Skor PISA
Nasional

P2G Apresiasi Kenaikan PISA Indonesia, tapi Soroti Bullying dan Beban Guru

Channel9.id, Jakarta – Kabar baik datang dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. Skor literasi membaca dan sains pelajar Indonesia meningkat di tengah penurunan capaian rata-rata negara-negara OECD. Namun, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) mengingatkan pemerintah agar tidak cepat berpuas diri karena masih ada sejumlah persoalan yang perlu segera dibenahi, mulai dari perundungan di sekolah hingga beban kerja guru.

Hasil PISA 2025 menunjukkan skor membaca Indonesia naik tujuh poin menjadi 365, sedangkan skor sains meningkat enam poin menjadi 389. Di sisi lain, skor matematika justru turun dua poin menjadi 364.

Kenaikan tersebut dinilai cukup positif jika dibandingkan dengan tren negara-negara OECD. Rata-rata skor OECD mengalami penurunan pada ketiga domain, yakni matematika turun sembilan poin menjadi 465, membaca turun 14 poin menjadi 463, dan sains turun tiga poin menjadi 484.

“Yang menggembirakan adalah skor Indonesia justru meningkat dalam Membaca naik tujuh poin dan Sains naik enam poin,” kata Koordinator Nasional P2G, Satriwan Sal. Namun, capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk melakukan evaluasi lebih mendalam terhadap kualitas pembelajaran diim, Rabu (9/9/2026).

Menurut P2G, peningkatan skor membaca dan sains layak diapresiasi. Namun, capaian tersebut harus menjadi pijakan untuk melakukan evaluasi lebih mendalam terhadap kualitas pembelajaran di sekolah.

P2G menilai peningkatan skor PISA 2025 dapat menjadi indikasi bahwa upaya pemulihan pembelajaran setelah pandemi mulai menunjukkan hasil.

Satriwan menyebut kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam membenahi kualitas pembelajaran perlu terus diperkuat. Salah satunya melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam yang saat ini tengah didorong pemerintah.

“Misalnya melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam yang kini tengah diperkuat Kemdikdasmen harus betul-betul dipahami guru untuk dilaksanakan di kelas,” ujarnya.

P2G juga mendorong penguatan pembelajaran sains melalui pendekatan Science, Technology, Engineering, Art and Mathematics (STEAM) yang dipadukan dengan ilmu sosial dan humaniora. Pendekatan tersebut dinilai dapat mulai diperkenalkan sejak pendidikan dasar, bahkan secara bertahap pada jenjang pendidikan anak usia dini.

Sementara untuk literasi membaca, kenaikan skor perlu diikuti dengan penguatan budaya membaca di lingkungan sekolah dan keluarga.

Menurut Satriwan, kemampuan membaca tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab guru Bahasa Indonesia. Semua guru mata pelajaran perlu membiasakan siswa berinteraksi dengan berbagai jenis bacaan, termasuk buku fiksi dan nonfiksi, grafik, infografis, tabel, hingga statistik sederhana.

“Pembiasaan dan pembudayaan membaca buku fiksi, nonfiksi, dan ragam jenis teks itu adalah tugas semua guru mata pelajaran, bukan hanya guru matematika dan Bahasa Indonesia,” tegasnya.

Karena itu, pemerintah juga diminta memperkuat fasilitas perpustakaan sekolah dan menjadikan pengadaan buku bacaan berkualitas sebagai salah satu prioritas anggaran pendidikan.

Matematika Turun, Pembelajaran Jangan Sekadar Hafalan

Di tengah peningkatan skor membaca dan sains, P2G menyoroti penurunan dua poin pada matematika.

Penurunan tersebut dinilai harus menjadi momentum untuk mengubah pola pembelajaran matematika yang terlalu menekankan hafalan angka dan rumus.

“Jadi yang dipelajari di kelas itu hendaknya bermakna, membangun nalar kritis murid, mereka dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika,” kata Satriwan.

Dengan pendekatan tersebut, siswa tidak hanya dituntut mengetahui rumus, tetapi juga mampu memahami persoalan dan menggunakan konsep matematika untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Di balik kenaikan skor akademik, P2G menemukan persoalan yang dinilai jauh lebih mengkhawatirkan, yakni masih tingginya kasus perundungan di lingkungan pendidikan.

Berdasarkan data PISA 2025 yang dirujuk P2G, 24 persen murid Indonesia mengalami perundungan beberapa kali dalam sebulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD yang berada di level 20 persen.

P2G menilai angka itu harus menjadi alarm bagi pemerintah dan satuan pendidikan untuk memperkuat keamanan lingkungan belajar.

“Ini menjadi alarm bagi satuan pendidikan untuk menciptakan ekosistem lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi,” ujar Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri.

Menurut Iman, Kemendikdasmen, Kementerian Agama, pemerintah daerah, hingga satuan pendidikan harus membangun sistem sekolah dan madrasah yang mampu mencegah berbagai bentuk kekerasan.

Sebab, menurutnya, kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan tempat siswa belajar.

“Bagaimana kualitas atau mutu pendidikan akan dicapai, jika murid alami kekerasan, jika lingkungan belajarnya tak aman,” tegas Iman.

Guru Indonesia Dinilai Berdedikasi Tinggi, tapi Bebannya Berat

Di sisi lain, PISA 2025 juga memberikan gambaran positif mengenai peran guru Indonesia.

Sebanyak 85 persen murid Indonesia menyatakan guru terus mengajar hingga murid memahami materi, jauh di atas rata-rata OECD sebesar 69 persen. Selain itu, 80 persen murid menyebut guru memberikan bantuan tambahan sampai mereka benar-benar memahami materi, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 73 persen.

P2G menilai angka tersebut menunjukkan tingginya dedikasi guru Indonesia dalam memastikan siswa tidak tertinggal dalam pembelajaran.

“Guru menjelaskan materi ke murid sampai mereka benar-benar memahaminya. Dukungan belajar yang kuat dari guru dapat memperkecil ketimpangan pemahaman antarmurid, sebab guru meluangkan waktu ekstra kepada semua murid tanpa kecuali,” jelas Iman.

Namun, P2G melihat kondisi tersebut memiliki sisi lain. Tingginya waktu yang harus dicurahkan guru untuk membantu siswa juga dapat menjadi tanda bahwa kemandirian belajar siswa masih perlu diperkuat. Di saat yang sama, kondisi itu berpotensi menambah beban kerja guru.

P2G meminta pemerintah menjadikan hasil PISA 2025 sebagai titik awal untuk melakukan pembenahan, bukan sekadar capaian yang dirayakan.

Pasalnya, pemerintah masih memiliki pekerjaan besar untuk mengejar target PISA 2029 yang tercantum dalam RPJMN 2025–2029. Target tersebut menetapkan skor membaca 409, matematika 416, dan sains 426.

“Meski skor PISA Indonesia naik, Kemdikdasmen jangan lupa ke depan, tugas rumah pemerintahan Prabowo tidaklah mudah,” ujar Iman.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3  +  7  =