Connect with us

Lifestyle & Sport

Polri Pelajari Surat Perizinan Liga 1 dan Liga 2

Published

on

Channel9.id – Jakarta. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono menyatakan, pihaknya sudah menerima surat terkait perizinan kegiatan Liga 1 dan Liga 2 di Indonesia. Polri saat ini sedang mempelajari surat tersebut.

“Yang jelas surat itu sudah diterima, sekarang sedang dipelajari,” kata Rusdi, Jumat 5 Februari 2021.

Polri nantinya akan mengumumkan apakah Liga 1 dan Liga 2 tersebut diizinkan atau tidak di tengah pandemi Covid-19.

“Nanti apabila telah dikeluarkan izinnya atau tidak nanti akan disampaikan ke publik. Tetapi sampai sekarang izin itu belum keluar,” katanya.

Sebelumnya, Polri menyatakan, Liga 1 dan Liga 2 Indonesia kemungkinan bisa dilaksanakan pada 2021 di tengah pandemi Covid-19.

“Kemarin saya mendapatkan informasi dari Asisten Operasi Kapolri Irjen Polisi Imam Sugianto yang menyatakan bahwa kegiatan liga sepak bola kemungkinan bisa dilaksanakan. Ini sudah dipertimbangkan,” kata Kepala Bidang Kerja Sama Baintelkam Polri Kombes Budi Sajidin di Jakarta, Rabu 3 Februari 2021.

Namun, dia mengingatkan bahwa pelaksanaan liga wajib menaati protokol kesehatan ketat demi mencegah Covid-19. Salah satu permintaan Polri adalah semua pertandingan berlangsung tanpa penonton.

“Pada prinsipnya, kami sayang kepada masyarakat. Kami ingin kegiatan ini maju dan bisa berkompetisi kembali,” kata Budi.

Diketahui sebelumnya, Polri sama sekali tidak memberikan izin untuk menggelar Liga 1 dan 2 yang membuat musim 2020 terpaksa dihentikan total.

Menurut Budi, Polri ketika itu belum memberikan izin karena mereka menaati peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan telegram Kapolri.

Namun, setelah berdiskusi dengan banyak pihak termasuk Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali yang turut berkomunikasi dengan Polri, Polri siap memberikan izin pelaksanaan liga.

Izin itu juga berlaku untuk cabang olahraga lainnya. Budi mengingatkan, sepak bola dan cabang-cabang olahraga lain juga harus mengajukan permohonan izin dan melampirkan beragam kelengkapan administrasi terutama dalam kaitan pencegahan Covid-19.

“Tolong bersurat ke Mabes Polri, mengajukan kegiatan olahraga. Lampirkan persyaratan-persyaratan protokol kesehatan ketat dan dilampirkan pula surat dari Satuan Tugas Penanganan Covid-19, rekomendasi KONI dan Menpora, agar nanti dibahas di Mabes Polri,” kata Budi.

Liga Indonesia Baru (LIB) sendiri berencana menggelar Liga 1 dan Liga 2 Indonesia musim 2021 setelah Hari Raya Idul Fitri.

Sebelum itu, jika izin Polri sudah keluar, PSSI dan LIB berencana melangsungkan kompetisi pramusim sebelum Lebaran.

HY

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lifestyle & Sport

Stres Bikin Seseorang Lebih Memilih Saat Baca Berita

Published

on

By

Stres Bikin Seseorang Lebih Pemilih Saat Baca Berita

Channel9.id-Jakarta. Stres datang tak memandang usia. Tua hingga muda pasti pernah mengalaminya. Di masa pandemi Covid-19 ini, misalnya, kiranya stres dirasakan mereka semua. Misalnya, anak kecil tak bisa main sebebas seperti sebelum pandemi dan orang dewasa terpaksa kehilangan pekerjaan lantaran perusahaan sangat minim pendapatan.

Belum lagi, berita tentang kematian akibat pandemi dan segala hal terkait cenderung meningkatkan rasa cemas dan khawatir. Hal ini bisa memperparah stres.

Berbicara soal stres, kondisi ini ternyata bisa mengubah cara orang menanggapi kabar buruk. Menurut penelitian yang diterbitkan Scientific Report, ada hubungan antara hormon stres dengan cara orang menerima informasi yang berisiko. Didapati bahwa saat menghadapi berita buruk, seseorang yang tertekan dan stres lebih selektif dan teliti, terutama saat ingin membagikan berita tersebut.

Selain itu, bagaimana stres bisa memengaruhi seseorang dalam menghadapi kabar buruk berkaitan pula dengan hormon endokrin. Umumnya, hormon ini bisa membikin seseorang meremehkan risiko dari sebuah informasi. Di sisi lain, bisa juga stres membikin seseorang menilai segala sesuatu sebagai hal yang berisiko tinggi. Keduanya tentu punya efek yang berbahaya.

Meremehkan informasi yang berisiko tentu bisa membuat seseorang menjadi tak acuh. Sementara, melebih-lebihkan informasi busa meningkatkan rasa cemas dan memicu perilaku berbahaya.

Suka atau tidak, berita buruk pasti tersebar. Terlebih Kamu memang harus memenuhi kebutuhan informasi guna mendapat informasi terkini, utamanya soal pandemi Covid-19 ini. Untuk mengurangi rasa cemas hingga stre, ada sejumlah hal yang bisa Kamu lakukan dan terpatri di pikiranmu.

1. Sadari ada hal di luar kendalimu
Salah satu cara untuk menangani kabar buruk saat dilanda stres adalah menerima kenyataan yang ada. Salah satunya dengan menyadari bahwa ada hal yang ada di luar kendalimu. Sadar atau tidak, seseorang akan merasa tertekan dan stres karena tak bisa mengendalikan hal yang terjadi.

2. Mencari kegiatan positif
Setelah pikiran tadi terpatri di pikiranmu, Kamu bisa mencari kegiatan positif sebagai cara untuk menangani kabar buruk. Kamu bisa melakukan hobimu, menjadi sukarelawan hingga memberi perhatian penuh kepada keluarga dan teman yang membutuhkan. Demikianlah cara paling mudah agar Kamu tetap bisa berkontribusi dan menangani informasi buruk, dengan fokus di lingkup terkecil.

3. Jaga kesehatan fisik dan mental
Selain itu, sangat penting bagimu untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Makan teratur, rutin berolahraga, dan tidur yang cukup termasuk cara agar Kamu tak rentan dilanda stres. Sebaliknya, jika kondisimu tak sehat, stresmu cenderung lebih parah sehingga berdampak pada fisik dan mentalmu.

Memang stres bisa membuatmu lebih teliti dalam menghadapi kabar buruk, namun Kamu harus mengelola stres agar kualitas hidup lebih baik dan bisa menangani masalah dengan lebih sehat.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Penularan Covid-19, Penggunaan Tali Masker Tak Dianjurkan

Published

on

By

Penularan Covid-19, Penggunaan Tali Masker Tak Dianjurkan

Channel9.id-Jakarta. Tren mengenakan strap atau tali masker berawal dari Korea Selatan di penghujung 2020. Sejumlah artis di Negeri Gingseng itu memopulerkannya hingga kemudian tren tersebut tiba di Indonesia.

Saat ini banyak toko-toko online yang menjual tali masker. Produk ini pun digandrungi kalangan anak muda di Indonesia. Selain fashionable, tali masker ini dinilai membantu mereka saat memang harus membuka masker, seperti makan. Masker cukup dibuka dan dibiarkan menjuntai hingga bawah dada.

Namun, akhir-akhir ini penggunaan tali masker disorot oleh Satgas Penanganan Covid-19. Pihak mereka bahkan tak menganjurkan penggunaannya lantaran berisiko menyebarkan virus Corona baru.

“Kalau kita turunkan pakai pengait itu sampai ke bawah, itu akan kena ke hijab, ke baju. Jadi sebenarnya bagian dalam masker itu tak boleh kontak dengan lain-lain, kecuali dengan bagian tubuh,” jelas Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Brigjen TNI (Purn) dr Alexander K Ginting, SpP (K) saat pers BNPB pada beberapa waktu lalu.

“Apalagi jika tangan kita menyentuh bagian luar kemudian menyentuh lagi bagian dalam. Naik turunnya masker itu yang kita khawatirkan terlebih jika jari-jari kita menyentuh bagian luar masker,” sambung dr Alex.

Hal yang senada pun dituturkan oleh dokter spesialis paru-paru Erlang Samoedro. Ia menilai penggunaan tali masker justru akan menambah atau memicu risiko penularan virus corona penyebab Covid-19.

“Justru berbahaya, karena lapisan luar yang berhubungan dengan udara luar jadi bisa terkena kulit atau terpegang oleh tangan. Terus, nanti tangan menyentuh mata hidung,” terang dia pada Rabu (24/1).

Sementara itu, dokter jantung sekaligus influencer kesehatan dari RS Siloam Karawaci dr Vito A Damay, SpJP membolehkan penggunaan tali masker, dengan syarat harus disteril. Ia pun menilai tali masker berguna bagi penggunanya.

“Menurut saya pribadi, sebenernya pakai strap tidak apa-apa asalkan disteril. Strap masker sebenernya membantu untuk bisa mengencangkan masker agar pas di wajah,” kata dr Vito, belum lama ini.

Namun, ia menegaskan bahwa masker tak boleh digantungkan dengan strap. Ia menyarankan untuk meletakkan masker di dalam kantong plastik atau di dalam saku.

Lebih lanjut, ia menyarankan untuk selalu mencuci tangan saat melepas dan menggunakan masker.

(LH)

Continue Reading

Lifestyle & Sport

Mengapa Ada Orang Tidur dengan Mulut Mangap?

Published

on

By

Mengapa Ada Orang Tidur dengan Mulut Mangap?

Channel9.id-Jakarta. Segelintir orang punya kebiasaan tidur dengan mulut menganga alias mangap. Apakah Kamu salah satunya? Kendati pun punya kebiasaan ini, barang tentu Kamu tak menyadarinya. Tentu saja karena Kamu sedang tidur saat mulut mangap. Justru, orang lain yang pertama kali menyadari kebiasaanmu ini.

Kalau bukan di rumah sendiri, tidur mangap bisa membikin Kamu malu. Terutama saat di tempat umum seperti kantor, di mana Kamu bisa tidur—mungkin mangap—beberapa menit di sela-sela istirahat. Namun, beruntunglah penggunaan masker selama pandemi Covid-19 ini membikin mulut mangapmu tak terkespos di tempat umum.

Nah, sebetulnya apa sih yang menjadi penyebab mulut mangap saat tidur?

Pertama, mungkin punya alergi terhadap hal tertentu, yang membikin pernapasanmu terganggu. Normalnya, Kamu bernapas lewat hidung. Namun saat alergi kambuh, saluran hidung terganggu. Sehingga tubuh secara otomatis membuka mulut, sebagai mekanisme untuk menghindari kekurangan oksigen.

Kedua, punya kebiasaan mengisap jari. Anak-anak biasanya punya kebiasaan ini. Kebiasaan ini berpotensi menimbulkan masalah pernapasan saat tidur.

Ketiga, punya amandel atau tonsil besar yang menghambat saluran pernapasan. Terakhir, hidung sedang tersumbat karena pilek atau flu. Kedua kondisi ini membikin seseorang tak bisa mendapat udara yang cukup jika bernapas lewat hidung. Sehingga, secara tak sadar mulut akan terbuka untuk mendapat udara.

Perlu Kamu ketahui, kebiasaan tidur dengan mulut mangap bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan, lo. Berikut ini dampaknya.

1. Mendengkur saat tidur
Saat mulut terbuka, udara akan keluar masuk melalui mulut melewati lidah dan langit-langit mulut. Udara yang masuk membuat lidah dan langit-langit bergetar dan getaran itu menimbulkan suara dengkuran.
Mendengkur memang hal yang wajar, namun tetap saja kebiasaan ini mengganggu kenyamanan orang lain.

2. Memperparah asma
Ternyata kebiasaan tidur dengan mulut mangap bisa memperparah gejala asma. Terlebih karena udara yang dihirup tak disaring oleh bulu-bulu halus—seperti yang ada di hidung, untuk menyaring debu dan lainnya dari udara. Sehingga, udara yang masuk cenderung mengandung alergen dan kotoran lainnya. Udara yang kotor ini langsung masuk ke paru-paru dan memperparah penyakit asma yang dialami.

3. Bau mulut dan karies gigi
Sudah disinggung sebelumnya, udara kotor masuk ke tubuh tanpa disaring. Hal ini membikin bakteri lebih mudah tumbuh dan berkembang di dalam mulut. Sehingga, mulut menjadi penuh dengan bakteri dan menimbulkan bau yang tak sedap dari mulut.

Selain itu, bakteri tersebut bisa memicu gigi keropos dan karies gigi.

(LH)

Continue Reading
Vaksin Corona

HOT TOPIC