Connect with us

Techno

Operator Seluler Tingkatkan Kewaspadaan Pelanggan dengan Ganti Nama Sinyal

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Sejumlah operator seluler mengubah nama sinyal mereka di ponsel pelanggan. Melalui cara ini, mereka memperingatkan pelanggan tentang pentingnya tinggal di rumah dan social distancing, di tengah wabah virus Corona atau Covid-19 di Indonesia.

Adapun operator seluler itu yakni Telkomsel yang menyerukan ‘DiRumahAja’, Smartfren memperingatkan untuk ‘Stay Safe’, dan XL Axiata dengan ‘DiRumahLebihBaik’.

Beberapa waktu lalu, pemerintah telah mengimbau masyarakat agar beraktivitas–seperti belajar, bekerja, dan beribadah–di rumah sehingga penyebaran COVID-19 terputus.

Vice President Corporate Communications Telkomsel Denny Abidin menuturkan pihaknya terus memantau perkembangan situasi terkait pandemi COVID-19. Pengubahan sinyal itu merupakan bentuk andil dan keterlibatannya dengan para pemangku kepentingan. “Termasuk dengan mendorong sosialisasi pencegahan penularan virus COVID-19 di seluruh channel dan fasilitas milik Telkomsel,” terang Denny melalui keterangan tertulisnya, Selasa (24/3).

“Salah satunya dengan membantu sosialisasi himbauan Pemerintah RI untuk masyarakat dapat beraktivitas (belajar, bekerja dan beribadah) Di Rumah Saja dengan memanfaatkan fitur Network Name yang tersedia di seluruh perangkat smartphone/gawai,” tuturnya.

Demikian pula dengan Smartfren. Munir Syahda Prabowo selaku VP Technolgy Relations and Special Project Smartfren menuturkan, pengubahan nama sinyal ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan para pelanggan. “Sesuai anjuran pemerintah untuk melakukan social distancing supaya tetap aman dan tidak terjangkit virus tersebut,” sambung dia.

Selain itu, XL Axiata pun turut memperingatkan pelanggannya untuk tetap berada di rumah di tengah.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Belajar dari Kasus Mutilasi Kalibata, Perhatikan Hal Ini Saat di Dunia Maya

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Kasus mutilasi di Apartemen Kalibata City, Jakarta pada Rabu (16/09) lalu, masih membekas di benak banyak orang hingga kini. Berdasarkan berita yang telah beredar, korban merupakan laki-laki berinisial RHW, yang tewas dimutilasi oleh perempuan berinisial LAS. Keduanya disebut berkenalan melalui aplikasi Tinder.

Karena kasus tersebut, Tinder menjadi trending topic di Twitter pada Jumat pagi, 18 September 2020.

Sebagai informasi, Tinder merupakan aplikasi kencan online yang dirilis oleh startup Hatch Labs sejak 2012. Aplikasi ini memungkinkan penggunanya memilih lawan bicaranya berdasarkan foto, biografi singkat dan minat. Pengguna cukup menggeser ke kanan, artinya cocok atau suka dan menggeser ke kiri, artinya tidak cocok atau tidak suka.

Baca juga: Kasus Mutilasi Kalibata City, Tersangka Pernah Ikut Olimpiade Kimia

Jika merasa cocok, pengguna kemudian bisa bercengkrama dengan lawan bicaranya melalui fitur pesan.

Selain itu, dengan fitur Common Connections memungkinkan pengguna melihat apakah mereka memiliki teman yang sama di Facebook. Tak hanya itu, Tinder pun bisa terintegrasi dengan Instragram melalui persetujuan pemilik akun. Dengan fitur ini, pengguna bisa mengakses profil Instagram pengguna lain.

Kiat-kiat Menghindari Tindakan Kriminal

Apa yang terjadi pada RHW mestinya menjadi pelajaran bagi pengguna Tinder, atau sejenisnya.

Ada sejumlah kiat yang harus dilakukan agar tidak menjadi incaran tindakan kriminal di dunia maya. Perlu diingat, apa pun yang dipublikasikan secara online bisa menjadi bumerang yang merugikan bagi pengguna, baik dari posting tentang topik acak, foto pribadi, hingga detail kehidupan.

Maka dari itu, pengguna harus memikirkan risiko yang mungkin bisa muncul dari publikasi yang dibagikan.

Perusahaan keamanan siber Kaspersky menjelaskan apa yang mesti diwaspadai dan risikonya bila berbagi informasi di dunia maya, di antaranya berikut ini.

1. Alamat rumah atau sekolah. Dengan informasi ini, penjahat bisa mudah menemukan Anda
2. Nomor telepon. Informasi ini termasuk salah satu data paling berharga bagi penjahat siber
3. Geolokasi saat ini. Informasi ini memudahkan untuk penjahat siber melacak Anda
4. Menyebut “tempat favorit” dan mengunggah geotag bisa membahayakan. Pasalnya, pelaku kejahatan menjadi tahu di mana bisa menemukan Anda
5. Foto dan video pribadi. Data ini bisa disalahgunakan oleh penjahat siber. Misalnya mencatut wajah di foto untuk gambar panas
6. Mempublikasi foto orang lain. Hal ini memiliki risiko yang serupa dengan mempublikasi foto sendiri
7. Foto-foto barang mewah. Hal ini menunjukkan tingkat kekayaan atau kemewahan seseorang. Ini bisa menjadi indikator incaran penjahat siber
8. Informasi tentang kehidupan pribadi
9. Mempublikasikan keluhan atau informasi pribadi tentang orang yang dicintai
10. Pernyataan kritis tentang topik sensitif. Adalah suatu kebebasan bisa mengutarakan pendapat. Namun, bila menyangkut agama, politik, orientasi seksual, dan sebagainya, lebih baik untuk tidak membagikannya di internet.

Sejumlah hal di atas bisa memicu konflik di dunia nyata. Jadi, tetaplah waspada dan berhati-hati saat di dunia maya.

(LH)

Continue Reading

Techno

Mempelajari Tata surya dengan Aplikasi Tiga dimensi

Published

on

By

Channel9.id-Surabaya. Untuk mempermudah para siswa dalam mempelajari dan memahami tentang tata surya, Enam mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membuat media pembelajaran tata surya dengan aplikasi Augmented Reality (AR) atau tiga dimensi.

Keenam mahasiswa ini tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat. Keenamnya yakni Zahrotul Jannah, Nur Fauziah, Tri Nadia Ningsih, Rr Fadila Kusumaning Ayu, Devaldi Akbar Suryadi dan Manilaturrohmah.

Media pembelajaran ini ditujukan bagi anak sekolah dasar belajar daring. Salah satu mahasiswa, Nur Fauziah menjelaskan inspirasi ini berawal dari melihat banyakanya anak SD yang kesulitan memahami tata surya.

Kesulitan ini karena media pembelajaran tiga dimensi yang ada, membuat beberapa siswa menilai jika tata surya memiliki penyanggah.

“Jadi kami mencoba membuat media pembelajaran dari gambar, namun banyak siswa yang belum memahami tata surya kita, akhirnya kami enam orang membuat aplikasi AR yang dapat melihatkan langsung tata surya kita,” kata Fauziah di Surabaya, Jumat (18/9/20).

Selain itu, Fauziah memaparkan kerja aplikasi ini melalui handphone atau tablet dengan membuka aplikasi AR. Lalu, diarahkan ke kartu yang sudah disediakan untuk melihat tatanan tata surya serta orbit yang mengelilinginya.

Baca juga : Pengguna Bisa Masuk WhatsApp Web dengan Satu Sentuhan

Fauziah menjelaskan dalam aplikasi ini akan terlihat jika tata surya tetap bergerak mengelilingi orbit. Dia menambahkan jika ingin melihat lebih dekat bagaimana para bumi, bisa diarahkan lagi ke kartu yang sudah diprogram untuk mengeluarkan bentuk tiga dimensi bentuk bumi. “Siswa juga seakan akan bisa memegang bentuk bumi tersebut,” tambah Fauziah.

Selain itu, Fauziah menambahkan alat peraga dan aplikasi AR tata surya ini sudah diberikan ke SDN Patengteng 2 Bangkalan. Sekolah ini dipilih bukan tanpa alasan, karena SDN ini berada di pelosok Madura, yang kesulitan dalam media pembelajaran tata surya.

“Kami juga memandu anak-anak sekolah dasar melalui aplikasi zoom tentang media pembelajaran ini,” ucapnya.

Di kesempatan yang sama, Fauziah menyebut media pembelajaran ini cocok diterapkan di tengah pandemi COVID-19 yang saat ini. Apalagi kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui daring.

“Pembelajaran online ini sangat berguna, jadi siswa akan bisa memahami tentang tata surya,” jelas Fauziah.

Hingga kini, Fauziah mengatakan pihaknya masih akan mengembangkan media pembelajaran AR lebih baik lagi. Agar, siswa bisa semakin paham tentang tata Surya. “Kami pasti mengembangkan agar siswa semakin paham dengan tata surya kita,” pungkas Fauziah.

Continue Reading

Techno

Pengguna Bisa Masuk WhatsApp Web dengan Satu Sentuhan

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Kebanyakan orang yang mengunakan WhatsApp di ponsel. Namun, banyak pula menggunakan layanan perpesanan ini di web atau desktop. Menimbang hal ini, fitur membuka aplikasi dengan satu sentuhan tengah dibahas.

Kendati begitu, perlu dicatat, lantaran WhatsApp bergantung dengan nomor telepon, siapa pun tetap harus dekat dengan ponsel jika masuk ke WhatsApp Web.

Sejauh ini, otentikasi yang dijalankan ialah dengan memindai kode QR di layar laptop atau komputer dengan kamera ponsel agar akun bisa diakses. Meski cara tersebut ini tak rumit, pengguna tetap harus lepas dari laptop atau komputer untuk kemudian mencocokkan kodenya dengan lensa kamera.

Guna menjawab kerepotan ini, WhatsApp menggadang fitur login baru. Menurut informasi dari WABetaInfo, dalam versi beta terbaru aplikasi WhatsApp untuk Android, ada fitur untuk login dengan sidik jari. Sebelumnya, fitur ini sudah ada di WhatsApp untuk smartphone.

Dengan fitur tersebut, ada sejumlah keuntungan. Pertama, cara ini disebut lebih aman dan menghindari risiko dari tangan jahil menemukan ponsel dan masuk ke akun kalian. Kedua, metode ini lebih cepat karena hanya dengan menyentuh ponsel saja. Lebih nyaman daripada harus mengambil ponsel dan mencocokkan kode QR dengan kamera.

Kendati begitu, informasi dari WABetaInfo tak bisa diprediksi kapan fitur bisa dipakai oleh pengguna. Pengguna hanya harus menunggu.

(LH)

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC