Connect with us

Hukum

Polisi Tangkap Ribuan Orang yang Dilabeli Anarko

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Sebanyak 1.192 orang ditangkap polisi terkait aksi demo menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di wilayah Jakarta. Mereka dilabeli polisi sebagai anarko.

Jumlah tersebut merupakan hasil razia atau patroli yang dilakukan oleh kepolisian sejak Rabu (07/10) hingga Kamis (08/10) kemarin.

“Sampai dengan saat ini memang ada 1.192 yang telah kita amankan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jumat (09/10).

Baca juga: Demo UU Ciptaker, Pangdam Jaya: Perusuh Dari Anarko

Yusri menuturkan ribuan orang itu merupakan anarko, dan bukan bagian dari para buruh yang memang ingin menyuarakan aspirasi lewat demo.

Ribuan orang itu, kata Yusri, memiliki profesi yang berbeda-beda. Namun, sebagian besar merupakan pelajar STM.

“1.192 ini saya katakan adalah anarko, tapi profesi mereka berbeda-beda. Anarko itu bukan profesi, anarko itu orang yang niat melakukan kerusuhan, siapa-siapa saja mereka ada yang pelajar, ada yang pengangguran, hampir setengahnya pelajar STM,” tuturnya.

Yusri menyebut sebanyak 285 orang dari 1.192 yang diamankan itu terindikasi melakukan pengeroyokan hingga membawa senjata tajam. Saat itu, lanjutnya, masih dilakukan pendalam terhadap 285 orang itu.

“Ada indikasi perlu pendalaman lagi, 285 orang, baik itu dia melakukan pengeroyokan dia melakukan suatu tindakan, ada yang membawa sajam,” ucap Yusri.

Demo menolak Omnibus Law Cipta Kerja di Jakarta, Kamis (08/10) kemarin berakhir dengan kericuhan dan perusakan serta pembakaran sejumlah fasilitas umum.

Setidaknya ada 20 halte bus Transjakarta juga menjadi sasaran aksi perusakan hingga pembakaran oleh massa. Yakni, halte Bundaran HI, halte Sarinah, halte Pasar Senen, halte Tosari Baru, dan lainnya.

Selain itu, sebanyak tiga pos polisi yang dibakar oleh massa, yakni pos polisi Patung Kuda Arjuna Wiwaha, pos polisi Tugu Tani, serta pos polisi Harmoni.

IG

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum

Novel Bamukmin Siap Advokasi Gus Nur: Sudah Tidak Kagetlah Dengan Ulah Rezim Ini

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Wakil Ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) Novel Bamukmin mengaku sudah tidak syok begitu mendengar kabar Sugi Nur Rahardja alias Gus Nur dicokok pihak kepolisian di Malang, Jawa Timur pada 24 Oktober 2020.

Musababnya, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) lagi-lagi bakal dipaksakan menjadi batu sandungan terhadap aktor pengkritik pemerintahan Presiden Jokowi.

“Sudah tidak kaget lah dengan ulah rezim ini. Semua lawan politiknya yang masih berani menyuarakan kebenaran dan menyuarakan hati nurani rakyat (ditangkap), yang sudah tidak tahan dengan semakin zalimnya rezim ini,” ujar Novel Bamukmin, Minggu (25/10) dikutip Tagar.

Baca juga: Gus Nur Mantan Pemain Debus yang Berujung Jeruji 

Novel mengatakan dirinya siap untuk advokasi dengan memberikan bantuan hukum kepada Gus Nur.

“Siap, insyaAllah ACTA akan memberikan advokasi, minimal saya pribadi,” katanya.

Selain itu, Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (PA) 212 itu menyinggung hasil survei yang dilakukan Indonesia Political Review (IPR), mengenai kepuasan masyarakat terhadap setahun kinerja Kabinet Pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin belum menyentuh angka 50 persen.

“Karena juga menurut salah satu lembaga survei telah terbukti lebih dari 50 persen rakyat ini sangat kecewa. Artinya, memang lebih banyak yang kecewa,” ucapnya.

Sebelumnya, Gus Nur dilaporkan Ketua Pengurus Nahdlatul Ulama Cabang Cirebon Azis Hakim ke Bareskrim Polri kemarin. Laporan itu bernomor LP/B/0596/X/2020/BARESKRIM tanggal 21 Oktober 2020.

Azis selaku pelapor mengatakan pihaknya melaporkan dengan dugaan tindak pidana penghinaan dan ujaran kebencian melalui media elektronik.

“Bahwa Gus Nur ini sudah berkali-kali melakukan ujaran kebencian terhadap Nahdlatul Ulama. Tidak hanya sekarang ini, tapi sebelum-sebelumnya juga Gus Nur sudah melakukan dan sering melakukan ujaran kebencian terhadap Nahdlatul Ulama,” tutur Azis.

Teranyar, Kepala Divisi Humas Kepolisian RI Inspektur Jenderal Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono menjelaskan, penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri akan menahan Gus Nur 20 hari ke depan setelah yang bersangkutan ditangkap di Malang, Jawa Timur.

IG

Continue Reading

Hukum

Gus Nur, Mantan Pemain Debus yang Berujung Jeruji

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Kepala Divisi Humas Markas Besar Kepolisian RI (Mabes Polri) Inspektur Jenderal Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono mengatakan Sugi Nur Rahardja alias Gus Nur akan ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Bareskrim Polri selama 20 hari ke depan.

“20 hari (di) Rutan Bareskrim,” ujar Argo, Minggu, 25 Oktober 2020 seperti dikutip Tagar.

Sebelumnya, Gus Nur ditangkap di kediamannya usai menghadiri pengajian di Kota Malang. Penangkapan tersebut terkait kasus penyebaran informasi yang bermuatan suku, agama, ras, antargolongan (SARA) dan penghinaan terhadap Nahdlatul Ulama (NU).

Baca juga: Momen Gus Nur Salat Maghrib Berjamaah di Bareskrim di Sela Pemeriksaan

Siapa sebenarnya sosok Gus Nur? Ia bernama Sugi Nur Raharja dikenal sebagai seorang pendakwah. Ia lahir di salah satu desa di Banten pada tanggal 11 Februari 1974. Ketika usianya menginjak dua tahun, Gus Nur pindah ke rumah kediaman ibunya di Bantul.

Setelah itu, Gus Nur pindah ke sebuah desa yang bernama Gempeng, kecamatan Bangil, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sosok Gus Nur terbilang cukup kontroversial.

Bahkan, dalam video YouTube Cokro TV  yang diupload pada Rabu, 21 Oktober 2020 lalu, pegiat media soial, Denny Siregar mengungkap rekam jejak pria 46 tahun ini.

Menurut Denny, Gus Nur tak pantas dipanggil Gus lantaran bukan anak kyai, sedang panggilan itu hanya diperuntukkan untuk anak kyai. Bahkan, Gus Nur diketahui tak pernah mengenyam pendidikan di bangku pesantren.

Sebelum dikenal sebagai penceramah, Gus Nur telah melewati beragam pekerjaan yang terbilang keras. Ia pernah bekerja sebagai pemain debus mengikuti jejak ayahnya. Sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalanan.

Selama menjalani hidup yang keras itu, Denny menyebut jika Gus Nur beberapa kali terlibat tindak kriminalitas. Selain menjadi pemain debus, Gus Nur juga pernah bekerja sebagai penjual obat keliling.

Pekerjaan itu dilakoninya selama bertahun-tahun. Di samping berjualan obat, ia juga mulai belajar agama. Dari situ lah, Gus Nur dinilai mulai membangun citra sebagai seorang penceramah. Lambat laun, dirinya mulai dikenal sebagai seorang ustadz dan diundang untuk berceramah di berbagai kesempatan.

Dalam setiap ceramahnya, Gus Nur kerap melontarkan kalimat provokatif dan kebencian terhadap NU dan Banser.

Sebelumnya diberitakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menanggapi penetapan Sugih Nur Raharja alias Gus Nur sebagai tersangka dalam kasus ujaran kebencian. PBNU pun meminta warga Nahdliyin menyerahkan proses hukum kasus tersebut kepada pihak kepolisian.

“Meminta keluarga besar NU untuk tidak terprovokasi dan melakukan hal-hal yang berada di luar koridor hukum,” ujar Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini dalam keterangannya yang diterima Tagar, Sabtu, 24 Oktober 2020.

Helmy mengapresiasi kinerja kepolisian yang dengan cepat menangkap serta menetapkan Gus Nur sebagai tersangka. Menurut dia, hal itu telah menunjukkan Kepolisian RI (Polri) bekerja secara profesional.

IG

Continue Reading

Hot Topic

Momen Gus Nur Salat Maghrib Berjamaah di Bareskrim di Sela Pemeriksaan

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Sugi Nur Rahardja alias Gus Nur kini menjalani pemeriksaan intensif, setelah tiba di Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim, Mabes Polri, Jakarta Selatan, tadi siang. Di sela pemeriksaan, penyidik memberikan kesempatan Gus Nur untuk menunaikan ibadah salat maghrib.

“Tadi azan, kami istirahat sebentar dari pemeriksaan. Kami berikan tersangka waktu isoma (istirahat, salat, makan) yang merupakan hak tersangka,” kata Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Slamet Uliandi kepada detikcom, Sabtu (24/10).

Slamet menuturkan pemeriksaan dilanjutkan usai Gus Nur menunaikan salat dan menyantap makanan. Dari foto yang diterima awak Media, Gus Nur terlihat mengenakan baju koko putih dan celana panjang hitam.

Baca juga: Gus Nur Ditangkap di Malang, Diduga Lakukan Ujaran Kebencian 

Gus Nur nampak menunaikan salat berjamaah dengan penyidik. Salat berjamaah ini diimami oleh seorang penyidik Bareskrim yang mengenakan seragam biru dongker bertuliskan ‘Siber Polri’ pada bagian punggungnya.

Seperti diketahui, Gus Nur ditangkap di kediamannya, Malang, Jawa Timur (Jatim) tengah malam tadi. Gus Nur dibawa langsung dari kediamannya di Malang, Jawa Timur ke Bareskrim Polri, Jakarta Selatan.

Ia dinilai menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan terkait NU. Pernyataan Gus Nur tersebut disebarkan dalam akun YouTube MUNJIAT Channel pada 16 Oktober 2020.

Gus Nur mulanya dilaporkan oleh Ketua Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Cirebon Azis Hakim ke Bareskrim Polri kemarin. Laporan itu bernomor LP/B/0596/X/2020/BARESKRIM tanggal 21 Oktober 2020. Azis selaku pelapor mengatakan pihaknya melaporkan dengan dugaan tindak pidana penghinaan dan ujaran kebencian melalui media elektronik.

Kini Gus Nur berstatus tersangka. Slamet sebelumnya menjelaskan keputusan menahan atau tidak Gus Nur ditentukan dalam 1 x 24 jam usai penangkapan.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC