk dalam jumlah mayoritas dari luar Jakarta.

Cek saja arus pemberitaan sepanjang 212. Arus massa berasal dari mana? Bis, pesawat, sampai kendaraan pribadi itu apa ditumpangi oleh warga Jakarta? Begitu juga dengan pesaing-pesaing mereka, juga berbaris dari luar Jakarta. Pemindahan tugas Kapolda Jawa Barat pascaperistiwa 212 jelas-jelas berdasarkan pertimbangan ketidak-mampuan menahan arus massa yang masuk ke Jakarta.

Berapa hari santri-santri asal Ciamis berjalan kaki?

Pun pihak-pihak yang melakukan “pembelaan” terhadap penumpukkan massa dalam mengarak Rizieq Shihab berasal dari tokoh-tokoh politik. Mereka yang berpidato di dalam mobil komando juga anggota-anggota parlemen nasional yang sebagian besar bukanlah legislator asal DKI Jakarta. Kemacetan luar biasa yang terjadi di Jakarta setiap aksi mobilisasi massa dilakukan, juga bukan terjadi dalam jalanan kampung. Tetapi di jalanan utama. Arus massa hilang juga tak masuk ke perumahan warga, melainkan bermuara di daerah-daerah penyangga hingga luar Jawa.

Dalam soal-soal seperti ini, Ali Syariati layak dikenang. Walau bukan pemimpin revolusi Iran, tetapi keberadaannya di Paris mampu menyusun lapisan intelektual yang secara konsisten mendukung penumbangan Syah Rezha Pahlevi. Kaset-kaset ceramah Imam Khomeini mereka sebarkan ke seluruh Iran, terutama Teheran. Siapapun yang mengaku kaum intelektual, tak bakal berkhianat kepada kehadiran sosok Ali Syariati ini.

Ketika revolusi sedang diteriakkan di Indonesia, siapa Ali Syariati-nya? Itu yang kabur gambarnya. Sehingga yang muncul ke permukaan lagi-lagi ampas, sampah, plus klaster baru Covid 19.

*Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

 

Continue Reading

Opini

Pendekatan MASKER dalam PJJ

Published

on

By

Oleh: Dr. Uswadin, M.Pd.

Channel9.id – Jakarta. Tantangan belajar dan mengajar di masa pandemi yang dilakukan dengan cara pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau dengan cara belajar dari rumah (BDR) memang lebih berat ketimbang sebelum pandemi Covid-19. Namun, sesulit dan seberat apapun pembelajarannya, harus dapat berjalan dengan kondisi-kondisi yang ada. Masalah ini tidak hanya dialami oleh Indonesia saja, seluruh dunia pun merasakan dan mengalaminya.

Disparitas masyarakat Indonesia yang sangat heterogen ditambah disparitas sarana prasarana pendidikan yang ada dengan jangkauan luas wilayah Indonesia yang besar menimbulkan masalah sendiri. Hal ini berbeda dengan negara-negara lain yang secara wilayah dan populasi jauh berbeda dengan Indonesia. Mereka lebih maju, lebih homogen, lebih baik dalam sarana prasarana serta pemanfaatan teknologi informasi, ditambah sumber daya manusia pendidiknya lebih baik.

Namun, semangat dan naluri mendidik/mengajar tidak bisa dihentikan hanya karena pandemi oleh insan-insan pendidikan. Kendala dan hambatan harus dilalui dengan semangat mencerdaskan kehidupan bangsa yang menjadi amanah bagi para pendidik. Terlebih dalam pelaksanaan PJJ, kadang memunculkan dampak-dampak psikologis baik dari guru maupun peserta didik.

Masalah psikologis membuat beberapa peserta didik mengalami kejenuhan, malas, stress, dan depresi. Bahkan, sampai ada yang bunuh diri karena beratnya tugas-tugas belajar selama PJJ.

Kondisi-kondisi psikologis seperti di atas sebenarnya dapat dihindari dalam pelaksanaan PJJ/BDR apabila pendidik dan institusi pendidikan mampu melaksanakan pembelajaran dengan baik meski tidak se-ideal dalam kondisi normal. Pendekatan yang tepat kepada peserta didik akan menjadikan peserta didik dapat belajar secara menyenangkan, bermakna, serta jauh dari stress dan kebosanan.

Pendekatan yang dapat dilakukan dalam PJJ/BDR agar peserta didik dan pendidik dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik salah satunya dengan Pendekatan “MASKER”. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan masker dapat dijelaskan di bawah ini.

1. Menyapa siswa dengan ramah.

Hal yang penting dalam pembelajaran adalah bagaimana pendidik dapat menyapa dengan baik dan ramah dalam pembelajaran sehingga peserta didik merasa menjadi bagian dalam proses belajar mengajar. Penghargaan dan sapaan baik merupakan awal yang baik dalam pembelajaran dan siswa menjadi subyek dalam pembelajaran.

2. Apresiasi siswa sebaik mungkin

Memberi apresiasi kepada siswa dalam bentuk yang paling sederhana sampai yang lebih baik dalam bentuk pujian, nilai, atau hadiah. Siswa yang mendapat apresiasi akan lebih termotivasi dalam belajar dan hal ini juga akan memberi dorongan siswa lain untuk sama-sama berprestasi. Sebagaimana teori Maslow bahwa kebutuhan manusia adalah untuk dihargai, maka guru hendaknnya tidak pelit memberikan pujian kepada peserta didik.

3. Sesuaikan materi kurikulum dengan kondisi

Karena pembelajaran dalam kondisi tidak normal maka pelaksanaan atau implementasi kurikulum atau materi pembelajaran tidak dapat dilaksanakan seperti biasa. Guru harus mencari materi esensial yang harus disampaikan kepada siswa sehingga tidak terlalu banyak materi yang disampaikan.

Pemberian tugas pun harus disesuaikan tidak seperti penugasan di masa normal. Dalam hal ini pemerintah melalui Kabalitbangbuk mengeluarkan SK no 018/H/KR/2020 tanggal 5 Agustus 2020 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah secara khusus dengan penyederhanaan kompetensi dasar semua mata pelajaran.

4. Kerjasama, Kolaborasi dan Komunikasi dengan pihak-pihak

Guru dan sekolah harus mampu melakukan kerjasama dengan peserta didik, orangtua dan tentunya sesama guru agar pembelajaran dapat berjalan lancar. Adanya Kerjasama, kolaborasi dan komunikasi sehingga dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sekolah dalam waktu-waktu tertentu sebaiknya meminta pendapat dan masukan dari orangtua tentang pelaksanaan pembelajaran yang berlangsung. Adanya kerjasama yang baik maka kesulitan-kesulitan atau kendala dapat diatasi bersama. Orangtua dan sekolah berkolaborasi untuk menyukseskan pembelajaran anak.

5. Evaluasi dilakukan secara fleksibel

Evaluasi merupakan suatu kegiatan guru untuk mendapatkan informasi tentang seberapa jauh materi atau kurikulum dapat dikuasai oleh siswa. Evaluasi dalam masa PJJ tidak harus dalam bentuk ulangan, atau tes. Guru dapat menilai dengan kehadiran anak selama PJJ, perhatian dan tanggungjawab selama belajar, atau keaktifan selama diskusi. Kalaupun dilakukan secara tertulis maka tingkat kesulitan soal paling tinggi adalah pada tingkat sedang dan hindari yang sulit.

6. Refleksi

Guru dalam pembelajaran perlu melakukan refleksi tentang apa yang telah dilakukan dalam pebelajaran. Kekurangan-kekurangan dan kendala-kendala yang terjadi menjadi catatan untuk perbaikan pembelajaran pada berikutnya. Guru pun dapat meminta masukan atau saran dari peserta didik tentang pembelajaran yang telah dilakukan. Apabila kita mampu menangkap keinginan peserta didik maka dapat dipastikan pembelajaran akan lebih menyenangkan dan menghindari stress atau depresi siswa selama PJJ.

Karena itu, menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua untuk menciptakan suasana belajar yang lebih baik dalam masa pandemi. Sehingga, hal-hal negatif yang terjadi selama PJJ dapat dihindari atau minimal terkurangi.

Pendekatan MASKER selama PJJ bisa menjadi sedikit solusi bagi guru, sekolah, dan insan-insan pendidikan untuk menjadikan pendidikan yang menyenangkan, menantang dan bermakna selama pandemi ini.

Pendekatan MASKER dapat diterapkan tidak hanya saat pandemi saja, namun pada saat normal pendekatan MASKER dapat mengoptimalkan pembelajaran sehingga kualitas proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih baik.

Penulis adalah Pengembang Labschool UNJ

Continue Reading

Opini

Otentisitas Trump dan Biden dalam Layar Raksasa Amerika

Published

on

By

Oleh: Indra J Piliang*

Channel9.id-Jakarta. Koloni Amerika Serikat didatangi oleh warga negara Eropa yang sudah “bosan” dengan monarki, kekerasan, dan “bisa jadi” agama. Mereka tidak ingin lagi dikungkung oleh darah biru, anak langit, bahkan “hukum” Tuhan. Mereka menaklukkan siluman di lautan luas di belahan selatan. Tujuh samudera masih dihuni beragam mahkluk yang dihadapi Kapten Jack Sparrow dalam Pirates of the Carribean. Pelaut-pelaut dari Spanyol, Portugis, Perancis dan Inggris bersimaharajalela. Tentu juga termasuk dari negara kecil, Belanda.

Dalam era Donald Trump yang tidak lama, dunia dibawa dalam tontonan layar raksasa. Sebagian langit  tertutup oleh kehadiran sosok ini. Sosok yang begitu pandai membingkai narasi pro dan kontra, tanpa terseret ke dalam wajah benci atau cinta. Bukan sosok yang bengis, atau kejam seperti George Bush Jr. Perjalanan sebagai selebritas kayaraya dalam kehidupannya, terhapus sudah dengan panggung yang ia bikin. Penguasaan atas majalah dan film orang dewasa dengan ribuan perempuan muda, sungguh bukan lagi ukuran moral yang diingat orang. Jutaan dollar uang menutupi cerita-cerita skandal masa lalunya tak mudah lagi dijual sebagai pukulan politik.

Bahkan, impeachment pun ia berhasil lewati. Ia berubah total menjadi pengkhotbah dalam kelompok Ku Kluk Klan. Wajah tak terlihat, tertutup jubah. Ia berhasil melindungi diri dalam fisik yang tak sempurna. Jangan coba-coba menyerang fisik seseorang di Amerika Serikat. Anda bisa berhadapan dengan begitu banyak musuh. Sebab Amerika Serikat sudah punya sejumlah presiden yang bahkan duduk di atas kursi roda.

Sejarah Amerika Serikat bisa dibaca dalam buku Alexis de Tocqueville. Namun, buku itu seolah tak hadir dalam era Trump. Trump seakan membawa perang Utara – Selatan terjadi lagi. Dan ia hampir berhasil dalam mengkerdilkan keraksaan sejarah Amerika. Utara sebagai industrialis. Selatan sebagai agraris. Utara membebaskan perbudakan. Selatan yang berisi kaum aristokrat feodal yang membuat hitam berarti warga negara kelas dua. Utara yang globalisasi. Selatan yang lokalisasi. Utara yang penuh kanal. Selatan yang dijuluri rel kereta api.

Apapun, Trump telah menaikkan lagi keunggulan ras kulit putih Amerika Serikat pada posisi yang paling terhormat. Trump mampu membuat begitu banyak selebritas kulit hitam memaki-makinya sampai hari pemilihan. Begitu telanjang sosok-sosok kulit hitam yang mempesona dunia mempertontonkan “kekejian” dari kata-kata. Tanpa harus menembak seorang Martin Luther King atau Malcolm X abad ini, Trump sudah berhasil mengeluarkan sisi yang paling busuk dan buruk dari peradalam kaum kulit hitam: beraksara berarti berdekatan dengan bahasa hewan. Keahlian Trump dalam memancing kata-kata jorok itu hampir saja membakar seluruh Amerika Serikat.

