Connect with us

Nasional

Mendagri: Pilkada Serentak 2020 Harus Aman

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan Pilkada harus aman dari gangguan konvensional dalam bentuk konflik , kekerasan, money politic maupun pelanggaran pidana lainnya. Selain itu Pilkada juga harus aman dari penyebaran Covid-19.

Hal itu disampaikannya saat memberikan sejumlah arahan pada Apel Pergeseran Pasukan Dalam Rangka Pengamanan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Polda Sulawesi Utara pada Jum’at, (4/12/2020).

“Kita harus bekerja keras, keberhasilan kita untuk menjaga agar gangguan konflik dan lain-lain termasuk kerumunan dalam jumlah besar yang bisa menjadi media penularan Covid-19, dua hari ini (sisa masa kampanye) harus kita jaga jangan sampai terjadi, khususnya di Sulut”, tegasnya.

Baca juga: Mendagri Tito: Aparat Tindak Tegas Pelanggaran Prokes Pilkada 

Pada saat tahap pelaksanaan pemungutan suara, sambung Tito, seluruh rangkaian kegiatan harus diatur agar aman dari Covid-19. Di antaranya Tempat Pemungutan Suara (TPS) tidak lebih dari 500 orang, pemilih akan diatur sesuai jam, yaitu pukul 07.00-13.00 waktu setempat. Kemudian, petugas TPS harus dilengkapi alat pelindung diri (APD) Covid-19. Di TPS pun harus disediakan masker dan tempat cuci tangan.

“Pemilih yang sudah menggunakan hak pilihnya tidak boleh berkumpul di TPS, yang ada hanya saksi-saksi, saksi pasangan calon, saksi dari partai, sehingga transparansi tetap ada dan petugas TPS pun harus mendokumentasi, saksi juga boleh mendokumentasi, merekam, tapi yang lain harus kembali supaya tidak terjadi kerumunan,” terangnya.

Terkait pengamanan dan logistik, Tito meminta kepada seluruh jajaran TNI-Polri untuk mengawal, berkoordinasi dan bersinergi dengan penyelenggara, baik itu KPU-Bawaslu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) maupun Perlindungan Masyarakat (Linmas).

“Amankan betul agar tidak terjadi gangguan konvensional, kekerasan, intimidasi, money politic, serangan fajar dan lain-lain, kawal tahapan dari mulai pengangkutan kotak suara, pencoblosan, perhitungan suara, sampai pengamanan setelah pemungutan suara,” imbuhnya.

Namun demikian, Tito mengimbau TNI-Polri selalu menggunakan pendekatan persuasif dan tidak menggunakan kekerasan dalam meredam konflik yang terjadi selama Pilkada.

“Jangan langsung mengambil tindakan kekerasan, gunakan cara persuasif. Kalau terjadi pelanggaran gunakan secara proporsional sesuai dengan tingkat ancamannya,” tandasnya.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasional

Jokowi Sebut Vaksinasi adalah Game Changer

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Pengendalian pandemi melalui vaksinasi adalah kunci utama yang sangat menentukan agar keadaan bisa kembali normal. Kesehatan masyarakat diharapkan akan segera pulih dan perekonomian segera bangkit kembali. Awal tahun 2021 diyakini akan menjadi titik balik permasalahan pandemi yang melanda sejak tahun lalu.

Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada acara pertemuan tahunan industri jasa keuangan tahun 2021 yang digelar secara virtual, di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/01).

“Pengendalian pandemi terutama melalui vaksinasi adalah game changer, adalah kunci yang sangat menentukan agar masyarakat bisa bekerja kembali, anak-anak kita bisa belajar di sekolah lagi, agar kita bisa kembali beribadah dengan tenang, dan juga agar perekonomian nasional kita segera bangkit,” ujarnya.

Baca juga: Satgas Tegaskan Tujuan Program Vaksinasi Tercapainya Herd Immunity 

Seperti diberitakan sebelumnya, program vaksinasi Covid-19 gratis bagi seluruh rakyat Indonesia secara resmi telah dimulai dua hari lalu, Rabu (13/1).

“Ini adalah sebuah langkah penting, langkah bersama kita untuk membawa bangsa kita keluar dari pandemi, memberikan perlindungan kesehatan dan keselamatan pada rakyat, serta akan mempercepat pemulihan ekonomi nasional secara cepat,” jelasnya.

Jokowi menginstruksikan jajarannya agar program vaksinasi dapat rampung pada 2021. “Saya telah perintahkan agar proses vaksinasi kepada 181,5 juta rakyat Indonesia bisa diselesaikan sebelum akhir tahun 2021 ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut Jokowi menjelaskan, pemerintah juga telah mengamankan 426 juta dosis vaksin untuk rakyat yang berasal dari empat perusahaan dan negara yang berbeda.

“Vaksin akan datang sebanyak kurang lebih 3 juta di bulan Januari, 4,7 juta di bulan Februari, 8,5 juta di bulan Maret,16,6 juta di bulan April, 24,9 juta di bulan Mei, dan 34,9 juta di bulan Juni,” tandasnya.

Continue Reading

Nasional

Peristiwa Malari Menjadi Milestone Gerakan Sosial di Indonesia

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Di Indonesia, 15 Januari 1974 dikenal suatu peristiwa yang disebut Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari.

Husein P Sasongko, yang pernah menjabat Sekjen Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DMUI) pada periode 1973-1974, mengaku tak terima dengan penyebutan ‘Malari’.

“Tapi itu proyek pembakaran Malapetaka Republik Indonesia atau RI. Itu bukan buatan mahasiswa, itu mereka sendiri, si rezim itu sendiri di bawah kepemimpinan Soeharto. Operatornya mungkin Mo dan gangnya. Yang jelas bukan mahasiswa,” lanjut dia di acara diskusi daring “Menengok Masa Lalu, Membaca Masa Depan: Sebuah Percakapan Seputar Peristiwa 15 Januari 1974”, Jumat (15/1).

Diketahui, selama peristiwa Malari terjadi kerusuhan di beberapa titik aksi di Jakarta, salah satunya di kawasan Pasar Senen. Di sini terjadi pengrusakan dan pembakaran terhadap gedung-gedung, toko, hingga mobil dan motor. Kerusuhan ini diduga didalangi oleh rezim sendiri.

Menurut Husein, nama ‘Malari’ itu ibarat ‘Gestapu’ tahun 1965 “Pemerintah ingin memberi stigma bahwa mahasiswa itu sejenis penyakit seperti malaria yang menular,” imbuhnya.

Bertolak ke masa lalu, ia memaparkan bahwa kondisi Indonesia menjelang 1974 sudah parah. “Korupsi merajalela, pemerintah menjadi diktator, militeristik, dan konglomerat mulai kelihatan pengaruhnya di mana-mana. Karenanya, para pemuda menggelar pertemuan dan memutuskan untuk melakukan sesuatu—dimulai dengan membuat petisi,” tutur Husein.

Lantas, pada 24 Oktober 1973—beberapa bulan sebelum terjadi Malari, rilislah sebuah petisi—yang kemudian dikenal sebagai Petisi 24 Oktober.

Petisi tersebut berisikan sejumlah tuntutan kepada pemerintah Orde Baru, di antaranya: meninjau kembali strategi pembangunan dan menyusun satu strategi yang seimbang di bidang-bidang sosial, politik, dan ekonomi—yang anti kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan; bebaskan rakyat dari ketidakpastian dan pemerkosaan hukum, merajalelanya korupsi dan penyelewengan kekuasaan, kenaikan harga, dan pengangguran.

Namun, setelah petisi dibuat, pemerintah tetap tak menggubris. Kemudian terjadi gelombang gerakan pemuda dari berbagai kampus di Indonesia, baik di dalam maupun luar Pulau Jawa.

“Nah, puncak aksi itu 15 Januari 1974. Kita memang mengerahkan massa, karena kita ga didenger, meski sudah lahir Petisi 24 Oktober,” kata dia.

Milestone gerakan sosial
Anis Hidayah dari Migrant Care melanjutkan bahwa peristiwa 15 Januari 1974 merupakan peristiwa penting yang menjadi milestone terkait bagaimana gerakan sosial di Indonesia berdinamika hingga hari ini.

“Menurut Saya, spirit penting dari Malari adalah perlawanan. Ini tentang keberpihakan suatu perjuangan rakyat yang mengalami ketidakadilan karena otoriterianisme, militerisme, dan sebagainya,” tuturnya, di kesempatan yang sama.

Anis mengatakan bahwa semangat perlawanan semacam itu juga selalu saja muncul di kalangan rakyat, khususnya pemuda, pada hari ini. “Misalnya tahun lalu menolak RUU KPK hingga terbaru, menolak Omnibus Law,” ujarnya.

Qomarun Najmi, Sekti Muda dan Serikat Petani Indonesia, kemudian menambahkan bahwa perlawanan atau perubahan sejatinya harus dimulai oleh pemuda.

Namun, menurutnya, untuk membuat perubahan, seharusnya tak hanya secara politik tetapi juga secara sosial dan ekonomi.

“Mula-mula, kita perlu membangun gerakan ini dari bawah. Kita mulai dari demokratisasi pengetahuan dulu, sebelum demokratisasi politik dan ekonomi,” tandasnya.

Continue Reading

Hot Topic

Jabar 3.095 Kasus Baru Covid-19, Lewati DKI

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Kasus baru Covid-19 masih terus menunjukkan penambahan signifikan. Bahkan, pada hari ini, Jumat (15/01) jumlah kasus baru Covid-19 menembus angka lebih dari 12 ribu.

Berdasarkan data dari Satgas Covid-19 data pada Jumat 15 Januari 2021, terdapat penambahan 12.818 orang. Sehingga total akumulatifnya ada 882.418 orang di Indonesia terkonfirmasi positif Covid-19.

Baca juga: Rekor Lagi, Kasus Baru ovid-19 Tembus 12 Ribu 

Kali ini, Jawa Barat menyumbang pasien positif Covid-19 tertinggi dengan penambahan 3.095 pasien. Disusul DKI Jakarta yang menyumbang 2.541 kasus baru Covid-19.

Berikut 5 provinsi dengan kasus baru Covid-19 tertinggi pada Jumat, 15 Januari 2021:

  1. Jawa Barat: bertambah 3.095
  2. DKI Jakarta: bertambah 2.541
  3. Jawa Tengah: bertambah 1.993
  4. Jawa Timur: bertambah 1.198
  5. Sulawesi Selatan: bertambah 649
Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC