Film ‘Monster Pabrik Rambut Angkat’ tentang Perburuhan dalam Sistem Kerja kapitalisme
Lifestyle & Sport

Film ‘Monster Pabrik Rambut Angkat’ tentang Perburuhan dalam Sistem Kerja kapitalisme

Channel9.id-Jakarta. Sebuah film tak hanya hiburan semata, tapi juga menyampaikan pesan. Apalagi film tentang pabrik yang tentu sangat berkaitan erat tentang perburuhan. Demikian dengan sutradara Edwin yang menyampaikan film barunya berjudul ‘Monster Pabrik Rambut’. Sebuah film horor fantasi gelap yang mengangkat tentang perburuhan dalam sistem kerja kapitalisme.

“Saya rasa perlu gitu kita sekali-kali menginvestigasi, mempertanyakan kembali mengenai apakah suku cadangnya perlu diganti, apakah oli-olinya perlu diganti lagi, dibersihkan, bahkan kalau perlu direvolusi atau dibentuk ulang lagi,” ujar Edwin saat ditemui di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).

Lebih lanjut, Edwin menerangkan bahwa sosok monster dalam film ‘Monster Pabrik Rambut’ adalah simbol dari kapitalis yang jahat.

“Monster itu bagian dari yang menurut saya adalah satu bentuk yang perlu kita kritisi di sini, semuanya yang andil, mengeksploitasi ataupun dieksploitasi, mereka mengamini itu ya, menormalisasi,” terang Edwin.

Edwin menyampaikan kondisi kerja saat ini tidak manusiawi karena kejahatan para “monster” dalam kapitalis itu. Ia mencontohkan dengan pekerja yang dibiasakan lembur atau masih harus membalas pesan dari atasan setelah jam kerja berakhir. Kebiasaan yang tidak manusiawi tersebut terjadi karena bentuk monster yang harus dikritisi itu sama-sama muncul.

Meskipun film ini bertujuan mengkritik sistem kapitalis, namun Edwin berusaha tetap mengemasnya sebagai tontonan yang menghibur bagi penonton.

Untuk urusan teknis, produksi film itu dibuat realistis dengan pendekatan seakurat mungkin agar aktor benar-benar bisa merasakan tekanan murni yang dirasakan para karakter di dalam film.

Edwin dan tim sepakat meminimalisasi penggunaan Computer-Generated Imagery (CGI) yang kompleks.

​”Karena buat kami film itu sensory, memang bisa dipegang, bisa dilihat, bisa didengar, bahkan ada baunya,” ungkap Edwin menjelaskan kenapa ia lebih memilih metode syuting dengan efek praktikal.

Sutradara Edwin mengungkapkan bahwa sekitar 80 hingga 90 persen elemen visual itu dibuat fisik sesuai dengan kebutuhan adegan.

Penggunaan properti seperti miniatur, darah buatan, sampai detail rambut monster itu membuat respons emosional para aktor menjadi lebih jujur saat berakting.

Hal itu diakui oleh produser eksekutif Iqbaal Ramadhan, yang juga terlibat sebagai pemeran karakter bernama Bona dalam film “Monster Pabrik Rambut”.

Iqbaal menjelaskan bahwa efek praktikal menuntut dedikasi tinggi dari para aktor. Mereka diharuskan untuk benar-benar hadir dan merespons situasi nyata di depan mata, alih-alih berakting di depan layar hijau (green screen). Proses itu dinilai cukup menantang karena jika adegan harus diulang, kru dan aktor membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan reset agar semua detail fisik kembali pada posisinya.

​”Tidak ada ruang bagi kami untuk berpura-pura sebagai aktor. Tubuh kami harus merespons tentang apa yang terjadi di depan mata kami,” ujar Iqbaal.

Ia menambahkan, tekanan dirasakan oleh aktor karena seluruh tim produksi, mulai dari departemen desain produksi hingga penata cahaya (gaffer), bekerja dengan visi yang sama untuk menciptakan tontonan horor yang berani dan berbeda bagi industri perfilman Indonesia.

​Film ‘Monster Pabrik Rambut’ dikenal juga dengan judul internasional Sleep No More ini menyoroti kisah tiga saudara—Putri, Ida, dan Bona—yang bekerja di pabrik rambut “PT Raga Abadi” demi menyelidiki kematian misterius ibu mereka. Di sana, mereka mendapati karyawan tereksploitasi hingga mengalami kesurupan akibat jam kerja yang tidak manusiawi.

Kisahnya berpusat pada Putri (Rachel Amanda) dan Ida (Lutesha) yang kembali ke kampung halaman setelah kematian janggal ibu mereka. Untuk mengungkap fakta sebenarnya dan melunasi hutang, mereka terpaksa menjadi buruh di pabrik rambut tempat sang ibu sebelumnya bekerja. Karena terdesak hutang, saudara mereka, Bona (Iqbaal Ramadhan), kemudian ikut menyusul bekerja di pabrik tersebut.

Di dalam lingkungan pabrik yang dikelola oleh Maryati (Didik Nini Thowok), mereka menemukan aturan kerja yang sangat mencekam. Para pekerja diwajibkan untuk terus berproduksi dan tidak diberikan waktu untuk tidur atau beristirahat jika jadwal lembur tiba.

Kelelahan ekstrem yang dialami para buruh rupanya memicu berbagai kejanggalan, di mana para karyawan mulai mengalami kesurupan massal dan teror mengerikan. Ketiga bersaudara tersebut kemudian bertekad untuk mengungkap dan menghentikan rahasia gelap di balik eksploitasi dan monster yang ada di pabrik tersebut.

Lebih dari sekadar tayangan horor fantasi biasa, film karya sutradara Edwin yang skenarionya hasil garapan Edwin bersama Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga ini membawa kritik sosial yang tajam mengenai sistem kapitalisme dan kelelahan dunia kerja modern. Film ini menggambarkan bagaimana manusia sering kali diperas tenaganya dan diubah layaknya mesin demi mengejar target produksi di era industri modern.

Film ini sudah tayang di berbagai festival dunia, mulai dari Berlin International Film Festival (Berlinale) pada Februari serta Brussels Fantastic Film Festival dan Hong Kong International Film Festival pada April lalu.

Film ‘Monster Pabrik Rambut’ tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 4 Juni 2026. Kemudian, film ini juga dijadwalkan akan tampil di Fantasia International Film Festival 2026 di Montreal, Kanada pada Juli 2026 mendatang.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  +  41  =  45