Connect with us

Lifestyle & Sport

LIPI: Banyak Sampah Medis Dibuang Sembarangan

Published

on

LIPI: Banyak Sampah Medis Dibuang Sembarangan

Channel9.id-Jakarta. Limbah sampah medis infeksius tak boleh dibuang secara serampangan. Lebih-lebih bekas penanganan penyakit yang sedang jadi momok dunia alias pandemi, seperti Covid-19 ini. Pasalnya, ada kemungkinan limbah tersebut menjadi medium penularan penyakit.

Diketahui, menurut penelitian terbaru Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di titik pembuangan sampah Cilincing dan Marunda, jumlah sampah meningkat 5% setelah pandemi Covid-19. Kendati demikian, sampah berat justru menurun hingga 25%.

LIPI juga menyebutkan bahwa peningkatan limbah terjadi karena pandemi, sejak Maret 2020 lalu. Ditambah lagi, isi limbah saat ini berbeda dari sebelumnya karena adanya perubahan aktivitas, di mana di tempat pembuangan limbah ditemukan sampah APD dan masker.

Salah satu hal yang juga disorot LIPI ialah terkait limbah medis yang dibuang serampangan dan berantakan. Mereka sebut sampah infeksius ini berbahaya bagi lingkungan.

“Ini yang diamati oleh peneliti LIPI, timbunan limbah APD yang dibuang sembarangan. Di kali muara Cilincing, Marunda ditemukan limbah APD terbuat dari plastik,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI Agus Haryono di acara seminar daring yang digelar LIPI pada Selasa (16/2) lalu.

“Sekarang mulai hanya ditemukan pembuangan limbah APD yang melanggar prosedur, alat rapid test dibuang di pinggir jalan. Sampah dari kota Tangerang, yang mana ada hotel untuk karantina, dibuang ke kota lainnya. Kemudian dari rumah sakit ikut dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA),” sambung dia.

Pada pokoknya, Agus menekankan pentingnya pembuangan limbah medis sesuai prosedur. Selain itu, ia melanjutkan, dari lingkup rumah tangga pun mestinya bisa menerapkan hal serupa, seperti dalam hal membuang sampah masker.

“Caranya pisahkan sampah masker dari sampah rumah tangga lainnya. Tempatkan sampah masker dalam satu wadah. Lalu diamkan selama 6 hari sebelum dibuang dengan sampah rumah tangga lainnya. Upaya ini bisa mengurangi risiko infeksi dari limbah,” jelas dia.
(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Kebun Kurma Pasuruan, Wisatawan Memetik Sendiri

Published

on

By

Wisatawan Panen Kurma di Kebun Kurma Pasuruan

Channel9.id-Pasuruan. Pernah nggak sih kalian memetik kurma langsung dari pohonnya? Nggak perlu jauh-jauh pergi ke negara-negara Arab sih.

Karena sekarang kalian bisa lho menikmati sensasi memetik kurma di Indonesia aja. Nggak percaya?
Cobalah mampir ke wisata Kebun Kurma, yang berlokasi di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pemilik wisata kebun kurma, Rusti Widayati mengatakan, total terdapat 494 pohon kurma yang ditanam di lahan seluas 3,7 hektar ini.

Dari jumlah tersebut, sudah ada 47 pohon yang berbuah dan siap dipanen. Sedangkan yang lain masih dalam tahap berbunga yang nantinya akan menjadi buah.

“Ada yang masih muda, sehingga butuh beberapa bulan untuk bisa berbuah. Tapi di sini berbuah setiap hari,” tutur wanita yang akrab disapa Wida tersebut.

“Jadi jangan kuatir, kalau ingin lihat buah kurma langsung dari pohonnya, silahkan datang ke wisata kebun kurma,” imbuhnya.

Selain itu, menurut Wida, ada pula wahana untuk anak-anak dan keluarga. Juga ada berbagai satwa yang semakin menyemarakkan wahana wisata satu ini.

“Belum lagi Pesawat Saygon sebagai hotel dan pusat oleh-oleh, dan kolam ikan khusus terapi,” terangnya.

