Connect with us

Techno

Nilai Alphabet di Pasar Kini Capai $2 Triliun

Published

on

Nilai Alphabet di Pasar Kini Capai $2 Triliun

Channel9.id-Jakarta. Perusahaan induk Google, yakni Alphabet, mencapai valuasi sebesar $2 triliun (atau sekitar Rp28.468 triliun). Valuasi raksasa teknologi ini sempat di titik $1,98. Namun, tak lama kemudian menaik ke atas $2 triliun pada Senin tengah hari, dan ditutup pada $2.987,03 per saham. Valuasi Alphabet naik sekitar dua kali lipat dari $1 triliun sejak Januari 2020.

Pada kuartal ketiga tahun 2021, Alphabet mencetak rekor kuartal, dengan menghasilkan $65,1 miliar. Perusahaan melaporkan bahwa pendapatannya melonjak 41%, sementara keuntungannya melonjak hampir 69%. Google Search mengalami sedikit peningkatan laba, naik menjadi $37,9 miliar dari $35,8 miliar pada kuartal sebelumnya. Selain itu, anak Alphabet lainnya, YouTube, mendapat $7,2 miliar pada kuartal terakhir ini.

Baca juga: Lewat Google Ads, Penipu Berhasil Curi Miliaran Uang Kripto

Selama pandemi COVID-19, raksasa teknologi tersebut memang berkembang pesat. Saat perusahaan di seluruh dunia mengalihkan tempat kerjanya dari tatap muka ke online berbasis cloud, Google mendapat keuntungan dari layanan penyimpanan cloud-nya dan iklan digital.

Dengan capaian itu, Alphabet nyaris menyusul Apple dan Microsoft, sebagai salah satu dari tiga perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat yang masuk kelompok eksklusif dengan nilai $2 triliun. Apple mencapai angka itu pada April tahun lalu, sementara Microsoft mencapai $2 triliun pada Juni lalu. Amazon hampir bergabung dengan kelompok itu, namun nilainya saat ini baru mencapai $1,7 triliun.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Ekstensi Ini Bantu Tampilkan Jumlah Dislike Video di YouTube

Published

on

By

Ekstensi Ini Bantu Tampilkan Jumlah Dislike Video di YouTube

Channel9.id-Jakarta. YouTube memang sudah tak lagi menampilkan jumlah dislike video. Bagi orang yang membutuhkan fitur ini, tentunya perubahan tersebut jadi masalah. Namun, tak perlu khawatir, kini ada cara baru yang bisa mengembalikan tampilan jumlah dislike—setidaknya untuk saat ini.

Baru-baru ini, sekelompok developer membuat ekstensi browser open-source yaitu “Return YouTube Dislike” yang akan menampilkan kembali jumlah dislike di YouTube. Menurut 9to5Mac, ekstensi ini memperoleh data dari API YouTube sendiri, yang masih menunjukkan dislike saat digunakan untuk data publik, dan mengembalikan tata letak lama sebelum YouTube memutuskan untuk menyembunyikan jumlah dislike pada bulan lalu untuk mengatasi masalah pelecehan.

Menariknya, dilansir dari Gizmodo, ekstensi tersebut menunjukkan jumlah pasti dislike—bukan hanya perkiraan, yang sebelumnya ditawarkan oleh YouTube.

Ekstensi ini tersedia di Chrome, dan telah diunduh oleh lebih dari 200.000 pengguna dan mendapat lebih dari 3.800 ulasan positif secara keseluruhan. Ekstensi ini juga bisa diinstal di Firefox, Edge, Opera, dan Brave. Untuk pengguna iOS, pengembang juga punya versi khususnya namun sudah di-jailbreak dan menyarankan siapa pun yang tertarik untuk menyadari risikonya.

Pengembang mengakui bahwa Return YouTube Dislike tidaklah sempurna. Jumlah dislike diperbarui setiap 2-3 hari, yang menurut mereka tidaklah ideal. Mereka juga masih berupaya menyempurnakannya.

Ekstensi itu gratis, namun pengembang masih bisa menerima sumbangan di Patreon dan platform pembayaran Rusia YooMoney.

Telah disinggung sebelumnya, ekstensi itu hanya sementara mengembalikan jumlah dislike YouTube. Di halaman Github mereka, pengembang mencatat bahwa YouTube akan menghapus bidang “dislike” dari API-nya pada 13 Desember. Ini artinya jumlah dislike tak akan bisa diakses melalui API setelah tanggal tersebut. “Ini akan menghapus kemampuan untuk menilai kualitas konten sebelum menonton,” ujar pengembang.

Untuk diketahui, ekstensi itu mendapat informasi dari kombinasi data API YouTube dan data yang dihapus. Pengembang mengklaim bahwa mereka menyimpan semua data yang ada ke database mereka, sehingga mereka bisa memastikannya akan tersedia ketika YouTube mematikan jumlah dislike di API-nya. Selain itu, mereka juga mengaku punya rencana baru untuk mengantisipasi ketika YouTube menghapus bidang “dislike.” Namun, belum jelas apakah rencana itu akan berhasil.

“Dengan penghapusan statistik dislike dari API YouTube, backend kami akan beralih menggunakan kombinasi statistik dislike yang sudah dihapus, perkiraan analisis dari data pengguna ekstensi, dan perkiraan berdasarkan rasio tampilan like,” tulis pengembang di Github.

(LH)

Continue Reading

Techno

Bagaimana TikTok Suguhkan Konten

Published

on

By

Bagaimana TikTok Suguhkan Konten

Channel9.id-Jakarta. Algoritme video TikTok dirancang untuk dua hal, yaitu membuat pengguna bertahan dan membuat pengguna kembali. Demikian menurut laporan dari New York Times, yang meninjau bocoran dokumen internal TikTok yang menunjukkan cara kerja sistem.

Laporan itu menunjukkan pandangan yang langka. Agar pengguna tetap menonton dan kembali, New York Times membeberkan bahwa TikTok mempertimbangkan empat tujuan utama yaitu: nilai pengguna, nilai pengguna jangka panjang, nilai kreator, dan nilai platform. Salah satu cara yang berhasil untuk mewujudkan tujuan itu ialah membuat algoritme yang memprioritaskan keragaman konten, daripada membanjiri pengguna dengan satu topik yang mereka sukai.

“Jika pengguna menyukai jenis video tertentu, tetapi aplikasi terus mendorong jenis yang sama kepadanya, dia akan cepat bosan dan menutup aplikasi tersebut,” tulis bocoran dokumen itu. Untuk menghindari hal ini, aplikasi cenderung merekomendasikan secara paksa untuk menyuguhkan hal baru.

Dokumen tersebut seharusnya menunjukkan formula TikTok yang sederhana, yang menunjukkan apa yang disukai orang dan apa yang harus dimainkan. Dokumen ini membeberkan suka, komentar, waktu tonton di video, dan apakah video diputar. Namun, ada sejumlah variabel yang tak dijabarkan—mungkin karena TikTok mencatat bobot interaksi yang berbeda, yang memungkinkan mereka lebih menghargai pengguna lain.

TikTok juga fokus pada konten kreator, mengingat platform mengandalkan fitur For You-nya. Ini menunjukkan TikTok mempertimbangkan kualitas kreasi, yang dinilai berdasarkan rasio publikasi, retensi kreator, dan monetisasi kreator. Namun, tak ada detail lebih lanjut tentang bagaimana TikTok menilai dua hal yang terakhir. Dengan demikian, apakah kreator menghasilkan uang atau tidak, itu tak memengaruhi algoritme. “Sebaliknya, algoritme justru untuk mengoptimalkan kepuasan pengguna,” kata, juru bicara TikTok Jamie Favazza, dikutip dari The Verge.

Di tahun lalu, TikTok tak seburam seperti sekarang tentang hal itu. Melalui unggahan blognya, perusahaan telah merinci dasar-dasar cara kerja umpannya—komentar dan akun apa yang diikuti bisa memengaruhi rekomendasi. Pun memberi akses ke “Pusat Transparansi dan Akuntabilitas” dan perusahaan mengaku prihatin pada masalah seperti filter.

Lebih lanjut, New York Times mengatakan bahwa dokumen tersebut dibocorkan oleh seorang karyawan TikTok yang khawatir jika aplikasi bisa membahayakan pengguna. Di masa lalu, sudah ada sejumlah laporan yang menunjukkan bahwa aplikasi ini yang menyajikan konten yang mempromosikan gangguan makan dan mendiskusikan atau menunjukkan tindakan menyakiti diri sendiri. Namun, karena aplikasi ini disetel dengan sangat baik—membuat pengguna tetap terhubung dengan konten yang mirip dengan video yang sudah ditonton, mudah untuk melihat masalah pada sistem jika tak dimoderasi dengan benar.

Favazza mengatakan TikTok mempertimbangkan “berbagai sinyal engagement” saat menentukan apa yang akan ditampilkan kepada pengguna. “Kami terus berinvestasi dalam cara-cara baru untuk menyesuaikan preferensi konten, secara otomatis melewatkan video yang tidak relevan atau tidak sesuai usia, dan menghapus pelanggaran Pedoman Komunitas kami,” jelas dia.

Namun, kebocoran dokumen TikTok membeberkan black box yang menarik, salah satunya tentang bagaimana TikTok menentukan video apa yang akan ditampilkan. Detail yang disajikan di sini, seperti formula rekomendasi, “sangat disederhanakan,” kata dokumen itu. Namun, ini sebetulnya menunjukkan cara rumit platform menyusun algoritme mereka bisa dipecah menjadi tujuan yang jelas, dan dibagikan kepada publik untuk menjelaskan sejumlah alasan mengapa kita disuguhkan konten yang sedemikian rupa di platform.

(LH)

Continue Reading

Techno

Sempat Terganggu, Registrasi IMEI Kini Kembali Normal

Published

on

By

Sempat Terganggu, Registrasi IMEI Kini Kembali Normal

Channel9.id-Jakarta. Kini registrasi International Mobile Equipment Identity (IMEI) bisa kembali dilakukan setelah terganggu akibat kebakaran Gedung Cyber 1, Jakarta Selatan, pada Kamis (2/12) lalu.

“Pemeriksaan awal turut dilakukan guna mengetahui kondisi server pascapemadaman listrik yang dilakukan secara mendadak akibat kebakaran Gedung Cyber 1 di Jakarta,” tutur Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Dedy Permadi, dikutip pada Senin (6/12).

Dedy mengumumkan bahwa pada Jumat (3/12) server CEIR atau Central Equipment Identity Register (CEIR) kembali mendapat pasokan aliran listrik.

Baca juga: IMEI Bisa Deteksi Apakah Perangkat Disadap, Kemkominfo Membantah

Sbeelumnya, kata dia, pada Sabtu (4/12) aliran listrik dan koneksi internet untuk semua operator berhasil tersambung. Namun ada satu server yang masih mengalami gangguan sehingga perlu mengganti perangkatnya. Ia menambahkan bahwa pengoperasian kembali aplikasi dimulai pada Sabtu pukul 22.00 WIB.

Selanjutnya, pada Minggu, (5/12) pukul 02.30 WIB, seluruh Virtual Machine dan aplikasi kembali beroperasi. Trafik pemeriksaan IMEI dari Equipment Identity Register (EIR) Operator Seluler sudah kembali masuk ke CEIR pukul 02:45 WIB.

Berlanjut pada pukul 12.30 WIB telah dilakukan verifikasi akhir dan menunjukkan bahwa aplikasi CEIR—baik untuk trafik Cek IMEI dari EIR Operator maupun penyaluran data pada Kementerian Perindustrian, Kementerian Kominfo, dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai—normal kembali.

“Saat ini sistem CEIR untuk prosedur identifikasi IMEI berfungsi kembali,” tandasnya.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC