Connect with us

Internasional

Pandemi Covid-19 Diprediksi Berlangsung 4-5 Tahun

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Menteri Pendidikan Singapura Lawrence Wong menyebut,  diperlukan waktu empat hingga lima tahun sebelum pandemi Covid-19 benar-benar berakhir. Baru kemudian seluruh dunia akan melihat masa normal pascapandemi.

Hal itu diungkapkan Wong saat berbicara di konferensi Perspektif Singapura 2021, Senin (25/01).

“Pada satu titik, dimana pandemi akan berakhir, tapi butuh waktu empat hingga lima tahun sebelum akhirnya kita melihat akhir dari pandemi ini dan memulai hidup baru. Apa yang akan terjadi pascapandemi, tidak ada yang tahu,”ujar Wong, seperti dikutip shannnelnewsasia, Rabu (27/01).

Wong yang juga memimpin gugus tugas multi-kementerian Covid-19 ini juga menyoroti ketidakpastian terkait apa yang akan dihadapi dalam beberapa tahun ke depan. Termasuk bagaimana pandemi akan membentuk masyarakat dunia di tahun mendatang. Ia juga memperkirakan, kebiasaan menggunakan masker dan menghindari kerumunan akan berlanjut pada tahun ini dan tahun berikutnya.

“Di luar itu, ketersediaan vaksin Covid-19 secara progresif akan memulai kembali perjalanan global. Namun, vaksinasi di seluruh dunia tidaklah mudah, dan tidak bisa cepat,”tambahnya.

Baca juga: Menkes: Kita Harus Bersatu Atasi Pandemi 

Wong menuturkan, pemerintah Singapura telah menjadwalkan warganya untuk mendapatkan vaksin pada kuartal tiga 2021.Meski demikian, ia mengakui ada rintangan dalam pelaksanaannya.

Ia menyebut, vaksin yang ada saat ini tidak terlalu efektif melawan varian baru dari virus corona. Menurut Wong, vaksin harus dimodifikasi untuk melawan virus.

“Skenario positifnya, vaksin menjadi seperti suntikan flu biasa atau mungkin kita bisa mengembangkan vaksin untuk semua virus. Tapi skenario terburuknya adalah kita selalu berada di belakang dari virus yang berkembang. Dan kita tidak bisa mengejar waktu,”katanya.

“Jadi, banyak sekali ketidakpastian di depan kita. Yang perlu digarisbawahi adalah, kita hidup di dunia yang sama, dan tidak satupun akan aman hingga semua orang aman,”tandasnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Internasional

Cina Ingin Bekerja Sama dengan Amerika Serikat

Published

on

By

Cina Ingin Bekerja Sama dengan Amerika Serikat

Channel9.id-Cina. Perdana Menteri Cina, Li Keqiang, bersumpah akan menggalakkan hubungan bisnis dengan Amerika Serikat atas dasar saling menghormati yang mana akan memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak, katanya pada hari Jumat (5/3/2021).

Amerika Serikat dan Cina sebelumnya berseteru dalam persoalan perdagangan dan kebijakan ekonomi, terutama ketika adanya upaya Amerika Serikat untuk memperketat ekspor teknologi kepada Cina dan tarif keduanya telah dikenakan pada barang satu sama lain.

Minggu ini, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengatakan rivalitas yang makin membesar dengan Cina ini sebagai kunci tantangan yang dihadapi Amerika Serikat pada saat ini. Diplomat Amerika menggambarkan bahwa negara asia ini sebagai tes geopolitik terbesar pada abad ini.

Baca juga : Cina Masih Negosiasi dengan Taiwan

Dalam pembukaan acara pertemuan tahunan parlemen Cina, yang melaporkan laporan kerja tahunan Perdana Menteri Cina, Li mengatakan bahwa negaranya ingin bekerja sama dengan Amerika Serikat.

“Kita akan menggalakkan perkembangan relasi Cina dengan Amerika Serikat yang menguntungan kedua belah pihak atas dasar kesetaraan dan perasaan saling menghormati,” katanya tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Amerika Serikat juga sudah berulang kali komplain soal masalah akses perdangan perusahaan-perusahaannya di Cina.

Calon representatif perdagangan Amerika, Katherine Tai, mengatakan pada hari Senin bahwa dia akan bekerja untuk melawan perdagangan Cina yang tidak fair dan akan berusaha untuk memperlakukan sensorsip Cina sebagai batas perdagangan

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Iran Setuju Dengan Tawaran IAEA

Published

on

By

Iran Setuju Dengan Tawaran IAEA

Channel9.id-Iran. Kekuatan Barat membatalkan upayanya untuk mengecam Iran di badan pengawas nuklir global dikarenakan Iran telah setuju untuk bekerjasama dengan para ahli internasional mengenai partikel uranium yang ditemukan di beberapa titik situsnya.

Kementerian Luar Negeri Iran memuji usaha keras diplomatiknya Tehran dan partisipan lainnya pada perjanjian nuklir 2015 karena telah mencegah resolusi dari Amerika dan Negara-Negara Eropa di Dewan Gubernur IAEA.

Baca juga : Iran Menolak Adakan Pertemuan dengan AS

Resolusi itu adalah untuk mengutuk pengurangan komitmen Iran terhadap perjanjian nuklir 2015. Resolusi ini direncanakan oleh Jerman, Inggris, dan Prancis  yang juga didukung oleh Amerika Serikat.

“Perkembangan hari ini dapat mempertahankan jalur diplomasi yang dibuka oleh Iran dan menciptakan pondasi untuk implementasi komitmen maksimal oleh para anggota JCPOA,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri, Saeed Khatibzade, mereferensikan JCPOA (Perjanjian Nuklir 2015).

“Iran berharap bahwa para anggota JCPOA dapat menjamin komitmennya pada perjanjian nuklir ini dari segala sisi dengan memanfaatkan kesempatan ini dan melalui kooperasi yang serius.”

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, mengumumkan pada konferensi berita pada hari Kamis (4/3/2021) bahwa IAEA dan Iran akan mengadakan pembicaraan teknis April nanti di Tehran.

Ia mengatakan Iran menerima tawaran pengawas nuklir untuk terlibat dalam upaya yang fokus dan sistematis dalam membahas partikel uranium yang ditemukan di beberapa situs yang Iran larang IAEA masuki.

Grossi mengatakan pada hari Kamis bahwa penjelasan Iran soal partikel uranium yang ditemukan di beberapa situsnya masih belum kredibel secara teknis dan dira

He said on Thursday that Iran’s explanation for the particles found at the sites has not been “technically credible” yang diharapkan masalah ini bisa selesai pada pembicaraan April nanti.

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Cina Masih Negosiasi dengan Taiwan

Published

on

By

Cina Masih dalam Negosiasi dengan Taiwan

Channel9.id-China. Cina akan dengan tegas akan melawan gerakan separatis yang mendukung kemerdekaan Taiwan tapi berkomitmen untuk mengupayakan hubungan perdamaian di sepanjang selat Taiwan dan reunifikasi Cina, kata Perdana Menteri Cina, Li Keqiang pada hari Jumat (5/3/2021).

Cina, yang mengklaim wilayah demokratis Taiwan merupakan wilayahnya, telah meningkatkan aktivitas militas di sekitar pulau Taiwan beberapa bulan ini.

Dalam pidatonya di acara pembukaan pertemuan tahunan parlemen Cina, Li mengatakan bahwa Cina masih bertahan dengan prinsip “satu Cina”, yang menyatakan bahwa Taiwan adalah bagian dari Cina.

“Cina masih berkomitmen untuk mengupayakan perkembangan hubungan yang damai di sepanjang selat Taiwan dan reunifikasi Cina,” katanya kepada kurang lebih 3,000 delegasi di Balai Besar Rakyat Beijing.

“Kita akan tetap tegas dalam menghadapi dan menumpas gerakan separatis yang mengupayakan kemerdekaan Taiwan,” tambah Li.

“Kita akan menggalakkan pertukaran, kooperasi dan perkembangan terintegarasi di sepanjang selat Taiwan. Bersama-sama kita dapat menciptakan masa depan yang makmur untuk negara kita.”

Kebanyakan warga Taiwan tidak mau dipimpin oleh Cina yang otokratis, dan juga sangat mendukung gerakan anti-pemerintah di Hong Kong.

Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen, kembali terpilih setelah menang telak pada pemilu tahun lalu dan berjanji akan memperjuangkan Taiwan untuk melawan Cina.

Tsai mengatakan Taiwan sudah menjadi negara merdeka dengan Republik Cina sebagai nama formalnya.

Cina percaya Tsai mengupayakan kemerdekaan formal Taiwan, yang mana sangat ditentang oleh Cina. Sampai saat ini Cina belum menarik pasukannya dari sekitar kepulauan Taiwan.

(RAG)

Continue Reading

HOT TOPIC