Katanya sih, di sini hampir setiap hari ratusan pohon kurma tumbuh dan berbuah dengan sangat lebat.
Pengunjung mengaku bahwa baru pertama kali memetik kurma langsung dari pohonnya. Ia juga menambahkan, jika wisata petik kurma hanya ada di Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Wisata Kebun Kurma.

“Pasti banyak juga yang belum pernah memetik buah kurma dari pohonnya. Biasanya memang kita hanya membeli di took atau pasar ketika Ramadhan atau lebaran. Tapi ini kita petik sendiri, ya senang sekali,” ujarnya dikutip dari Humas Kabupaten Pasuruan.

Selesai memetik, pengunjung pun langsung mencicipi 2 jenis kurma yang dinamai Kurpas atau Kurma Pasuruan. Meski sama-sama kurma, tapi kurma barhe lebih manis dibanding kurma jenis lulu. “Lebih enak kurma Barhe. Buahnya lebih besar dan lebih manis,” jelasnya.

Hadirnya Wisata Kebun Kurma ini tentu memberikan banyak pilihan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Pasuruan. Khususnya yang tertarik ingin memetik kurma langsung dari pohonnya.

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Stres Picu Emotional Eating, Atasi dengan Hal Ini

Published

on

By

Stres Picu Emotional Eating, Atasi dengan Hal Ini

Channel9.id-Jakarta. Sebagian orang punya nafsu makan yang lebih tinggi saat sedang stres. Hal ini dikenal dengan emotional eating.

Dalam jangka panjang, emotional eating bisa berdampak pada keseharianmu, utamanya kesehatan. Berat badanmu pun cenderung menaik seiring berjalannya waktu. Terlebih, saat stres, seseorang cenderung memilih makanan secara sembarangan seperti makanan cepat saji.

Meski begitu, ada sejumlah tips yang bisa Kamu lakukan untuk mengatasi emotional eating. Berikut ini tipsnya.

1. Kenali pemicu makan berlebihan
Mula-mula, Kamu harus mengidentifikasi pemicu mengapa nafsu makanmu meluap meski perut tak lapar. Kamu bisa membuat catatan untuk membantu mengidentifikasi hal ini. Atau, Kamu juga bisa berkonsultasi dengan psikolog dan mencari cara untk mengatasi kebiasaan makan berlebihan.

Umumnya, selain karena lapar, nafsu makan berlebihan disebabkan oleh bosan, stres, dan depresi. Jika bosan, sebaiknya cari hal menarik untuk mengisi waktu kosong, seperti menonton film, bukannya makan. Lalu jika stres, Kamu bisa melakukan yoga, bermeditasi, atau jalan-jalan untuk mengatasi emosi. Sementara saat depresi, cobalah untuk mencari teman untuk bicara, berjalan keliling kompleks—tak lupa protokol kesehatan Covid-19, atau jika tak kuasa menahan depresi, konsultasikan dengan psikolog.

2. Ngemil buah-buahan dan kacang-kacangan
Bukan cuma makanan cepat saji, saat stres, Kamu biasanya ingin makan makanan yang manis. Sebagai gantinya, cobalah mengonsumsi buah-buahan yang mengandung gula alami. Dengan demikian, risiko berat badan naik bisa diminimalisasi.

Makanan sehat lainnya yang bisa menjadi pilihan yaitu kacang-kacangan, seperti kacang mete hingga kacang almond. Selain rendah kalori, mereka kaya akan lemak baik dan serat, serta membantu mengatur gula darah.

3. Minum teh hitam
Kadar hormon kortisol akan meningkat saat Kamu sedang stres. Kondisi ini pula yang menyebabkan nafsu makanmu meningkat. Tanpa kontrol yang tepat, berat badanmu bisa naik. Nah, salah satu upaya untuk mencegah hal ini terjadi ialah dengan mengonsumsi segelas teh hitam. Teh ini bisa mengurangi kadar kortisol di tubuh.

