Connect with us

Internasional

Selandia Baru Memperpanjang Lockdown

Published

on

Selandia Baru Memperpanjang Lockdown

Channel9.id-Jakarta. Selandia Baru melaporkan dua warganya terinfeksi Covid-19 dan beberapa jam setelahnya pihak berwenang akan mengumumkan lockdown di Auckland akan diperpanjang pada Rabu (17/2/2021).

Pada hari Minggu, Jacinda Ardern, melockdown Auckland selama tiga hari setelah tiga orang – ayah, ibu, dan anak perempuannya – dinyatakan positif Covid-19. Sampai saat ini belum ada info dimana mereka bertiga terinfeksi.

Untuk kasus hari ini, dua orang ini adalah kakak beradik yang bersekolah di SMA Papatoetoe Auckland Selatan dan mengenal anak perempuan yang sebelumnya terinfeksi itu.

Baca juga : Tiga Orang Terinfeksi Covid-19, Selandia Lockdown Auckland

Salah satu dari mereka adalah temen sekelas anak perempuan yang terinfeksi, dan yang satu lagi terinfeksi melalui saudaranya itu. Pihak otoritas mengatakan bahwa mereka berdua sudah diisolasi.

Lockdown di Auckland rencananya akan berakhir pada Rabu tengah malam, dengan Jacinda Ardern mengumumkan pada sore harinya tentang keputusannya apakah Lockdown akan diteruskan atau dilonggarkan.

Berita terbaru ini membuat orang-orang Auckland putus asa. Para pengusaha disana mengatakan mereka sangat terpukul karena mereka masih memulihkan diri dari dua lockdown yang lalu.

Ahli epidemologi mengatakan penemuan kasus baru ini berarti akan ada perpanjangan waktu lockdown di Auckland. Selandia Baru juga harus menetapkan status level waspada ke seluruh penjuru negeri, apalagi sumber utama infeksinya masih belum ditemukan.

“Dengan hal ini, dan juga ketidakpastian yang masih terus membayangi, lebih baik untuk tetap di level waspada untuk beberapa hari kedepan,” kata Nick Wilson, ahli epidemologi Universitas Otago, kepada media.

(RAG)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Internasional

AS Jatuhkan Sanksi kepada Mereka yang Meracuni Navalny

Published

on

By

AS Menjatuhkan Sanksi kepada Mereka yang Meracuni Navalny

Channel9.id-Amerika Serikat. Amerika Serikat dikabarkan akan menjatuhkan sanksi, paling cepat hari Selasa, kepada orang-orang yang meracuni kritikus Kremlin, Alexey Navalny, ujar dua narasumber yang tidak mau disebutkan  namanya pada hari Senin (1/3/2021).

Keputusan Presiden Joe Biden menjatuhkan sanksi terhadap mereka yang bertanggung jawab pada kasus Navalny merupakan gambaran sikap Amerika yang lebih keras dari kepemimpinan sebelumnya, Donald Trump, yang pada Agustus kemarin membiarkan kasus ini terjadi tanpa adanya respon hukuman dari Amerika Serikat.

Narasumber itu menolak untuk memberi tahu siapa target atau otoritas legal yang Amerika akan gunakan untuk memberikan hukuman kepada mereka yang meracuni Navalny. Navalny jatuh sakit disaat ia terbang ke Siberia pada Agustus kemarin dan diterbangkan ke Jerman untuk mendapatkan perawatan, di sana ia dinyatakan telah diracuni dengan racun saraf Novichok.

Baca juga : Warga Rusia Dukung Navalny di Hari Valentine

Dikabarkan Amerika akan bertindak dibawah dua tata tertib eksekutif: 13361, yang dikeluarkan setelah invasi Rusia di Krimea, dan 13382, yang dikeluarkan pada tahun 2005 untuk memerangi produksi senjata pemusnah massal.

Dengan dua tata tertib itu, Amerika Serikat dapat membekukan aset Amerika Serikat ke mereka yang terkena sanksi dan juga melarang perusahaan atau perorangan dari Amerika Serikat untuk melakukan transaksi dengan mereka.

Keadministrasian Biden juga berencana untuk bertindak dibawah Undang- Undang Amerika tentang Penendalian Senjata Kimia dan Biologis Amerika Serikat dan Penghapusan Perang 1991, yang memberikan berbagai macam jenis hukuman.

Narasumber itu menyebutkan beberapa individu akan dijatuhkan sanksi secepatnya pada hari Selasa, namun ia menolak untuk memberi tahu siapa individu itu atau menyebutkan sanksi apa yang akan dijatuhkan.

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Putra Mahkota Arab Saudi Lolos dari Hukuman

Published

on

By

Putra Mahkota Arab Saudi Lolos dari Hukuman

Channel9.id-Amerikat serikat. Keadministrasian Amerika serikat kukuh dengan keputusannya yang tidak akan memberi sanksi kepada putra mahkota Saudi Arabia, Mohammed bin Salman (MbS) pada hari Senin (1/3/2021). MbS terbukti terlibat dalam pembunuhan Jamal Khashoggi di tahun 2018.

“Kami sedang berusaha untuk menempatkan hubungan Amerika dengan Arab Saudi di titik yang pas,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri, Ned Price, pada konferensi berita di Washington yang membela keputusan Keadministrasian Biden yang tidak akan memberi sanksi kepada sang putra mahkota.

Keadministrasian Biden sedang berupaya untuk “mengkalibrasi ulang”, bukan “memutus” hubungan Amerika-Arab Saudi, kata Price.

Apabila keadministrasian Biden melakukan “sesuatu yang dramatis dan juga lebih drastis”, dengan memberikan MbS sanksi, pengaruh Amerika di Arab Saudi akan “terjun bebas”, kata Price.

Baca juga : Pasangan Jamal Khashoggi Ingin Mohammed bin Salman Dihukum Secepatnya

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat pada tanggal 26 Februari menjatuhkan 76 orang Arab Saudi ke dalam larangan bepergian dan Kementerian Keuangan juga memberikan sanksi kepada para pejabat Arab Saudi yang terlibat dalam pembunuhan Khashoggi, kecuali sang putra mahkota.

Sanksi itu diumumkan setelah Office of the Director of National Intelligence (ODNI) merilis laporan rahasia yang sudah disiapkan oleh CIA dan agensi mata-mata Amerika lainnya yang memberikan informasi siapa saja yang bertanggung jawab atas kematian Jamal Khashoggi.

“Tujuan kita pada semua ini adalah agar kita bisa menentukan apa yang harus kita lakukan kedepannya. Itulah mengapa kita membicarakan soal ini bukan untuk memutuskan tapi untuk mengkalibrasi hubungan kami agar kami dapat mendapatkan kembali pengaruh yang kami butuhkan demi kebaikan Amerika,” kata Price.

Price mengatakan sejak Biden menjabat sebagai Presiden, catatan HAM Arab Saudi makin membaik dengan membebaskan aktivis perempuan Loujain al-Hathloul dan juga mengakhiri blokade Qatar yang dipimpin oleh Arab.

Keputusan Amerika untuk tidak memberikan sanksi kepada MbS mendapatkan kritik yang keras dari Washington Post.

Washington Post menuduh Biden telah ingkar terhadap janji kampanye yang mengatakan rezim Saudi akan bertanggung jawab atas terbunuhnya Khashoggi. Fred Ryan, publisher berita Wasington Post, menulis “Nampaknya dibawah kepemimpinan Biden, jika suatu kejahatan memberikan keuntungan strategis untuk Amerika, maka itu sah-sah saja.”

(RAG)

Continue Reading

Internasional

Pasangan Jamal Khashoggi Ingin Mohammed bin Salman Dihukum Secepatnya

Published

on

By

Pasangan Jamal Khashoggi Ingin Mohammed bin Salman Dihukum Secepatnya

Channel9.id-Amerika Serikat. Pasangan dari jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi, Hatice Cengiz, menyerukan untuk Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) agar dihukum setelah laporan intelejen Amerika Serikat menemukan bahwa MbS terlibat pada pembunuhan suaminya, pada Senin (1/3/2021).

Khashoggi, warga Amerika Serikat yang mengisi kolom opini di Washington Post, dibunuh dan dimutilasi di konsulat Saudi di Istanbul oleh tim yang mempunyai hubungan dengan putera mahkota Arab Saudi.

Laporan Intelejen Amerika Serikat pada hari Jumat menemukan bahwa MbS mempersilahkan tim itu untuk membunuh Jamal, dan Amerika telah memberikan sanksi kepada semuanya yang terlibat, kecuali sang pangeran itu sendiri. Sedangkan pemerintah Arab Saudi menepis tuduhan itu.

“Sangat penting untuk putra mahkota Arab Saudi agar dihukum secepatnya,” cuit Hatice Cengiz di Twitter. “Jika dia tidak dihukum, ini akan menjadi sinyal bahwa dalang utamanya bisa bebas dari tuduhan pembunuhan yang mana akan membahayakan kita semua dan akan menjadi noda pada catatan HAM kita”.

Lembaga Amerika Serikat  pada Jumat menjatuhkan pemblokiran visa kepada beberapa orang Arab Saudi yang dipercaya terlibat pada pembunuhan Khashoggi dan menjatuhkan sanksi kepada lainnya yang akan membekukan aset Amerika Serikat mereka.

Saat dikritik mengapa Amerika tidak memberikan sanksi kepada Pangeran MbS secara langsung, Biden mengatakan ia akan mengumumkannya pada hari Senin, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut. Disamping itu, pejabat Gedung Putih mengisyaratkan bahwa tidak akan ada tindak lanjut dari Amerika atas kasus ini.

“Dimulai dengan keadministrasian Biden, penting untuk semua pemimpin dunia untuk bertanya dengan sendiri apakah mereka siap untuk berjabat tangan dengan seseorang yang sudah terbukti pernah membunuh,” kata Hatice Cengiz.

(RAG)

Continue Reading

HOT TOPIC