Lima bulan lalu, nasib Amerika ditentukan oleh seorang George Floyd. Dan untuk pertama kalinya saya berdoa agar Amerika tidak hancur. Jika skenario ala Floyd tetap bergerak dan berhimpit dengan kampanye presiden, apalah jadinya negara paling kuat dari sisi militer dan ekonomi itu. Tentu saya tidak bisa bayangkan.

In God We Trust. Begitu tertulis dalam dollar Amerika Serikat.

Amerika punya si gaek Joe Biden. Seorang kulit putih yang lama menjadi politisi berkarakter. Seorang yang menyediakan punggungnya untuk dipanjati Barrack Obama memimpin Amerika dan dunia. Laki-laki teguh. Seorang Khatolik yang hidup di tengah mayoritas Protestan. Seseorang yang menyimpan trauma kehadiran politisi minoritas beragama Khatolik yang lantas dibunuh, John F Kennedy. Hitam yang flamboyan, Obama, dipapah dengan sangat elegan oleh sang putih.

Seorang Khatolik tentu punya kiblat, yakni ke Vatikan. Negara kecil yang berada di tengah-tengah kota Roma. Ketika Hollywood kehabisan kisah yang berakhir dengan cerita komik the Avengers, pernah dulu kisah ala Dan Brown pun menyelinap. Tentang karya-karya Leonardo da Vinci. Katolikisme lebih mendekatkan Amerika dengan Eropa, sebagai asal-muasal para kolonis yang sudah merampas tanah-tanah orang-orang berkulit merah, kaum Indian itu. Katolikisme mampu membunuh Keamerikaan dengan Keropaan.

Protestanisme? Silakan tanya kepada Max Weber. Bagaimana Weber membongkar etika protestan dalam ekonomi dan hubungan sosial. Lihat “kebencian” Harrison Ford dalam serial film Indiana Jones kepada Jerman. Naziisme – Hitlerisme adalah Jermanisme. Dan bagaimana sejumlah sosiolog membongkar apa yang berada dibalik kapitalisme yang berarti protestanisme ala Max Weber. Peter L Berger, misalnya. Karya-karya Berger sudah dinikmati oleh intelektual era 1980-an hingga 1990an. Belum lagi Frankfurt Schools yang terkenal dengan mazhab kritisnya.

Kemana kiblat protestanisme yang dibawa ala Trump? Israelisme. Yahudi.

“Trump membawa Amerika bagi kepentingan Netanyahu. Biden? Membawa Amerika kepada kepentingan Israel!” begitu tertulis besar dalam liputan koran berpengaruh di Amerika.

Bahwa pada gilirannya Biden akan berbicara tentang Israel, pasti. Tetapi ia tak menuruti ambisi seseorang yang sudah banyak merusak hubungan Israel dengan bangsa-bangsa Arab, khususnya, dan kaum Muslim, umumnya. Biden sudah berbicara jelas tentang hubungan Amerika dengan negara-negara Arab, pun kaum muslim. Rakyat Amerika pun sudah bersuara. Untuk pertama kalinya, lebih dari separo dari kaum muslim yang mendaftar sebagai calon eksekutif dan legislatif di pelbagai tingkatan di dalam pemilihan raya minggu lalu BERHASIL duduk. Kaum muslim makin mendapat tempat dalam lembaga trias politika Amerika.

Joe Biden mampu hadir dalam usia tua. Jumlah pemilih Biden terbesar sepanjang sejarah, yakni 75 Juta Jiwa. Nanti, ketika dilantik tanggal 20 Januari 2021, Biden berusia 78 tahun.  Andai Biden dipilih 78 Juta rakyat Amerika, alangkah bekerjanya matematika dalam ilmu politik, plus segala macam ilmu ramalan bintang.

Usia siapa yang dikalahkan Biden, ketika dilantik menjadi presiden setiap tanggal 20 Januari itu? Tentu Trump: 70, Reagan: 69, George H. W. Bush: 64. Eisenhower: 62, Ford: 61, Truman: 60, Washington: 57, George W. Bush: 54, Lincoln: 52, Franklin Roosevelt: 51, Obama: 47, Clinton: 46, Kennedy: 43, dan Theodore Roosevelt: 42.