Selain itu, selingi dengan melakukan teknik pernapasan ringan. Cobalah untuk menjaga jarak dari gawaimu dan manfaat waktu luang yang Kamu punya untuk sejenak beranjak dari rutinitas harian. Hal ini bisa membantumu mengendalikan hormon kortisol yang meningkat karena stres.

4. Olahraga
Rutin berolahraga juga ampuh mengendalikan produksi hormon kortisol. Pasalnya, olahraga justru akan memicu produksi hormon yang membikin Kamu merasa bahagia seperti endorfin. Selain itu, aktivitas ini jga turut membantu mengurangi risiko depresi, kecemasan, dan insomnia, di samping mengurangi kecenderungan untuk emotional eating.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan Meski Tak Bertemu

Published

on

By

Tips Merawat Hubungan dengan Pasangan Meski Tak Bertemu Karena Pandemi

Channel9.id-Jakarta. Sudah setahun terlewati, pandemi Covid-19 belum berakhir juga. Sebagaimana telah diketahui, situasi ini berdampak terhadap segala sektor kehidupan masyarakat di dunia, dari ekonomi, sosial, hingga politik.

Bahkan, hubungan percintaan dan asmara seseorang pun bisa terkena dampaknya. Khususnya, bagi mereka yang belum menikah dan tak tinggal satu atap. Kamu mungkin mengalaminya.

Kondisi pandemi ini membikin hubungan percintaan dua insan tak ubahnya seperti menjalani hubungan jarak jauh alias LDR. Menurut penelitian dari University of San Fransisco, konflik sering terjadi pada mereka yang menjalani LDR lantaran kedekatan fisik yang kurang, sehingga merasa hubungan tak aman.

Sebelum pandemi, Kamu mungkin rutin bertemu pasanganmu setiap minggu. Namun, karena physical distancing saat pandemi, agenda pacaranmu jadi terganggu sehingga jarang bertemu. Namun, komunikasi tak langsung melalui layanan perpesanan atau telpon terkadang memicu perselisihan, yang bahkan bisa membikin hubungan kandas. Sayangnya, untuk sekadar bertemu langsung dan menyelesaikan masalah, sangat berisiko untuk Kamu dan pasangan—menimbang penularan Covid-19 yang begitu cepat.

Nah, untuk mempertahankan hubungan di situasi seperti ini, salah satu kuncinya yaitu meminimalisasi konflik dengan pasangan. Untuk itu, cobalah untuk melakukan tips berikut.

1. Sepakat berkomunikasi di waktu tertentu
Menentukan jadwal kapan Kamu dan pasangan harus berkomunikasi menjadi salah satu tips agar hubungan tetap awet dan jauh dari konflik.

Cobalah mencari waktu di mana kalian sama-sama sedang lowong. Misalnya, setelah kalian berdua menuntaskan pekerjaan. Manfaatkan waktu ini untuk sekadar menelepon.

2. Fokus pada kualitas komunikasi
Satu hal penting, cobalah untuk fokus dan prioritaskan kualitas. Mestinya, kualitas komunikasi pasangan di masa pembatasan sosial ini lebih baik, dibandingkan sebelumnya.

Pasalnya, berkomunikasi di situasi seperti ini ialah hal yang berharga. Jadi, mesti benar-benar dimanfaatkan. Topik yang dibicarakan pun semakin luas karena Kamu dan pasangan sulit bertemu.

3. Percaya kepada pasangan
Adapun kunci hubungan agar tak melulu berselisih dan tetap awet ialah percaya pada pasangan.

Tentu Kamu tak bisa melihat langsung apa yang dilakukan oleh pasangan karena tak bisa bertemu langsung. Kamu merasa tak aman atau insecure. Misalnya, Kamu berpikir pasanganmu berkomunikasi dengan orang lain saat dirinya tak kunjung meresponsmu saat dihubungi.

Namun, membangun kepercayaan satu sama lain adalah hal krusial dalam hubungan. Hal ini menjadi faktor penting untuk membuat hubungan terus awet.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC