Channel9.id, Jakarta. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memaparkan strategi pemerintah di balik pencapaian swasembada beras sekaligus peningkatan kesejahteraan petani. Ia menyampaikan hal tersebut kepada sejumlah pengamat lintas bidang saat inspeksi mendadak (sidak) terbuka di gudang beras Bulog Karawang, Kamis (23/4/2026).
Amran menegaskan capaian swasembada beras 2025 tidak berasal dari manipulasi data. Ia menyebut sejumlah lembaga internasional turut mengonfirmasi peningkatan produksi beras Indonesia.
Data FAO mencatat produksi beras Indonesia pada musim tanam 2025/2026 mencapai 35,6 juta ton. Sementara itu, data USDA memperkirakan produksi sebesar 34,6 juta ton pada 2025. Angka tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS).
“FAO mencatat 35,6 juta ton, USDA 34,6 juta ton. Artinya, data internasional juga mengonfirmasi peningkatan produksi beras Indonesia,” ujar Amran.
Kebijakan Kunci Dongkrak Produksi
Amran menjelaskan pemerintah mendorong peningkatan produksi melalui berbagai kebijakan strategis, mulai dari pembangunan irigasi, pompanisasi, perbaikan benih, hingga program cetak sawah baru.
Program pompanisasi menjadi salah satu faktor utama. Kebijakan ini meningkatkan intensitas tanam di lahan tadah hujan dari satu kali menjadi dua kali dalam setahun, sehingga petani tidak lagi bergantung pada musim hujan.
Dari pompanisasi di lahan seluas 1 juta hektare, pemerintah mampu meningkatkan produksi hingga 5 juta ton gabah kering panen (GKP).
“Dari satu kali tanam menjadi dua kali, tambahan produksi bisa mencapai 5 juta ton GKP,” jelasnya.
Selain itu, pemerintah juga mengoptimalkan lahan rawa yang sebelumnya tidak produktif, memperluas penggunaan alat mesin pertanian (alsintan), serta mencetak sekitar 200 ribu hektare sawah baru.
Kesejahteraan Petani Ikut Meningkat
Amran menegaskan pemerintah tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada kesejahteraan petani. Pemerintah menyediakan pupuk subsidi, memperbaiki irigasi, dan menaikkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Kebijakan tersebut menurunkan biaya produksi sekaligus meningkatkan harga jual hasil panen. Dampaknya, petani menjadi lebih produktif dan bersemangat untuk menanam.
“Harga pupuk kami tekan, irigasi kami perbaiki, pompanisasi kami dorong, dan HPP kami naikkan. Petani merasakan langsung manfaatnya,” ujarnya.
Data BPS menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125,45 pada Februari 2026, tertinggi sepanjang sejarah.
Stok Beras Capai Rekor
Selain peningkatan produksi, Amran juga menyoroti cadangan beras pemerintah (CBP) yang menembus 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Ia membuka akses bagi publik untuk memverifikasi langsung kondisi tersebut di gudang Bulog di seluruh Indonesia.
“Silakan cek langsung ke gudang-gudang Bulog. Kami terbuka untuk semua pihak, mulai dari pengamat, akademisi, hingga masyarakat umum,” tegasnya.
Amran menilai capaian ini merupakan hasil kerja bersama seluruh pemangku kepentingan dalam sektor pertanian nasional.





