Rachel Amanda Ungkap Tantangan dalam Bangun Karakter Monster Pabrik Rambut
Lifestyle & Sport

Rachel Amanda Ungkap Tantangan dalam Bangun Karakter Monster Pabrik Rambut

Channel9.id-Jakarta. Membintangi sebuah film tentu ada tantangan tersendiri. Apalagi film horor dengan karakter monster yang jarang diangkat dalam film-film Indonesia bergenre horor lainnya. Kali ini, aktris Rachel Amanda yang mengungkapkan tantangan dalam pendekatan yang digunakan oleh tim produksi film ‘Monster Pabrik Rambut’. Dalam film tersebut, Rachel Amanda tertantang untuk membangun karakter Putri, termasuk pengaruh penggunaan lensa kontak khusus dan pengaturan ritme dialognya.

Amanda menyampaikan lensa kontak yang digunakannya memiliki diameter sedikit lebih besar dari ukuran normal matanya untuk menciptakan kesan tertentu pada karakter yang ia mainkan, tanpa membuat tampilan terlihat mencolok.

“Tapi nambah diameter dikit. Jadi bukannya kayak contact lens hitam yang agak-agak Jepang anime gitu, enggak gitu,” kata Rachel Amanda di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).

Menurut Rachel Amanda, perubahan kecil tersebut cukup untuk memunculkan rasa tidak nyaman atau keanehan pada bagian mata saat memerankan karakter Putri.

“Itu tuh udah ngasih looks yang kayak, rasanya tuh kalau nonton film gini, ‘Itu tuh matanya kayak ada yang aneh, nih. Apa ya?’ Enggak sih, gitu. Kayak matanya biasa aja, gitu,” bebernya.

Selain penampilan visual, tim produksi juga mengatur cara para pemain berbicara untuk menggambarkan kondisi pekerja pabrik yang mengalami kurang tidur.

Rachel menerangkan dialog dibuat tidak selalu mengalir normal, dengan tempo yang berubah-ubah untuk memperkuat suasana cerita.

“Kadang kayak ngomongnya tuh rada ngelantur, kadang cepet, kadang enggak, gitu. Nah, ini tuh dikondisikan gimana sebenarnya dalam situasi biasa aja udah janggal,” terangnya.

Upaya membangun atmosfer film juga dilakukan melalui tata rias. Departemen makeup membuat efek mata cekung pada para pemain dengan tingkat yang berbeda-beda sesuai kondisi karakter dalam cerita.

“Sudah berapa hari kurang tidur itu pasti beda dengan yang baru seharian aja enggak tidur. Misalnya gitu,” ujar Rachel.

Rachel Amanda menambahkan seluruh elemen tersebut dirancang secara kolaboratif oleh tim produksi untuk menciptakan suasana yang mendukung narasi film dan memperkuat pengalaman penonton dalam mengikuti kisah yang diangkat.

Film ‘Monster Pabrik Rambut’ dikenal juga dengan judul internasional Sleep No More ini adalah film horor fantasi gelap yang menyoroti kisah tiga saudara—Putri, Ida, dan Bona—yang bekerja di pabrik rambut “PT Raga Abadi” demi menyelidiki kematian misterius ibu mereka. Di sana, mereka mendapati karyawan tereksploitasi hingga mengalami kesurupan akibat jam kerja yang tidak manusiawi.

Film ini berpusat pada Putri (Rachel Amanda) dan Ida (Lutesha) yang kembali ke kampung halaman setelah kematian janggal ibu mereka. Untuk mengungkap fakta sebenarnya dan melunasi hutang, mereka terpaksa menjadi buruh di pabrik rambut tempat sang ibu sebelumnya bekerja. Karena terdesak hutang, saudara mereka, Bona (Iqbaal Ramadhan), kemudian ikut menyusul bekerja di pabrik tersebut.

Di dalam lingkungan pabrik yang dikelola oleh Maryati (Didik Nini Thowok), mereka menemukan aturan kerja yang sangat mencekam. Para pekerja diwajibkan untuk terus berproduksi dan tidak diberikan waktu untuk tidur atau beristirahat jika jadwal lembur tiba.

Kelelahan ekstrem yang dialami para buruh rupanya memicu berbagai kejanggalan, di mana para karyawan mulai mengalami kesurupan massal dan teror mengerikan. Ketiga bersaudara tersebut kemudian bertekad untuk mengungkap dan menghentikan rahasia gelap di balik eksploitasi dan monster yang ada di pabrik tersebut.

Lebih dari sekadar tayangan horor fantasi biasa, film karya sutradara Edwin yang skenarionya hasil garapan Edwin bersama Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga ini membawa kritik sosial yang tajam mengenai sistem kapitalisme dan kelelahan dunia kerja modern. Film ini menggambarkan bagaimana manusia sering kali diperas tenaganya dan diubah layaknya mesin demi mengejar target produksi di era industri modern.

Film produksi Palari Films bekerja sama dengan studio dari Singapura, Jepang, Jerman, dan Prancis ini tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 4 Juni 2026.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5  +  2  =