Connect with us

Politik

Sekjen DPR: 346 Orang di Lingkungan Gedung DPR Sembuh dari Covid-19

Published

on

Channel9.id – Jakarta. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPR Indra Iskandar menyampaikan, sebanyak 346 orang di lingkungan Gedung DPR telah sembuh dari Covid-19.

“Semuanya jumlahnya sih 511 yang sudah negatif 346, yang masih positif 165,” kata Indra, Kamis 22 Juli 2021.

Indra menjelaskan, mereka terdiri dari anggota DPR, ASN, Tenaga Ahli (TA), petugas kebersihan, petugas Pamdal dan staf penunjang lainnya.

Menurut Indra, jumlah ini kemungkinan lebih besar karena Setjen hanya menghitung jumlah orang yang melakukan tes di laboratorium yang difasilitasi di DPR.

“Di data kami, mereka-mereka yang melakukan tes di lab-lab di DPR. Kalau yang di luar kita nggak monitor. Sebenarnya bisa aja tafsirnya bisa lebih besar, sangat mungkin,” ujarnya.

Baca juga: Semua Anggota DPR Jalani Pemeriksaan Virus Corona Pekan Depan

Indra menyampaikan, lingkungan Gedung DPR akan terus diperketat penerapan prokesnya. Untuk kegiatan masa reses, sudah dibicarakan soal mekanisme kunjungan kerja (kunker) yang berbeda.

Berkenaan dengan kegiatan dengan konstituen di daerah pemilihan (dapil), pertanggungjawabannya bisa dengan foto atau video, tidak perlu menyerahkan bantuan secara langsung, tapi dengan tenaga ahlinya disampaikan dengan cara tidak langsung oleh anggota.

“Jadi, kegiatan sekarang kan sedang minimal, ini kesempatan kita melakukan sterilisasi-sterilisasi di ruang kerja dan ruang rapat dan juga paripurna,” ujarnya.

HY

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Politik

Komisi I DPR Desak Pemerintah Evakuasi WNI di Afghanistan

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. Afghanistan memanas akibat ketegangan antara kelompok Taliban dan pemerintahan setempat. Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) mengimbau agar Warga Negara Indonesia (WNI) segera meninggalkan negara tersebut. Berdasarkan data Kemlu WNI di Afghanistan berjumlah 6 orang, dan belum termasuk staf KBRI.

Menanggapi hal tersebut Anggota Komisi I DPR Rizki Aulia Rahman Natakusumah angkat bicara. Menurutnya pemerintah tidak cukup sekedar memberi imbauan. Namun juga harus memastikan proses evakuasi dan memfasilitasi pemulangan WNI ke Tanah Air.

“Pemerintah harus turun langsung, mendata seluruh WNI di sana, dan yang paling penting melakukan evakuasi atau penjemputan, serta menyiapkan kebutuhan mereka, karena melindungi keselamatan warga negara adalah hal yang paling utama” kata Rizki, Jumat (23/7/2021).

Kemudian, lanjut Rizki pemerintah juga harus mengambil peran secara aktif demi terwujudnya gencatan senjata dan mendorong perdamaian di antara pihak yang berseteru sebagai sesama negara dengan mayoritas muslim.

“Sebagai sesama negara muslim, Indonesia punya tanggungjawab ikut mendorong perdamaian di dunia,” katanya.

Rizki juga mendesak pemerintah harus melakukan respon cepat terkait evakuasi WNI. Sebab keterlambatan eksekusi hanya menyisakan kekhawatiran terburuk terkain warga negara Indonesia.

Baca juga: Kelompok Taliban Kuasai Setengah Distrik Pusat Afghanistan

“Kami meminta Kemlu dan pemerintah melakukan langkah-langkah evakuasi secara cepat, dan berkoordinasi dengan negara-negara sahabat untuk memantau perkembangan politik di Afghanistan,” ujar politisi dari Fraksi Partai Demokrat ini.

Continue Reading

Politik

Alissa Wahid Ceritakan Keadaan Jelang Gus Dur Tinggalkan Istana

Published

on

By

Channel9.id – Jakarta. Tepat 20 tahun lalu, 21 Juli 2001, Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan dari jabatannya oleh MPR RI.

Posisi Gus Dur sebagai kepala negara kemudian diserahkan MPR kepada Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid menceritakan detik-detik jelang Gus Dur meninggalkan istana. Alissa menyatakan, situasi sudah mencekam saat itu. Alissa mengaku diminta Gus Dur untuk membawa ibu dan adik-adiknya pulang ke Ciganjur.

“Keadaan sudah bahaya, biar Bapak sendiri saja yang hadapi di istana,” kata Alissa menirukan suara Gus Dur.

Namun, Alissa teringat kisah Bung Karno yang mesti menghadapi hari-hari terakhirnya sebagai Presiden yang penuh keterasingan. Alissa tidak mau hal itu dialami oleh Gus Dur. Karena itu, Alissa menolak meninggalkan Gus Dur.

“Karena ingat nasib Bung Karno, Saya Melawan. Apapun yang terjadi kalau Bapak ditangkap Kami akan ikut. He wouldnt be alone,” ujarnya.

Baca juga: Video Haul 11 Gus Dur, Bedah Buku Menjerat Gus Dur

Gus Dur kemudian menyatakan ke Alissa bahwa mendapatkan informasi moncong panser sudah mengarah ke Istana.

“Info moncong panser sudah mengarah ke istana, sudah saya dengar. Kata GusDur. Beliau nggak bisa tenang kalau tetap ada di istana, apalagi cucu pertama, bayi saya, baru berumur 40 hari. Tapi kisah Bung Karno menghantui saya. Makanya saya ngeyel nangis tidak mau pergi,” ujar Alissa.

“Saya terus membayangkan Bung Karno sendirian, keluarganya sulit menjenguk, tidak terawat dengan baik. Saya tidak ingin itu terjadi pada Gus Dur. Kalaupun beliau kalah secara politik & harus diasingkan, kami harus tetap bersama beliau. Kami siap. That’s it. That’s all.”

Pada akhirnya, apa yang ditakutkan Alissa Wahid tidak terjadi. Rakyat membanjiri Istana, bertekad melindungi Gus Dur.

“Lalu beliau umumkan akan keluar dari Istana. Besoknya, ribuan rakyat menjemput & mengawal beliau keluar lewat gerbang depan Istana, menuju panggung rakyat di Monas. Kalah politik, tetap bermartabat,” kata Alissa.

HY

Continue Reading

Politik

Rizal Ramli Ungkap Pihak yang Melengserkan Gus Dur

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Menko Ekuin kabinet Gus Dur, Rizal Ramli mengungkapkan bahwa presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dilengserkan karena ada manuver dari kelompok poros tengah termasuk Golkar yang tidak senang dengan kepemimpinannya.

Hal itu dikatakan Rizal dalam dialog bertajuk “20 Tahun Pemakzulan Gus Dur, Siapa Sang Dalang?” yang disiarkan langsung di akun YouTube Refly Harun, Kamis, 22 Juli 2021.

“Diakui tidak diakui, kelompok garis tengah yang tidak happy sama Gus Dur pengen ganti Gus Dur. Golkar juga pengen,” ujar Rizal Ramli dalam dialog tersebut.

Baca juga: Ekonom Rizal Ramli Terkejut Anggaran Covid Rp1.000 Triliun Lebih

Dalam suasana politik yang sudah ramai, Gus Dur kemudian memanggil tujuh menteri ke Istana. Menteri-menteri yang dikenal dengan Tim 7 ini dipimpin Menko Polhukam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“(Pada pertemuan itu) Gus Dur bilang, `kalau terjadi voting di MPR, kita menanglah,” cerita Rizal.

Mendengar hal tersebut, RR, sapaan Rizal Ramli berharap kepada SBY sebagai Menko Polhukam untuk menjelaskan peta politik di DPR RI kepada Gus Dur.

“Tapi saya enggak ngerti Pak SBY saat itu diam saja, akhirnya saya yang ngomong,” tuturnya.

Kepada Gus Dur, RR menjelaskan bahwa bila terjadi voting di DPR, maka Gus Dur akan kalah. Sebab peta politik di DPR tidak seperti apa yang diperkirakan Gus Dur.

Mendengar penjelasan tersebut, Gus Dur sempat marah kepada RR lantaran sebelumnya, ada sejumlah pihak yang mengaku dari partai politik telah memberikan dukungan kepadanya. Para parpol tersebut di antaranya PAN, Golkar, dan PPP.

Namun RR kembali meyakinkan kepada Gus Dur bahwa yang menghadap kepadanya bukanlah utusan resmi dari parpol, melainkan hanya broker dan bukan pemegang keputusan pada partai politik.

“Gus Dur marah sama saya, `Rizal kamu itu anak muda baru belajar, saya jam terbangnya lebih banyak`. Saya akhirnya diam, sebagai anak buah, saya memberikan Gus Dur peta yang sebenarnya, its up to you, you are the leader,” RR menjawab pertanyaan Gus Dur.

Selain RR, pembicara lain dalam dialog itu ada Bachtiar Chamsyah selaku Ketua Pansus Buloggate DPR yang dianggap pencetus pelengseran Gus Dur.

Selanjutnya, ada Fuad Bawazier, M.S. Kaban, Eep Saefulloh Fatah, dan Jurubicara Gus Dur Adhie Massardi serta wartawan senior Teguh Santosa.

IG

Continue Reading

HOT TOPIC