Hot Topic Nasional

Strategi Iklim Jakarta: Dorong Konektivitas Transportasi Massal Mencapai 93 Persen

Channel9.id, Jakarta – Di hadapan para pemimpin kota dunia dalam forum Heat Roundtable di New York, Amerika Serikat, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo memaparkan strategi konkret Jakarta dalam memitigasi dampak perubahan iklim dan kenaikan suhu perkotaan (urban heat).

Dalam pertemuan yang digelar bertepatan dengan rangkaian Urban 20 (U20) Mayors Summit 2026 tersebut, Pramono menekankan bahwa kebijakan iklim sebuah megapolitan tidak boleh sebatas teori berskala besar, melainkan harus berdampak langsung pada penurunan polusi udara dan efisiensi mobilitas harian warga.

“Aksi iklim harus memberikan manfaat nyata yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari melalui transportasi yang lebih bersih, ruang publik yang lebih baik, energi yang lebih bersih, serta kualitas hidup yang lebih baik,” tegas Pramono dikutip dari keterangan resmi Pemprov DKI Jakarta, Minggu (27/9/2026).

Diskusi tingkat tinggi ini diselenggarakan atas kolaborasi C40 Cities, Harvard University’s Salata Institute for Climate and Sustainability, serta Atlantic Council’s Climate Resilience Center, dan turut dihadiri oleh jajaran pemimpin global seperti Wali Kota Paris dan Wali Kota Freetown.

Mengurai Beban 4 Juta Penglaju dan 9.000 Ton Sampah

Pramono mengungkapkan tantangan utama Jakarta terletak pada besarnya pergerakan komuter. Setiap hari, sekitar empat juta orang bergerak melintasi batas wilayah Jakarta dan kawasan penyangga (Bodetabek), terutama pada jam sibuk, yang berkontribusi langsung terhadap kemacetan dan emisi karbon. Di saat bersamaan, Jakarta memproduksi hingga 9.000 ton sampah per hari.

“Persoalan kemacetan, polusi udara, dan sampah tidak berdiri sendiri. Ketiganya berkaitan langsung dengan mobilitas, kesehatan, serta kualitas hidup masyarakat. Karena itu, kebijakan iklim Jakarta diarahkan agar menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga,” ujarnya.

Guna menekan ketergantungan pada kendaraan pribadi, Pemprov DKI Jakarta telah mengintegrasikan berbagai moda transportasi publik seperti MRT, LRT, Transjakarta, Transjabodetabek, hingga kereta komuter (KRL), dengan tingkat konektivitas yang kini telah mencapai 93%. Dalam rencana jangka panjang ditargetkan bertambah dari 15,7 kilometer menjadi 46,5 kilometer pada 2034.

Kemudian, pengembangan LRT ditargetkan membentang hingga 75 kilometer pada 2029. Dan elektrifikasi bus bakal ada tambahan armada operasional Transjakarta yang diakselerasi hingga mencapai 500 unit bus listrik pada tahun ini.

Selain perbaikan sistem transportasi publik, strategi iklim Jakarta berfokus pada perbaikan tata kelola sampah dari hilir ke hulu. Terhitung sejak 1 Agustus 2026, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dibatasi hanya untuk menerima sampah jenis residu. Sementara itu, proses pemilahan dan pengolahan didorong sejak dari sumber primer (rumah tangga dan kawasan komersial).

Untuk mengolah sampah yang tidak terpilah, DKI Jakarta bekerja sama dengan pemerintah pusat dalam mengembangkan dua fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WTE). Langkah ini dirancang untuk mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sekaligus menghasilkan energi bersih.

Pramono menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antar-kota dunia dalam pertukaran praktik terbaik, khususnya terkait perluasan ruang terbuka hijau (RTH) dan mitigasi gelombang panas perkotaan.

“Ukurannya sederhana: apakah udara menjadi lebih bersih, perjalanan menjadi lebih mudah, ruang publik menjadi lebih baik, dan lingkungan menjadi lebih sehat. Jakarta siap berbagi praktik baik dan bekerja sama dengan kota-kota lain untuk mewujudkan solusi iklim yang praktis,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5  +  5  =