Lulu Tobing Ungkap Peran sebagai Dewi Ibu Rumah Tangga di Film ‘Menang untuk Kalah’
Lifestyle & Sport

Lulu Tobing Ungkap Peran sebagai Dewi Ibu Rumah Tangga di Film ‘Menang untuk Kalah’

Channel9.id-Jakarta. Membintangi sebuah film tentu ada kesan tersendiri. Demikian dengan Lulu Tobing kembali menyapa pencinta sinema Indonesia melalui film drama keluarga “Menang Untuk Kalah”. Dalam film garapan sutradara Hasto Broto tersebut, Lulu memerankan sosok Dewi, ibu rumah tangga yang berusaha menjaga keluarganya di tengah berbagai keterbatasan.

Dewi digambarkan sebagai istri yang memiliki harapan besar terhadap rumah tangganya. Ia berusaha mengurus keluarga dengan sebaik mungkin, dengan dukungan sang ibu yang selalu berada di dekatnya.

“Saya jadi Dewi, istrinya Bima. Istri yang mengurus segalanya, dibantu oleh ibu kandungnya. Satu kata untuk karakter saya, mimpi,” kata Lulu Tobing di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (19/9/2026).

Bagi Lulu, karakter Dewi merepresentasikan sosok perempuan yang memiliki impian dan harapan terhadap kehidupan rumah tangganya. Namun, ketika masalah datang, keluarga menjadi tempat pertama untuk saling menguatkan.

“Dewi itu seperti banyak istri pada umumnya. Punya impian, punya tuntutan, harapan-harapan dari suaminya. Dan ada nilai idealnya untuk keluarga. Tapi menurut saya keluarga itu rumah, keluarga itu P3K. Pertolongan pada kesulitan, kesusahan,” urai Lulu Tobing.

Sementara itu, Surya Saputra dipercaya memerankan Bima, suami Dewi sekaligus pencari nafkah utama keluarga. Karakter itu digambarkan sebagai sosok ayah yang berusaha melakukan berbagai cara demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang dicintainya.

“Saya menjadi Bima. Dia ini mewakili setiap perjuangan laki-laki yang ada di dunia mungkin. Bahwa kita akan melakukan yang terbaik untuk orang yang kita sayang. Satu kata untuk Bima, maaf,” ujar Surya.

Guna membangun emosi para cast, sutradara Hasto Broto menerapkan pendekatan realistis dalam proses produksi. Salah satunya dengan meminta Surya Saputra tidak tidur selama 24 jam demi mendapatkan ekspresi alami dalam salah satu adegan penting.

“Tidak banyak treatment sih, karena pemain semua memiliki rasa. Dan mereka memahami isi cerita, terutama permintaan saya khusus buat Bima. Karena saya butuh lebih kepada ekspresi, fisik, ada satu scene yang saya buat khusus untuk tidak tidur selama 24 jam. Saya bilang jangan tidur, karena saya butuh ekspresi dia tanpa make up. Terima kasih untuk semua pemain yang sudah totalitas di film ini,” tutur Hasto Broto.

Surya mengakui adegan tersebut menjadi salah satu bagian yang cukup menguras emosi. Terlebih, adegan itu menjadi bagian penting dalam perjalanan karakter Bima ketika berada dalam kondisi tertekan.

“Adegan itu diminta sama Pak Hasto dan emang berpengaruh sekali. Itu adegan puncak, saat lihat saya lagi marah-marah dan hancur. Dan hari itu ekstra, karena Persib baru menang. Dan kita ketegangannya luar biasa. Dalam keadaan begitu, harus tetap jaga emosi. Untungnya Pak Hasto dari awal memberikan ruang dan kasih arahan yang tegas. Jadi lancar sih,” kata Surya Saputra.

Selain menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat, film ini juga ditopang oleh lagu yang lirik-liriknya menyatu dengan adegan serta relate terhadap perasaan banyak orang. Di antaranya Band Sound of Panca yang mengisi 11 lagu dari 16 original sound track yang ada.

‘Menang Untuk Kalah’ dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 19 November 2026. Film ini membawa persoalan keluarga dan tekanan finansial sebagai bagian dari refleksi tentang pentingnya komunikasi serta keterbukaan dalam rumah tangga.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

17  +    =  27