Channel9id – Jakarta. Kegiatan yang digelar di Balai Indonesia, Tokyo, pada Minggu (9/8/2026) itu menghadirkan Asisten Divisi Fatwa Majelis Tarjih & Tajdid PP Muhammadiyah Ustadz Nur Fajri Romadhon, Lc., M.A. Acara tersebut turut dihadiri Koordinator Fungsi Penerangan Sosial Budaya KBRI Tokyo Muhammad Al Aula.
Al Aula mengatakan kehidupan di negeri rantau, khususnya bagi WNI Muslim di Jepang, membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan budaya lokal. Menurutnya, kebutuhan menjalankan ibadah harus berjalan beriringan dengan sikap menghormati hukum dan kebiasaan masyarakat setempat.
“Menjaga harmoni di tanah rantau mengharuskan WNI dapat beradaptasi dengan budaya lokal, menghormati hukum setempat, dan aktif membangun komunikasi yang baik dengan sesama perantau maupun warga sekitar,” kata Al Aula saat membuka kegiatan.
Dia menekankan pentingnya menjaga ketertiban, menaati aturan, serta menjaga kebersihan selama tinggal di Jepang. Menurutnya, sikap tersebut juga sejalan dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.
Al Aula juga mengingatkan WNI Muslim untuk menjaga citra positif Indonesia ketika berada di tengah masyarakat Jepang. Terlebih, identitas keislaman yang ditunjukkan melalui pakaian maupun aktivitas sehari-hari perlu diikuti dengan perilaku yang mencerminkan ajaran Islam.
“Jika kita mengenakan busana yang menunjukkan identitas ke-Islaman tentu harus kita jaga dengan bersikap sesuai ajaran Islam,” ujarnya.
Terkait ibadah, Al Aula menegaskan salat lima waktu tetap menjadi kewajiban bagi umat Muslim. Namun, pelaksanaannya perlu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat tinggal maupun aktivitas masing-masing.
### KBRI Tokyo Sebut WNI Jadi Duta Bangsa
Al Aula menyebut KBRI Tokyo terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan komunitas WNI di Jepang. Saat ini terdapat lebih dari 260 ribu WNI di Jepang dengan berbagai latar belakang agama dan aktivitas.
Dia meminta WNI di Jepang turut menunjukkan citra Indonesia sebagai bangsa yang tertib, taat hukum, dan mampu membangun hubungan baik dengan masyarakat setempat.
“Teman-teman semua adalah duta bangsa Indonesia di Jepang. Tunjukkan bahwa kita semua adalah bangsa yang tertib taat hukum dan siap bersahabat dengan siapapun,” tuturnya.
Ketua Panitia Tabligh Akbar Safari Dakwah Moch. Zamzam Rajab Awaluddin mengapresiasi dukungan KBRI Tokyo terhadap kegiatan tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini digelar untuk membantu Muslim Indonesia di Jepang menjalankan kehidupan sehari-hari dengan tetap dapat beribadah secara tenang.
“PCI Muhammadiyah Jepang berupaya membantu Muslim Indonesia di Jepang dapat dengan tenang menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik di negeri Sakura sambil tetap menjalani beribadah dengan hati tenang,” kata Zamzam.
### Bahas Kemudahan Ibadah di Jepang
Sementara itu, Ustadz Nur Fajri Romadhon menjelaskan bahwa Islam memberikan kemudahan bagi umat Muslim dalam menjalankan ibadah ketika berada dalam kondisi tertentu, termasuk saat tinggal di negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim.
Dia menjelaskan terdapat perbedaan penerapan sejumlah aturan fikih ketika umat Muslim berada di negeri minoritas. Dalam kondisi yang sulit, terdapat sejumlah bentuk keringanan yang dapat diterapkan selama tetap sesuai dengan ketentuan agama.
“Kalau memang beberapa situasi tidak memungkinkan maka ada pembahasan terkait salat, makanan, pakaian yang bisa disesuaikan selama kita ada di Jepang,” jelas Nur Fajri.
Menurutnya, umat Muslim di Jepang juga memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat sekitar.
“Pada akhirnya kita punya amanah untuk memaksimalkan potensi kita menyebarkan kebaikan kepada seluruh umat manusia termasuk di Jepang,” ujarnya.
### Cerita WNI Muslim Beradaptasi di Jepang
Sejumlah peserta turut membagikan pengalaman mereka selama tinggal di Jepang, terutama dalam menjalankan ibadah dan beradaptasi dengan lingkungan masyarakat setempat.
Fani Lupita, seorang pekerja sekaligus mahasiswi yang telah 13 tahun tinggal di Jepang, mengatakan proses adaptasi dilakukan secara bertahap. Salah satu tantangannya ialah membuat lingkungan sekitar memahami aktivitas ibadah yang dijalankannya sebagai seorang Muslim.
“Sulit sih engga ya. Mungkin di awal saya coba adaptasi dengan lingkungan saya. Jadi pelan-pelan sambil sedikit demi sedikit membuat orang di sekitar kita paham dengan ritme ibadah yang kita jalani,” kata Fani.
Pengalaman serupa disampaikan Okvianingsih yang telah 12 tahun bekerja dan tinggal di Jepang. Dia mengaku pada awalnya mengalami kesulitan menemukan tempat ibadah dan makanan halal.
“Awalnya berat ya. Karena terkait dengan tempat beribadat yang tidak ada di tempat aktivitas saya. Belum lagi soal makanan halal. Tapi Alhamdulillah lambat laun dapat teratasi,” tuturnya.
Tabligh Akbar Safari Dakwah bertema ‘Harmoni Iman, Ilmu dan Amal di Negeri Sakura’ tersebut digelar pada 1-12 Agustus 2026. Selain Tokyo, rangkaian kegiatan juga berlangsung di Fukuoka, Yokohama, Osaka, Hiroshima, Kyoto, Nagoya, dan Hokkaido.
Sumber: KBRI Tokyo
Baca juga :





