Connect with us

Hot Topic

NU Berperan Besar Dalam Perjuangan Rakyat Surabaya

Published

on

Channel9.id – Jakarta. Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar bagian dari bangsa dan negara Indonesia tetapi ikut berjuang mengusir penjajah dari Indonesia dan ikut merancang berdirinya bangsa dan negara Indonesia.

“Dan, saat ini dan ke depan NU ikut membangun dan merawat bangsa dan negara Indonesia,” kata Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) DKI Jakarta, Mundiharno. Untuk mengetahui peran NU dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, maka perlu pemahaman sejarah yang cukup memadai.

Mundiharno mengatakan itu saat membuka acara Webinar Nasional dengan tema,”Mengungkap Peran Nahdlatul Ulama dalam Perjuangan Rakyat Surabaya dan Sekitarnya Melawan Sekutu Sebelum dan pada 10 November 1945”, Sabtu (7/11/2020).

Tampil sebagai pembicara dalam acara itu yang dimoderatori Tjoki Aprianda Siregar, anggota ISNU DKI Jakarta itu adalah Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), Agus Sunyoto; sejarahwan senior LIPI, Asvi Warman Adam; dan Sekretaris Jenderal PB NU, Helmy Faishal Zaini.

Agus Sunyoto mengatakan, perang 10 November 1945 di Surabaya melawan tentara sekutu (penjajah) merupakan seruan jihad dari pimpinan NU waktu itu KH Hasyim Ashari.

Pada 22 Oktober 1945, Nahdlatul Ulama (NU) melalui Pendiri dan Pemimpinnya, KH Hasyim Asy’ari, telah mengeluarkan Fatwa Jihad Fi Sabililillah kepada para Nahdliyyin (warga NU) dan umat Islam secara keseluruhan, serta Resolusi Jihad Fi Sabililillah kepada jajaran Pemerintah Indonesia di Surabaya dan sekitarnya untuk bersiap melawan serangan Sekutu

Resolusi Jihad tersebut  memang tidak ditulis dalam sejarah karena memang jihad itu ibadah, jadi tidak perlu ditulis.Pemahaman  bahwa jihad itu ibadah, membuat seruan tersebut disambut oleh seluruh masyarakat baik itu di Jawa Timur maupun di daerah-daerah lain.

“Namun, media massa waktu itu seperti kantor Berita Nasional Antara memberitakan bahwa peristiwa 10 November 1945 di Surabaya merupakan peristiwa ibadah, Jihad,” kata dia.

Menurut Agus Sunyoto, berita  dari Antara mengenai peristiwa 10 November 1945 di Surabaya sebagai seruan Jihad dari NU ditulis oleh penulis AS, Bennedict Anderson dalam bukunya.

“Jadi dokumentasi bahwa peristiwa 10 November 1945 adalah peritiswa pelaksanaan Jihad, jelas. Jadi NU sungguh besar jasanya dalam menegakkan NKRI,” kata dia.

Ia menambahkan, pertempuran 10 November 1945 itu merupakan tantangan KH Hasyim Ashari atas ancaman dan hukum dari pimpinan tentara Inggris Jenderal Philip Christian atas terbunuhnya pimpinan tentara Inggris di Surabaya waktu itu, Mayor Jenderal Mallaby.

Sehari sebelum Surabaya di bombardir tentara Inggris, petinggi tentara Inggris di Jakarta memberi ultimatum kepada rakyat di Surabaya agar siapa yang membunuh Mayor Jenderal Mallaby segera menyerahkan diri.

Selain itu, semua rakyat Surabaya yang memegang senjata api agar menyerahkannya kepada sekutu. “Namun, seruan atau ultimatum itu dijawab KH Hasyim Ashari dengan seruan Jihad. Makanya terjadinya pertempuran 10 November 1945,” kata penulis buku “Fatwa Resolusi Jihad, Sejarah Perjuangan Rakyat Semesta di Surabaya, 10 November 1945” itu.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hot Topic

Deklarasi Benny Wenda, Pakar:  Sebaiknya Polri Lakukan Penegakan Hukum

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Pakar Hukum Internasional Hikmahanto Juwana angkat suara soal manuver Ketua United Liberation Movement for West Papua (UMLWP) Benny Wenda yang mendeklarasikan pemerintahan sementara Papua Barat.

Ia mengatakan, pemerintah lewat Polri bisa melakukan penegakan hukum, mengingat hal tersebut dikualifikasikan sebagai tindakan makar.

Sebab, menurut Hikmahanto, pemerintahan sementara yang dibentuk Benny Wenda tidak ada dasarnya di dalam hukum internasional. Selain itu, pemerintahan sementara tersebut tanpa kejelasan negara mana yang berdiri, di mana lokasi dan kapan waktu deklarasi negara tersebut.

“Dalam hukum internasional yang dikenal adalah pendirian sebuah negara, harus ada negara dahulu baru ada pemerintahan. Aneh bila yang dideklarasikan adalah pemerintahan sementara tanpa jelas negara mana yang diakui oleh masyarakat internasional,” kata Hikmahanto di Jakarta, Rabu (02/12) dilansir Antara.

Baca juga: Polri: Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat Adalah Propaganda 

Di samping itu, Hikmahanto mengatakan, meski negara-negara Pasifik selama ini menunjukan dukungannya terhadap Papua Barat, namun dukungan itu tidak dapat menjadi tolok ukur karena negara-negara tersebut tidak signifikan dalam pengakuan suatu negara.

Dilansir BBC, kelompok United Liberation Movement for West Papua ( ULMWP) mengumumkan Pemerintahan Sementara Papua Barat.

Pimpinan ULMWP, Benny Wenda, mendeklarasikan diri menjadi presiden sementara Papua Barat mulai 1 Desember 2020, seraya menolak segala aturan dan kebijakan dari pemerintah Indonesia.

“Pengumuman ini menandai perlawanan intensif terhadap koloni Indonesia di Papua Barat sejak 1963,” kata Benny Wenda dalam siaran persnya, Selasa (1/12).

IG

Continue Reading

Hot Topic

Polri: Deklarasi Kemerdekaan Papua Barat Adalah Propaganda

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono menyampaikan, deklarasi kemerdekaan Papua Barat yang diprakarsai Benny Wenda pada Desember 2020, adalah propaganda.

Awi memastikan, kondisi keamanan dan ketertiban saat ini masyarakat Papua relatif normal.

“Benny Wenda itu sekarang di mana? di Inggris kan. Jadi yang menjadi pertanyaan apakah mungkin dia melakukan hal tersebut di Indonesia? dia di luar negeri,” kata Awi, Selasa (2/12).

Baca juga: Kapolri Ungkap Aktor Kerusuhan Papua dan Papua Barat 

Awi pun mengimbau kepada mayarakat, terutama yang ada di Papua maupun Papua Barat tidak terprovokasi atas peritiwa tersebut.

Papua, kata Awi, masih dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Sampi saat ini Papua maupun Papua Barat masih sah di bawah NKRI. Dan hal ini sudah final tidak ditawar-tawar lagi,” pungkasnya.

(HY)

Continue Reading

Hot Topic

Ricuh di Petamburan, Jurnalis dan Polisi Diusir Laskar FPI

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Sejumlah penyidik Polda Metro Jaya dan jurnalis yang meliput dibanjiri umpatan dan kecaman massa dan simpatisan Front Pembela Islam (FPI) saat berupaya menyambangi Rizieq Shihab, Selasa (2/12).

Penyidik Polda Metro Jaya diketahui melayangkan surat panggilan kedua usai Imam Besar FPI tersebut menolak untuk diperiksa sehari sebelumnya. Penyidik tiba di Gang Paksi, Jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat sekira pukul 13.00 WIB.

Mereka lagi-lagi mendapat halangan Laskar FPI yang berjaga di lokasi. Pihak Laskar meminta aparat menunggu terlebih dahulu sembari melakukan koordinasi dengan keluarga Rizieq.

Baca juga: Antar Surat Pemanggilan Rizieq, Polisi Kembali Dihadang Laskar FPI 

Selama 45 menit waktu berjalan, penyidik tak kunjung berhasil menemui keluarga Rizieq untuk menyerahkan surat panggilan. Negosiasi berjalan alot. Tangisan hingga umpatan tak henti-hentinya mengiringi proses tersebut.

Aparat sesekali melakukan negosiasi kepada laskar yang menjaga. Namun tak menemui titik terang. “Kami hanya mau mengantarkan surat panggilan saja. Usai itu kami pulang,” kata salah satu penyidik Polda Metro Jaya, Kompol Fadillah.

Namun, pihak perwakilan laskar meminta polisi meninggalkan lokasi sementara waktu sambil menunggu konfirmasi dari pihak pengacara. Situasi di lokasi massa terus menyemut.

Massa nampak memprovokasi polisi. Mereka memberikan umpatan dan sindiran terkait kedatangan aparat. Tak lama, aparat memilih meninggalkan lokasi.

Tapi, warga dan sejumlah orang tak dikenal diduga laskar tetap melemparkan umpatan kepada aparat. Mereka juga mengintimidasi wartawan yang meliput.

“Polisi bang**t balik kanan sana lu, wartawan udah, matiin kamera jangan meliput,” kata sejumlah massa di lokasi.

Situasi makin memanas, massa yang meneriaki polisi dan melarang wartawan terus mengikuti hingga Jalan Raya KS Tubun. Wartawan tetap pada tugasnya coba mengorek apa yang terjadi kepada aparat.

Namun, tiba-tiba massa sempat berselisih dengan sejumlah wartawan. Massa kemudian mengejar-ngejar wartawan.

Tercatat wartawan yang mendapat intimidasi yakni wartawan media Okezone.com, CNN Indonesia.com, dan Kontributor TV One.

Sejumlah wartawan berusaha menyelamatkan diri. Beberapa kendaraan awak media masih tertahan di Petamburan.

Rizieq Shihab telah dipanggil Polda Metro Jaya terkait kasus kerumunan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu (14/11). Semestinya Rizieq diperiksa pada Senin (1/12), tapi dirinya tak memenuhi panggilan tersebut. Atas ketidakhadiran tersebut polisi kembali melayangkan surat panggilan kedua hari ini.

Selain Rizieq, Polda Metro Jaya juga memanggil sejumlah orang terkait kerumunan itu. Di antaranya adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Lurah Petamburan Setianto.

IG & DW

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC