Presiden Filipina Ancam Penjara Warga yang Tak Divaksin
Internasional

Presiden Filipina Ancam Penjara Warga yang Tak Divaksin

Channel9.id-Filipina. Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan kepada warga yang belum divaksin Covid-19 akan terancam dipenjara jika mereka tak mematuhi peraturan tak keluar rumah, Jumat (7/1/2022).

Dalam pidatonya yang disiarkan di televisi, Duterte mengutarakan kalau ia meminta setiap pemimpin daerah untuk mengawasi warga yang belum divaksin dan memastikan kalau mereka tak keluar rumah.

“Jika mereka menolak, jika mereka keluar rumah dan berkeliaran kemana-mana, mereka bisa ditangkap. Jika mereka menolak, maka pihak berwajib mempunyai wewenang untuk memenjarakan mereka,” ujar Duterte.

Penularan Covid-19 per hari di Filipina mencapai jumlah tertingginya pada hari Kamis, sampai 17,220, ungkap Kementerian Kesehatan Filipina. Jumlah itu sudah termasuk mereka yang terjangkit karena varian Omicron.

Jumlah tersebut membuat total kasus Covid-19 sejak awal pandemi di Filipina mencapai 2.88 juta dan 51,700 korban meninggal. Jumlah tersebut membuat total kasus Covid-19 Filipina menduduki peringkat kedua tertinggi di Asia Tenggara, di bawah Indonesia.

“Saya bertanggung jawab atas keamanan dan kesehatan setiap warga Filipina,” ujar Duterte dalam pidatonya.

Pada akhir tahun lalu, sekitar 49,8 juta warga Filipina sudah divaksin penuh, atau sekitar 45% populasi warga Filipina yang mencapai 110 juta orang. Dibawah kebijakan saat ini, warga yang belum divaksin di kota Manila hanya dapat keluar rumah untuk kegiatan-kegiatan penting.

Duterte dikenal dengan perawakan retorika kerasnya. Tahun lalu, ia mengancam warganya yang menolak divaksin dengan ancaman penjara atau disuntik Ivermectin, sebuah obat anti-parasit yang biasa digunakan untuk hewan.

Namun ancamannya kali ini menekankan meningkatnya kekhawatiran pemerintah terhadap naiknya angka kasus Covid-19 yang para ahli sudah peringatkan dapat membuat sistem kesehatan negara kewalahan lagi.

Sejauh ini Filipina telah mendeteksi 43 kasus Omicron, lokal dan impor. Ini memicu pemerintah untuk mengetatkan kebijakannya pada minggu ini.

(RAG)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

70  +    =  77