Aha? Dari 46 orang presiden Amerika Serikat, berarti hanya 15 orang yang berusia di atas 40 tahun? Itupun terbanyak dalam abad ke 20 lalu? Eitsss, jangan lupa. Berapa banyak juga yang mampu meletakkan legacy selama menjadi presiden? Apakah tuan-tuan dan puan-puan menghafal yang lain?

Saya ingat, dalam kuliah-kuliah awal di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra UI, semangat terbesar kami justru bukan kepada sejarah Indonesia. Kami berkelana. Pusat Kajian Amerika, Pusat Kajian Australia, Pusat Kajian Jepang, hingga Pusat Kajian Kewanitaan, begitu memenuhi rasa ingin tahu kami. Dan cara dosen memberikan kmi insentif adalah mendapatkan sejumlah buku berbahasa Indonesia, apabila kami berhasil mendapatkan nilai A.

Bondan Kanumuyoso – tentu kini adalah PhD lulusan Leiden University – adalah  salah satu sang juara. Saya? Lumayan. Karena koleksi buku sejarah Amerika Serikat dan Australia saya dalam bahasa Indonesia menumpuk. Saya tidak tahu, apakah itu buku benar-benar saya dapat lewat kuliah, atau mencuri punya teman saya.

Tentu satu riwayat ingin saya baca dalam satu buku kecil terbitan Kedubes Amerika, ketimbang membelanjakan begitu banyak uang dengan USAID dan Fullbright itu. Percayalah, rakyat Indonesia dan pelajar-pelajar Indonesia tidak bakal tampah pintar tentang Amerika, ketika penerima beasiswa itu balik ke Indonesia. Tak ada buku yang mereka tulis, bukan? Mereka hanya lebih bisa bercakap dalam bahasa Inggris saja, tetapi tak bercerita dalam bahasa Indonesia tentang apa itu Amerika yang mereka pelajari. Cukuplah pelajar Indonesia dibiayai dengan IndonesiaID.

Jauh lebih baik bagi Kedubes Amerika Serikat menulis kisah ini: Joe Biden, JFK, Barrack Obama, dan Hillary Clinton. Mereka minoritas yang berpolitik di Amerika Serikat. Satu berhasil dua periode, satu ditembak, satu mau dilantik, satu lagi diretas oleh mesin-mesin dari Sovyet.

Dan kalau perlu, satu tambahan cerita, dimana Moscow dalam era keempatnya? Katupkan kedua-tangan anda, berterima kasihlah kepada Leonardo di Caprio. Tanggal 11 November kemaren, ia berusia 46 tahun. Jejangan, Leonardo yang mampu “menjinakkan” Vladimir Putin dalam wawancara yang lebih kejam dan menikam dibanding Deddy Corbuzzer itu.

“Yang Mulia, Kamerad! Jika beruang kutub itu punah sampai ia harus punah. Sampai kami tak tahu ia tua dan mati dimana. Tolonglah! Jangan lagi sinyal-sinyal nirkabel dari penjara-penjara nirkabel nirfosil dan nirtitanium di Siberia menghantam mesin-mesin pemilu di Amerika. Kamerad nanti bisa melihat, beruang kutub setua apapun bisa hadir di Gedung Putih, tanpa kamipun tak lagi mempersoalkan itu!”

Saya tidak tahu, apakah Leonardo menggunakan kalimat yang lebih perkasa. Yang saya tahu, tak ada lagi teriakan “Go to your country, Moscow!” dalam aksi demonstrasi terhadap Trump, seperti bergelombang dia hadapi dalam satu-dua tahun pertama memerintah. Biden hadir dengan otentitasnya. Trump selesai pun dengan otentisitasnya.

Dengan uang sebanyak yang ia punya, tentu gadis-gadis yang tak habis, kapal pesiar, empat tahun lagi jangan-jangan ada episode Biden vs Trump Jilid Dua. Usia Trump dan Biden hanya berjarakl empat tahun.

Bisa dibayangkan bagaimana langit ditutupi lagi oleh mereka berdua. Apalagi dengan satu catatan tunggal: COVID 19 sudah punah dan berganti menjadi kisah dalam industri film Hollywood…

*Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

 

 

 

 

 

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC