Connect with us

Opini

Menyambut Tamu Agung

Published

on

Oleh: Dr. H. Uswadin, M.Pd.

Channel9.id – Jakarta. Kehadiran tamu agung yang ditunggu umat muslim sedunia sebentar lagi akan datang di rumah-rumah dan lingkungan kita serta akan membersamai sebulan lamanya. Kita tentunya sudah mempersiapkan hadirnya tamu agung dengan memantas-mantaskan pribadi dan hati serta lingkungan tempat tinggal dan tempat ibadah kita.

Sebagaimana akan datangnya orang terpenting di dunia maka segala sesuatu akan dipersiapkan dengan sebaik-baiknya untuk menyambut kehadirannya. Apalagi tamu yang akan datang ini banyak memberikan hadiah dan kebaikan-kebaikan bagi yang menyambutnya.

Pribadi muslim yang baik pasti sangat menanti datangnya tamu agung tersebut, tamu yang sangat istimewa, yang dapat merubah amal biasa semua menjadi pahala, dan yang pahala akan dilipatganda, bahkan dalam satu malamnya bisa seribu bulan lebih kebaikannya.

Ramadhan, tamu agung yang didamba umat, ditunggu datangnya dan disemarakkan kehadirannya dengan kesibukan umat untuk lebih mendekat kepada Rabb-nya. Magnet Ramdhan yang sangat luar biasa sehingga menarik hamba-hamba untuk mudah dan ringan kaki melangkah menuju rumah ibadah, yang pada saat di luar Ramadhan sangat berat dan susah untuk melangkah. Kebaikan-kebaikan umat pun tersebar dan bergerak serentak seolah ditiup dan didorong oleh angin kebaikan untuk berbagi dan peduli kepada sesama.

Inilah Ramadhan, tamu agung yang membawa keistimewaan dan kebaikan bagi orang-orang yang mau dan mampu berinteraksi secara baik dengannya. Menyambutnya pun sudah merupakan pahala yang besar apalagi dengan menghidupkan syiar-syiar Ramadhan 1442 H. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh An Nasa’i dinyatakan bahwa: Barang siapa yang bergembira akan hadirnya bulan Ramadhan, maka jasadnya tidak akan tersentuh sedikit pun oleh api neraka.” (HR An Nasa’i)

Bergembira menyambut Ramadhan sudah mendapat ganjaran yang besar, yaitu akan dijauhkan dari api neraka. Apalagi setelah menyambut kita membersamai selama satu bulan akan mendapat kebaikan yang lebih banyak. Salah satu amalan ibadah yang datang bersamaan dengan Ramadhan adalah puasa wajib sebagai salah satu pilar dari rukun Islam yang lima. Dalam surat Al Baqarah ayat 183, berfirman yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS: 2 : 183)

Goal atau tujuan dari puasa adalah mencapai derajat taqwa sebuah derajat tertinggi yang Allah akan berikan kepada hamba-hambaNya. Allah berfirman bahwa “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu” (QS 49: 13). Sehingga idealnya setelah melalui pendidikan/kuliah di kampus Ramadhan, maka umat Islam pada Idul Fitri akan diwisuda sebagai hamba yang bertakwa. Menjadi pribadi yang lebih dan berkualitas daripada sebelumnya.

Ramadhan selain bulan penuh kebaikan, Ramadhan adalah bulan yang sangat penuh dengan ujian. Ujian kesabaran, ujian keimanan, ujian kelaparan, ujian kehausan, dan berbagai ragam ujian lainnya.

Pada masa pandemi Covid-19 ini Ramadhan akan lebih bermakna karena kita semua sedang mengalami ujian sesungguhnya. Kita harus memakai masker, sebagai isyarat agar kita tidak berkata-kata yang kotor atau menyakiti hati orang lain. Menjaga jarak, agar kita memaknai tidak mudah bergunjing dengan sesama di bulan Ramadhan serta sering mencuci tangan, yang mengandung makna agar tangan kita selalu terjaga dari perbuatan-perbuatan kotor dan tercela.

Pandemi mengajari agar kita benar-benar melaksanakan ibadah dengan baik dan memberikan dampak yang baik bagi yang menjalankannya. Karena banyak orang yang berpuasa, namun dampaknya hanya merasakan lapar dan haus semata. Tidak ada dampak sosial yang signifikan untuk kebaikan masyarakat atau lingkungannya yang muncul karena kesalehan diri setelah berpuasa. Rasulullah SAW dalam suatu hadits bersabda, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Thabrani).

Berpuasa Ramadhan di masa Pandemi akan lebih melatih kita untuk benar-benar memanfaatkan waktu dengan baik dan bermanfaat. Kita tinggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat selama menjalankan ibadah di bulan Ramadhan, selain dapat meningkatkan imunitas tubuh juga bermanfaat untuk meningkatkan kualitas puasa ramadhan kita. Surat Al Muminun ayat 3 mengingatkan kita agar kita meninggalkan hal-hal yang tidak baik “dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (QS 23: 3).

Mari kita sambut bulan Ramadhan sebagai tamu agung kita semua dengan mengisi dan menghidupi serta membersamai dengan amal-amalan terbaik kita dalam rangka memperkuat hablun minnas dan hablun minallah sehingga kita dapat bersama-sama menghadapi Ujian Pandemi Covid-19 ini dengan baik dan tentunya dengan disertai doa-doa berupa ikhtiar batiniah disamping ikhtiar lahiriah agar dunia dapat kembali normal. Pemerintahpun telah memberikan kesempatan kepada umat Islam Indonesia untuk menyemarakkan dan mensyiarkan Ramadhan,  tentunya dengan menggunakan syarat-syarat dan protokol kesehatan yang ada.

Semoga tamu agung yang akan datang dan akan kita sambut bersama membawa keberkahan dan keselamatan serta kebaikan untuk umat manusia di dunia.

Wallahualam bi shawab

Penulis adalah Ketua Bidang Pendidikan dan Kebudayaan PW ISNU DKI Jakarta

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Kenaikan Isa Almasih di Hari Idul Fitri

Published

on

By

Oleh: Dr. USMAR. SE.,MM

Channel9.id – Jakarta. Berdasarkan hasil Sidang Isbat oleh Kementerian Agama RI yang dilaksanakan pada, Selasa 11 Mei 2021 memutuskan Hari Raya Idul Fitri atau 1 Syawal 1442 Hijriah di Indonesia jatuh pada Kamis 13 Mei 2021.

Idul Fitri adalah hari raya yang dirayakan oleh umat Islam sebagai simbol hari kemenangan setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan selama sebulan penuh.

Dan yang menarik, pelaksanaan hari raya Idul Fitri hari Kamis 13 Mei 2021 tersebut bersamaan dengan waktu perayaan Peringatan Kenaikan Isa Almasih.

Idul Fitri

Idul Fitri Sebagai puncak dari pelaksanaan ibadah puasa, pada dasarnya adalah ekpresi dan manifestasi kebahagiaan dan perayaan simbol kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh.

Meski ada rasa senang dan bergembira untuk menyambut hari kemenagan, tetapi disisi lain ada rasa sedih, karena akan ditinggalkan oleh bulan Ramadhan yang penuh berkah, maghfiroh dan Rahmat Allah SWT.

Banyak hal yang dapat diperoleh setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan selama satu bulan penuh.

Kita dapat memiliki pengalaman rasa lapar, yang sering dialami oleh kaum miskin tak berpunya.

Juga kita dapat belajar mengendalikan nafsu duniawi, dan menaikkan tingkat kesabaran dan ketakwaan kita, ditengah keterbatasan dan pembatasan yang dapat membatalkan puasa. Dan tentunya, semua itu akan bermuara meningkatkan kepekaan sosial kita dalam peradaban kehidupan ini.

Adapun tujuan utama dari menjalankan ibadah puasa adalah untuk meningkatkan ketaqwaan kita atas apa yang diperintahkan Allah SWT. Artinya menjalankan puasa adalah wujud kepatuhan kita secara Vertikal kepadaNYA atau hablum minallah

Karena itu Idul Fitri dapat kita maknai secara umum adalah kembalinya kita kepada keadaan Suci, dalam artian terbebas dari dosa-dosa kepada Allah subhanahu wata’ala, namun TIDAK serta merta membebaskan kesalahan dan dosa kita secara sosial, atau persoalan hubungan sosial kita sesama umat manusia atau hablum minannas.

Jadi karena persoalan dan urusan duniawi antar manusia dengan manusia, adalah tanggung jawab personal antar manusia itu sendiri, maka spirit puasa bulan Ramadhan adalah bagaimana kita dapat memiliki kepekaan sosial yang lebih baik dalam menghargai manusia dan kemanusiaan.

Kenaikan Isa Almasih

Peringatan Kenaikan Isa Almasih, adalah satu diantara lima hari besar penting bagi umat Nasrani, yang wajib di peringati secara khidmat, yaitu *Hari Natal, Hari Jum’at Agung, Hari Paskah, Hari Kenaikan Isa Almasih dan Hari Pentakosta.

Sesungguhnya ke lima hari besar tersebut, merupakan rangkaian peristiwa, mulai dari kelahiran Isa Almasih hingga hari penggenapan Roh Kudus yang dijanjikan oleh Isa Almasih.

Karenanya dapat dipahami jika Kenaikan Isa Al Masih atau Kenaikan Yesus Kristus diperingati oleh semua umat Nasrani, baik itu Kristen Katolik maupun Kristen Protestan.

Kenaikan Isa Al Masih diperingati pada 39 hari setelah Minggu Paskah, atau 40 hari setelah Sabtu Paskah, atau 41 hari setelah Jumat Agung.

Sedangkan seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa di tahun ini, Hari Paskah jatuh pada Minggu tanggal 4 April 2021. Maka 39 hari setelahnya, adalah tanggal 13 Mei 2021, merupakan Hari Kenaikan Isa Al Masih.

Peristiwa kenaikan Isa Almasih terjadi 40 hari setelah Paskah, adalah sebuah peristiwa dimana Isa Almasih terangkat naik ke langit kemudian hilang dari pandangan tertutup awan, untuk menuju Surga sebagai pemuliaan Yesus setelah kematian dan kebangkitan-Nya

Dan Kenaikan itu disaksikan murid-murid-Nya, seperti dicatat Perjanjian Baru. Setelah kenaikan itu, umat kristiani yakin Yesus atau Isa Al Masih masih akan datang kembali pada hari Kiamat kelak.

Memaknai Dua Peristiwa Besar

Perayaan Idul Fitri bertepatan dengan Kenaikan Isa Almasih, adalah suatu peristiwa besar dan langka.

Menurut Peneliti di Pusat Sains dan Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Andi Pangerang Hasanuddin Peristiwa seperti ini hanya pernah terjadi pada tahun 1727 Masehi dan 1139 Hijriah.

Setelah tahun 2021 ini, maka kejadian serupa akan terulang lagi di tahun 2248 Masehi atau 1676 Hijriah atau sekitar 227 tahun lagi.

Jadi kita yang hidup saat ini, mendapat keberuntungan untuk menyaksikan dan mengalami peristiwa besar dan langka ini, karena tidak setiap generasi yang dapat mengalaminya.

Karena itu memaknai hikmah dari kejadian besar dan langka ini, sebagai pembelajaran dari Allah SWT, bahwasannya pada satu titik, hakekatnya seluruh isi alam itu dan umat manusia khususnya adalah sama-sama sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Karena itu sebagai umat Islam kita memaknai idul fitri, sebagai simbol kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, dapat terus meningkatkan kesalehan sosial kita, dengan terus menjalin kebersamaan dengan saudara yang seiman maupun yang lainnya dalam perspektif kemanusiaan.

Dari perspektif peristiwa kenaikan Isa Almasih, umat Nasrani dapat memaknainya bahwa Kenaikan Yesus ke surga memperkokoh keyakinan mereka bahwa adanya kehidupan setelah kematian. Dan sesuai dengan janji Yesus, bahwa dia tidak akan pergi dan akan terus menyertai mereka yang beriman. Selamat idul fitri 1442 Hijriah dan Selamat memperingati Kenaikan Isa Almasih tahun 2021.

Penulis adalah Ketua LPM Universitas Moestopo (Beragama) Jakarta dan Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasonal (LKN)

Continue Reading

Opini

Memaknai Idulfitri di Masa Pandemi

Published

on

By

Oleh:  Dr. H. Uswadin, M.Pd.

Channel9.id – Jakarta. Idul Fitri merupakan momen kemenangan seorang muslim setelah berjuang selama satu bulan melawan hawa nafsu melalui tarbiyah yang dilakukan selama Ramadan. Perjuangan yang tidak mudah ibarat mengikuti sebuah pendidikan dan latihan (diklat) kedisiplinan dan diklat penumbuhan jiwa sosial dan jiwa spiritual yang sangat intensif.

Keberhasilan diklat akan diketahui setelah proses diklat usai. Kehidupan nyata yang harus dijalani lebih lama dari proses waktu diklatnya itu sendiri. Ibarat satu berbanding sebelas maka selama sebelas bulan itulah hakikatnya kita akan memetik dan mengetahui diklat yang telah dijalani.

Ramadan telah mengajari kita untuk dekat kepada ilahi,  dekat dengan kitab suci,  mudah berintrospeksi diri, menumbuhkan jiwa berbagi dan peduli, dan puasa latihan pengendalian diri.

Pasca ramadan kita telah diwisuda sebagai alumni diklat ramadan melalui momen Idul Fitri yang ditandai dengan Shalat dan khutbah Iedul Fitri sebagai ritual wisuda sesunngguhnya. Ada pesan pesan penting wisuda yang disampaikan oleh khatib pada awal pagi syawal sebagai awal perjuangan sesungguhnya agar tidak lupa dan dilupakan oleh peserta diklat.

Pesan silaturahmi dan saling memaafkan adalah hal yang utama, karena dalam interaksi hablun minnas pasti terjadi salah dan khilaf baik di sengaja maupun tidak. Dan memaafkan sesama manusia ini bukan digaransi oleh Allah namun harus dilakukan oleh manusia itu sendiri. Allah hanya mengampuni dosa dosa hambaNya yang bersifat vertikal, hablun minallah.

Inilah hakikat kemanusiaan sesungguhnya yang harus berinteraksi dan bersosialisasi sebagai kodrat mahluk sosial yang kadang terjadi disharmonisasi dalam pelaksanaan sehingga kadang ada yang tersakiti atau yang tersinggung. Disinilah kesalahan mungkin sengaja atau tidak sengaja dilakukan oleh manusia.

Silaturahmi dan saling memaafkan dalam suasana normal dapat dilakukan dengan saling berkunjung dan berjabat tangan namun pada masa pandemi hal tersebut bisa dapat menjadi potensi penularan covid-19 sehingga silaturahmi dapat dilakukan secara tidak langsung melalui telepon, whats app, media sosial, zoom atau pertemuan virtual lainnya. Pemerintah pun membuat aturan larangan mudik atau pulang kampung dalam lebaran ini sehingga tidak muncul klaster klaster baru serta tren kurva covid yang mulai melandai tidak naik lagi dan pada akhirnya bisa selesai seratus persen.

Kerjasama dan saling bantu dalam pengendalian Covid 19 ini sangat diperlukan, sejarah membuktikan hanya dengan persatuan dan kebersamaan, kita dapat menghadapi segala ujian dan rintangan.

Pendidikan kedisiplinan yang dijalani selama ramadan hendaknya pula mengimbas dalam praktik kehidupan keseharian. Siapapun apakah seorang guru, pegawai, pedagang, buruh, militer, atau pengusaha harus menerapkan sikap disiplin dalam tugas. Tanpa takut dengan sanksi atau perlu diawasi petugas maka dengan waskat (pengawasan melekat atau pengawasan malaikat) sesorang akan takut melakukan pelanggaran dan patuh dalam menjalankan tugas.

Sikap sosial perlu terus dipupuk apalagi di masa pandemi ini masih banyak orang orang yang terdampak sehingga kehilangan pekerjaan atau mata pencahariannya perlu bantuan dari orang orang yang mampu. Apabila ini bisa dilakukan maka kita pun bisa mengurangi kesengsaraan sesama dan memperdangkal jurang kesenjangan sosial yang ada.

Ketaatan kita kepada Ilahi dan kedekatan dengan kitab suci jangan sampai tergradasi sehingga kesalehan kesalehan yang dibangun selama Ramadan akan hilang menguap dan kita kembali lagi sama seperti sebelumnya. Kita pun perlu menjaga kebiasaan kebiasaan baik yang sudah dilakukan pada sebelas bulan berikutnya dan kembali ke bulan diklat lagi seterusnya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi. Maka sangat tepat apabila setelah melewati diklat Ramadan kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dan taat yaitu pribadi yang Tattaqun (bertakwa).

Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat kepada orang lain dan orang yang paling mulia di sisi ilahi adalah yang paling takwa. Marilah kita menjadi pribadi yang baik di mata manusia dan menjadi mulia di sisi Yang Maha Kuasa. Idul Fitri merupakan momen meraih keduanya. Inilah yang sering diungkapkan oleh pepatah arab terkait Idul Fitri, Laisal `id liman kana tsaubuhu jadid walakinnal `id liman kana taqwahu yazid.  Artinya Bukanlah `id itu bagi orang yang pakaiannya baru, tetapi `id itu bagi orang yang taqwanya bertambah.

Wallahu alam bishawab.

Penulis adalah Kabid Dikbud PW ISNU DKI Jakarta

Continue Reading

Opini

Peran Agama dan Kepercayaan Membangun Keadilan & Perdamaian Berbasis Inklusi, Moderasi, Toleransi

Published

on

By

Oleh: Firman Jaya Daeli*

Channel9.id-Jakarta. Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas menerima kunjungan penulis, di Ruang Pertemuan Menteri Agama, di Gedung Kementerian Agama RI, Jakarta. Kunjungan yang berlangsung beberapa waktul lalu itu, setelah penulis menyelesaikan sejumlah kegiatan dan kembali dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan sejumlah daerah (kota). Kegiatan pertemuan bersama dengan Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas, pada dasarnya untuk mendiskusikan sejumlah perihal strategis dan mendasar.

Yaqut Cholil Qoumas, dalam berbagai kesempatan dan media, menyampaikan pemikiran penting strategis dan paradigmatif otentik mengenai posisi dan peran Pemerintah, khususnya Kementerian Agama RI. Juga senantiasa meminta dukungan dan kerjasama dengan masyarakat beserta elemen dan komunitas bangsa Indonesia. Substansinya bertujuan untuk melancarkan dan menyukseskan strategi, kebijakan, program, kegiatan, aksi, dan kinerja Kementerian Agama RI, dalam rangka Membangun Indonesia Maju. penulis menyampaikan beberapa hal pokok pemikiran mengenai institusi kelembagaan negara (Kementerian Agama RI), dalam kerangka memaknai relasi dan korelasi antara Negara dan Rakyat, yaitu: Peran Agama-Agama Dan Kepercayaan Membangun Keadilan dan Perdamaian Berbasis Inklusi, Moderasi, Toleransi.

Keseluruhan konstruksi dan substansi penyelenggaraan dan pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), harus senantiasa berdasarkan pada Pancasila sebagai falsafah, dasar, dan ideologi NKRI. Juga mesti selalu berlandaskan pada konstitusi NKRI yaitu UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945). Dalam UUD NRI Tahun 1945 telah dirumuskan dan diamanatkan sejumlah hak-hak dan kebebasan konstitusional Rakyat. Juga sejumlah tugas, tanggungjawab, dan kewajiban Negara (penyelenggara negara) untuk menjamin, melindungi, dan memastikan kualitas perwujudan dan pelaksanaan hak-hak dan kebebasan tersebut.

Salah satu di antara beberapa hak dan kebebasan konstitusional tersebut adalah dalam hal dan dalam kaitan dengan keseluruhan hak-hak melekat dan kebebasan mendasar untuk beragama dan berkepercayaan. Kemudian seluruh sistem dan pranata serta instrumen dan kebijakan terkait, yang merupakan hak dan kebebasan lanjutan yang dimiliki Rakyat bertalian dengan keberadaan atas hak-hak dan kebebasan tersebut. Sehingga pada gilirannya, Rakyat berhak dan memiliki kebebasan untuk mewujudkan dan menyelenggarakan kehidupan beragama dan berkepercayaan.

Hak-hak dan kebebasan tersebut secara normatif dan otentik konstitusional, semakin menjadi bermakna dan tambah berarti ketika diletakkan dan ditumbuhkan dalam satu tarikan nafas sejati dengan variabel terkait langsung lainnya. Intinya adalah relasinya dengan adanya penjaminan, perlindungan, dan pelayanan Negara. Kehadiran yang nyata dan yang sejati mengenai penjaminan dan pemastian dari Negara secara etik hukum dasar tertinggi, pada dasarnya bermaksud dan bertujuan untuk melindungi dan melayani prinsip-prinsip penting penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan tersebut. Perihal tersebut merupakan pemakna penting yang konkrit dan otentik dari hakekat perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan tersebut.

Kualitas penjaminan, perlindungan, dan pelayanan Negara terhadap perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan tersebut, harus senantiasa terlaksana secara utuh, memadai, dan berkelanjutan. Tentu tidak boleh terjadi destruksi dan distorsi dalam keseluruhan penyelenggaraannya, sehingga tidak boleh terjadi kekurangan dan kehilangan makna. Dengan demikian, ada relasi konstitusional dan substansial antara pengakuan dan penerimaan atas hak-hak dan kebebasan tersebut dengan kualitas penjaminan, perlindungan, dan pelayanan Negara terhadap terselenggaranya hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan di Indonesia.

Negara dan melalui keseluruhan kepemimpinan dan jajaran penyelenggaraan negara, berkewajiban dan bertanggungjawab sepenuhnya untuk menjamin, melindungi, dan memastikan perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak melekat dan kebebasan mendasar Rakyat untuk beragama dan berkepercayaan. Rakyat berhak dan memiliki kebebasan untuk mewujudkan dan menyelenggarakan hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan secara utuh, memadai, dan berkelanjutan, juga dengan sepenuhnya dan seutuhnya. Rakyat menjalankannya dan melaksanakannya dengan kondusif, aman, nyaman, tenang, teduh, dan damai tanpa campur tangan, intervensi, intimidasi, ancaman, paksaan, dan gangguan dari manapun dan oleh siapapun.

Perspektif etik hukum dasar tertinggi dan amanat ketentuan konstitusi UUD NRI Tahun 1945, bermakna dan berkonsekuensi serius. Perihal tersebut pada gilirannya mengharuskan dan mewajibkan semua lapisan dan komunitas Rakyat manapun, tidak berhak dan tidak boleh mencampuri, mengintervensi, mengintimidasi, mengancam, mengatur, mengganggu, memaksa, mengganggu, dan merusak hak-hak dan kebebasan Rakyat dalam beragama dan berkepercayaan. Perspektif ini justru memposisikan seluruh lapisan dan antar lapisan komunitas Rakyat untuk saling mengakui, menghormati, dan menguati secara terbuka, tulus, jujur, dan otentik. Perspektif ini semakin melahirkan dan menumbuhkan spritualitas yang berbasis dan berintikan pada kelahiran dan kesuburan pemikiran, sikap, perbuatan, pergaulan, dan perilaku yang inklusi, moderasi, dan toleransi dalam lapisan dan antar lapisan Rakyat.

Kandungan inti pemikiran ideologis dan pertimbangan amanat ketentuan konstitusional tersebut, pada dasarnya memposisikan dan mengukuhkan keberadaan hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan. Posisi dan pengukuhan tersebut, wajib dan harus senantiasa dijamin, dilindungi, dan dipastikan oleh negara beserta keseluruhan jajaran pemimpin dan penyelenggara negara. Bahkan hak-hak dan kebebasan tersebut mesti selalu dilayani dan difasilitasi oleh Negara. Tugas dan tanggungjawab Negara melayani dan memfasilitasi tersebut, pada gilirannya mengharuskan dan mewajibkan Negara untuk tidak mencampuri, mengintervensi, mengatur, memaksa, dan mengganggu perihal spritualitas dan mengenai prinsip-prinsip teologis yang mendasar dari pemikiran, perwujudan, dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan tersebut.

Terminologi yang hakiki dari perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan konstitusional tersebut, yaitu berintikan pada sifat personal dan transendental akan hak-hak dan kebebasan tersebut. Rakyat dari berbagai elemen apapun dan komunitas manapun, tidak memiliki otoritas politik, otiritas hukum, bahkan otoritas moral dan otoritas kultural secara teologis untuk mencampuri, mengintervensi, mengintimidasi, mengancam, mengatur, memaksa, dan mengganggu Rakyat dan warga masyarakat lainnya yang melaksanakan hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan.

Perihal ini terutama dalam hal dan dalam kerangka beribadah berdasarkan dan menurut agama dan kepercayaan yang dianut. Negara justru harus senantiasa hadir untuk menjamin dan memastikan perlindungan dan pelayanan terhadap hak-hak dan kebebasan tersebut. Negara jangan membiarkan secara langsung ataupun secara tidak langsung terjadinya campur tangan, intervensi, ancaman, gangguan, dan pemaksaan terhadap perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan tersebut. Negara harus senantiasa hadir secara konkrit dan otentik untuk memastikan adanya penjaminan, perlindungan, dan pelayanan terhadap perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan tersebut.

Masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia memiliki falsafah, dasar, ideologi bersama yaitu Pancasila. Juga memiliki konstitusi yaitu UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945). Ada pesan yang tegas dan kuat secara etik moral kenegaraan dan dengan perspektif amanat ketentuan konstitusional dari UUD NRI Tahun 1945. Prinsip amanat ketentuan konstitusional sebagai Hukum Dasar Tertulis yang tertinggi dan terutama dalam sistem ketatanegaraan Indonesia ini adalah : bahwa ada pengakuan, penjaminan, dan perlindungan hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan ; dan hak-hak dan kebebasan ini merupakan hak yang melekat dan kebebasan mendasar. Pesan ideologis dan perspektif konstitusional ini, pada gilirannya akan melatari dan mendasari adanya sistem dan kebijakan untuk mendukung dan menumbuhkan hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan.

Konstruksi dan substansi dari Nilai-Nilai Pancasila merupakan kandungan otentik yang lahir, tumbuh, dan berkembang dari dan di tengah-tengah kehidupan Rakyat dan Bangsa Indonesia. Nilai-Nilai Pancasila terkandung dan terjiwai di dalam keseluruhan Sila-Sila Pancasila secara utuh, memadai, dan sistemik. Pancasila merupakan falsafah, dasar, dan ideologi “penjaga, penjamin, pelindung, pengarah, penuntun” terhadap perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan. Pancasila sebagai falsafah, dasar, dan ideologi pemersatu dan penguat, pada dasarnya sangat berbasis dan berorientasi pada prinsip-prinsip inklusi, moderasi, dan toleransi.

Institusi kelembagaan Kementerian Agama RI merupakan representase absah dari Negara. Keberadaan dan kemanfaatannya sebagai wujud dan wajah Negara, pada dasarnya sangat berpengaruh dan menentukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kementerian Agama RI menjadi bermakna dan semakin berarti ketika keseluruhan sistem, pranata, strategi, kebijakan, kepemimpinan, jajaran sumber daya, dan kinerja kelembagaan, harus senantiasa diletakkan, diposisikan, diorganisasikan, diorientasikan, dan diperuntukkan untuk memastikan pembumian Nilai-Nilai Pancasila dan amanat ketentuan konstitusi UUD NRI Tahun 1945.

Jajaran lengkap dan segenap keseluruhan kepemimpinan dan sumber daya Kementerian Agama RI, mesti selalu berfungsi, bertugas, bekerja, dan bertanggungjawab untuk menjamin, memfasilitasi, dan memastikan perlindungan dan pelayanan perihal perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan konstitusional Rakyat. Intinya yaitu dalam hal, konteks, dan kerangka beragama dan berkepercayaan. Keberadaan hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan adalah bukan “pemberian”, dan juga bukan “kado dan hadiah”, melainkan hak-hak yang melekat dan kebebasan yang mendasar. Sungguh amat personal dan transendental. Dengan demikian, harus senantiasa dijaga dan dirawat kualitasnya dan spritualitasnya.

Keseluruhan konstruksi dan substansi pengorganisasian dan pemajuan Kementerian Agama RI, sebaiknya dan seharusnya berbasis kuat dan berdiri tegak pada kawasan Pancasila dan ranah UUD NRI Tahun 1945. Terutama dan terpenting pada kualitas pelaksanaan tugas panggilan pengabdian dan tekad kemauan kuat yang utuh dan bulat dengan jujur, tulus, tegas, teguh, dan secara konsisten untuk menegakkan dan mengembangkan perihal yang prinsipil. Kualitas pelaksanaan tugas panggilan pengabdian dan tekad kemauan kuat tersebut, yaitu dalam konteks dan dalam kerangka untuk mentradisikan dan membudayakan prinsip-prinsip inklusi, moderasi, dan toleransi yang solider dan egaliter dengan semboyan etos semangat keragaman dan kemajemukan (Bhinneka Tunggal Ika) di tengah-tengah kehidupan Rakyat dalam wadah NKRI.

Perspektif ideologis konstitusional di atas, pada dasarnya dan pada gilirannya memastikan Kementerian Agama RI, harus senantiasa berada, berdiri, berjalan, dan bergerak dinamis dan strategis. Intinya yaitu terletak dan terfokus pada pembangunan lingkaran dan lingkungan atmosfir yang kondusif, aman, nyaman, tenang, teduh, sejuk, dan damai. Perihal ini untuk memperkuat dan mempermudah penjaminan, perlindungan, pelayanan, dan pemastian bagi perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan Rakyat untuk beragama dan berkepercayaan. Juga pembangunan atmosfir beragama dan berkepercayaan di dalam masyarakat, bangsa, dan negara yang inklusi, moderasi, dan toleransi dengan solider dan egaliter bernilai tulus dan tinggi.

Narasi dan investasi keseluruhan doktrin, strategi, kebijakan, program, aksi, kegiatan, dan kinerja kepemimpinan beserta segenap pranata sumber daya dan jajaran Kementerian Agama RI, harus dan wajib diabdikan bagi keluhuran dan kemuliaan yang tinggi dan sejati. Juga bagi kebajikan dan keadaban kemanusiaan, keutuhan ciptaan, dan kerakyatan. Tentu juga bagi peradaban dan pemajuan kebangsaan dan kenegaraan Nusantara Indonesia Raya. Kualitas prestasi keberhasilan dan kemajuan sebuah kelembagaan, pada dasarnya dipengaruhi dan ditentukan oleh sejumlah variabel langsung maupun tidak langsung. Salah satu di antaranya yang terpenting dan berpengaruh langsung adalah variabel kepemimpinan pucuk dan puncak dari kelembagaan tersebut. Ada relasi dan korelasi antara kelembagaan dengan kepemimpinan. Demikian juga dalam konteks relasi dan korelasi antara kelembagaan Kementerian Agama RI dengan kepemimpinan Yaqut Cholil Qoumas.

Integritas, kredibilitas, kualitas, profesionalitas, dan kapasitas kepemimpinan Yaqut Cholil Qoumas, pada dasarnya menjadi dan merupakan simbol konkrit dan otentik yang melambangkan dan dapat mengarahkan dan membumikan keseluruhan pemikiran dan pengharapan di atas. Figur Yaqut Cholil Qoumas, memiliki potensi kepribadian dan bobot kepemimpinan yang kuat, kokoh, tegas, teguh, teduh, sederhana, dan firm ; memiliki modal sosial dan kultural yang luas dan mumpuni serta memiliki jejaring kerakyatan, kemasyarakatan, dan kebangsaan yang memadai ; memiliki kekuatan massa dan dukungan politik yang kuat secara terstruktur dan masif ; memiliki perjalanan dan pengalaman yang beragam dinamis dan kompleks ; memiliki pemikiran dan pergaulan yang inklusif, moderat, dan toleran. Juga senantiasa memaknai pergumulan, peluang dan tantangan untuk membumikan falsafah, dasar, dan ideologi Pancasila.

Rakyat, bangsa, dan Negara Indonesia secara bersama-sama dan dengan bergotongroyong memastikan kemajuan kinerja kelembagaan dan kepemimpinan Kementerian Agama RI. Juga optimis dan berpengharapan kepada Yaqut Cholil Qoumas untuk memimpin kelembagaan Kementerian Agama RI, menjadi sebuah dan merupakan serangkaian “perwakilan dan wajah” Negara yang sosiologis dan humanis. Kemudian yang selalu dan sejatinya setia dan taat menjamin, melindungi, melayani, dan memfasilitasi perwujudan dan penyelenggaraan hak-hak dan kebebasan beragama dan berkepercayaan.

Kementerian Agama RI di bawah kepemimpinan Yaqut Cholil Qoumas, semoga semakin mengalami reformasi dan transformasi secara mendasar dan menyeluruh. Kemudian bahtera kelembagaan strategis, berpengaruh, dan menentukan ini, berkemauan kuat dan bertekad bulat untuk menunaikan tugas dan tanggungjawab dalam kerangka Peran Agama-Agama dan Kepercayaan Membangun Keadilan dan Perdamaian Berbasis Inklusi, Moderasi, Toleransi.

*Ketua Dewan Pembina Puspolkam Indonesia

Continue Reading

HOT TOPIC