Connect with us

Opini

Tafsir Tunggal Hari Lahir Pancasila

Published

on

Oleh: Dr. USMAR. SE.,MM

Channel9.id – Jakarta. Setelah dilantiknya anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), pada hari Senin, tanggal 28 Mei 1945, pukul 15.35 Wib, dengan anggota sebanyak 62 orang. Kemudian dilanjutkan dengan menetapkan dr. Radjiman Wediodiningrat sebagai Ketua, didampingi dua orang Wakil Ketua, yaitu R.P. Suroso dan Ichibangase.

Selanjutnya panitia BPUPK memutuskan bahwa sidang pertama BPUPK, akan dilangsungkan dari tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945.

Adapun agenda terpenting dalam sidang pertama itu adalah mencari jawaban atas pertanyaan Ketua Panitia dr.Radjiman Wediodiningrat, “Negara Indonesia merdeka yang akan kita bentuk itu, apa dasarnya ?”.

Dalam sidang pertama ini, yang berlangsung sejak tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945, tercatat ada 46 orang pembicara yang menyampaikan pemikirannya.

Namun dari para tokoh yang berbicara itu, belum ada yang menyampaikan sebagai jawaban yang pas atas pertanyaan Ketua Panitia BPUPK tersebut.

Barulah ketika Bung Karno mendapat giliran untuk berbicara, pada hari terakhir sidang, yaitu hari Jumat, tanggal 1 Juni 1945, pukul 11.00 Wib, selama sekitar satu jam, memberikan uraian secara lengkap yang berisi tentang Lima Sila, tentang dasar negara, untuk menjawab pertanyaan Ketua Panitia BPUPK tersebut.

Seperti kita ketahui, Bung Karno membuka pidatonya dengan mengatakan bahwa “Sesudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya”.

“Saya akan menetapi permintaan Paduka tuan Ketua yang mulia. Apakah permintaan Paduka tuan ketua yang mullia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini”.

Pidato Bung Karno yang disampaikan secara lisan tersebut, dicatat oleh Notulen dengan menggunakan tulisan Stenografi sistem karundeng.

Selanjutnya sebelum sidang pertama ini berakhir dibentuklah panitia kecil untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai dasar negara, berdasarkan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945.

Perkembangan Rumusan Pancasila

Dalam Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 itu, rumusan dan urutannya adalah: 1). Kebangsaan Indonesia; 2) Internasionalisme atau Perikemanusiaan; 3) Mufakat atau Demokrasi; 4) Kesejahteraan Sosial; 5) Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dari rumusan tersebut, bahwa terlihat Pancasila terdiri atas dua lapisan fundamen, yaitu; pertama; Fundaemen Politik; kedua; Fundamen Moral (etik Agama).

Dan baru pada perkembangan berikutnya, oleh panitia kecil yang dibentuk berdasarkan amanat saat hari terakhir BPUPK, mengubah dengan meletakkan fundamen Moral di atas fundamen politik, maka susunannya pun berubah, menjadi seperti Pancasila saat ini, yaitu : 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3) Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan; 5) Keadilan Sosial bagi selururh rakyat Indonesia.

Dinamika Dialektis Hari Lahir Pancasila

Di era pemerintah orde baru melalui Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) pernah melarang peringatan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila pada tahun 1970.

Kemudian polemik makin menajam, dan makin menjauh dari riilnya jalan sejarah kelahiran Pancasila, ketika tahun 1981 Prof. Dr. Nugroho Notosusanto melakukan rekayasa Politik melalui bukunya “Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara” yang menggunakan dan menganggap tafsir Pancasila Versi Muh.Yamin sebagai satu-satunya sumber yang sah.

Meski tidak menggunakan metodelogi penggalian sejarah sebagaimna mestinya, terutama dalam tahap “Heuristik” (mencari sumber), Prof. Dr. Nugroho Notosusanto menyatakan bahwa penggali Pancasila itu ada tiga orang, yaitu: Moh.Yamin, Supomo, dan Soekarno.

Dan sebagai ilmuwan yang juga politikus, untuk mengamankan pendapat kelirunya ini, Prof. Dr. Nugroho Notosusanto memberikan embel-embel yang seakan bijak terhadap pendapatnya tersebut dengan mengatakan bahwa “Seorang sejarawan yang baik, Tidak akan malu mundur, kalau kemudian ditemukan bahan bukti yang lebih kuat dari yang dimilikinya”.

Tentu saja keputusan sesat ini, ditentang oleh pelaku sejarah dan saksi sejarah, seperti Bung Hatta, Prof. AG. Pringgodigdo.SH, Prof. Soebarjo.SH, AA.Maramis.SH, dan Prof. Soenarjo.SH, Sejarawan A.B.Kusuma, dan A.Dahlan Ranuwihardja.SH

Upaya Mencari Kebenaran Sejarah

Ketika Prof. Dr. Nugroho Notosusanto berkesimpulan, dengan menggunakan buku Moh.Yamin sebagai sumber primer, yang sebenarnya Moh.Yamin meminjam arsip BPUPK dari Mr. AG. Pringgodigdo yang kemudian dinyatakan hilang, mendapat protes keras dari para ahli sejarah.

Padahal tahun 1983 dalam Disertasinya J.C.T. Simorangkir. SH, menyatakan bahwa ada arsip BPUPK di Alglemeen Rijks Archief, Nederland.

Selanjutnya dalam upaya mencari kebenaran sejarah tersebut, lalu pada tahun 1991 Sejarawan A.B.Kusuma, berangkat ke Nederland dan Amerika Serikat untuk mencari arsip BPUPK tersebut.

Waktu di Nederland, A.B.Kusuma mendapat keterangan bahwa, arsip BPUPK dengan kode “Pringgodigdo Archief”, telah dikembalikan ke Indonesia.

Untuk memastikan ini, Sejarawan A.B.Kusuma menanyakan ke Arsip Nasional, ternyata pernyataan itu benar, bahkan dengan keterangan tambahan, bahwa “Koleksi Yamin”, yakni arsip BPUPK yang dipinjam oleh Moh. Yamin dari Mr.A.G.Pringgodigdo dan dinyatakan hilang, secara tidak sengaja ditemukan kembali di Pura Mangkunegara, Surakarta, oleh seorang petugas Arsip Nasional yang diminta bantuannya untuk membereskan manuskrip Prof.Mr. Moh.Yamin yang dibawa oleh menantunya G.R.A. Satuti ke Pura Mangkunegaran.

Hanya saja memang sampai dengan tahun 1993, baik Arsip Pringgodigdo dan Koleksi Yamin yang disimpan di Arsip Nasional belum boleh dibuka untuk umum, sehingga menyebabkan tidak ada buku yang menggunakan sumber tersebut dalam penulisannya, hingga tahun tersebut.

Saksi Sejarah Dari Pelaku Sejarah

Jika kita cermati secara teliti dan melihat pernyataan dari beberapa saksi sejarah dan juga pelaku sejarah, maka kini kebenaran itu terungkap sudah.

Pertama, dalam seminar Angkatan Darat tahun 1966, yang dikenal dengan sebutan “Catur Dharma Eka Karma” yang dihadiri oleh 124 Perwira dalam rangka menggodok strategi pertahanan, dalam diktum pendahuluannya dinyatakan bahwa lahirnya Pancasila adalah 1 Juni 1945.

Kedua, Keputusan MPRS No. XX tahun 1966, menyebut bahwa “Penyusuanan pembukaan UUD 1945, sesungguhnya dilandasi oleh Jiwa Piagam Jakarta 22 Juni 1945, sedangkan Piagam Jakarta itu dilandasi pula oleh Jiwa Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945”.

Ketiga, kita dapat melihat ketika Soeharto, pada tanggal 1 Juni 1967, dalam kapasitasnya sebagai Pejabat Presiden, memberikan sambutan mengenai hari Lahinya Pancasila mengatakan “…….Marilah kita, pada hari Lahirnya Pancasila ini, sekali lagi dan untuk kesekian kalinya mawas diri sejujur-jujurnya apakah sikap dan perbuatan kita telah sesuai dengan prinsip-prinsip Pancasila…..”.
Dari kutipan ucapan Pak Soeharto di atas, jelas tersurat dan tersirat, bahwa beliau mengakui hari lahir Pancasila itu tanggal 1 Juni 1945.

Keempat, adalah upaya yang dilakukan oleh Panitia Lima, sebagai pemungkas upaya mencari kebenaran sejarah lahirnya Pancasila. Adapun Panitia Lima tersebut, adalah saksi sejarah yang juga pelaku sejarah, yaitu: 1). Dr.Mohammad Hatta; 2).Mr. Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo; 3). Prof. Mr. Sunario; 4) Prof.Mr.A.G.Pringgodigdo, dan 5). Mr.A.A.Maramis.

Panitia Lima tersebut, telah menyusun buku “Naskah Asli Uraian Pancasila”, pada tanggal 18 Februari 1975.

Kemudian melalui delegasi Dewan Harian Nasional Angkatan 45, yang dipimpin oleh Jenderal Surono, pada tanggal 23 Juni 1975 menyerahkan Naskah tersebut kepada Presiden Soeharto.

Dengan berbagai uraian di atas jelas tak terbantahkan, bahwa hari lahir Pancasila adalah berangkat dari Pidato Bung Karno di depan Sidang BPUPK tgl 1 Juni 1945.

Kelima, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, yang disampaikan Presiden Jokowi saat menyampaikan pidato pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, di Gedung Merdeka, Bandung, Selasa 1 Juni 2016, menetapkan bahwa tanggal 1 Juni ditetapkan, diliburkan dan diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.

Karena itu sekarang hanya ada Tafsir tunggal tentang hari lahirnya Pancasila adalah 1 Juni 1945.

Penulis adalah Ketua LPM Universitas Moestopo (Beragama) Jakarta/Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini

Biden Harus Mulai Marshall Plan Baru Melawan Hegemoni Cina

Published

on

By

Oleh: Rizal Ramli*

Channel9.id-Jakarta. Ketika dunia memasuki fase pandemi yang baru, dan berpotensi lebih mematikan, para politisi harus mencari solusi yabg lebih baik dalam menangani krisis kesehatan masyarakat.

Masyarakat menjadi lelah dengan pandemi, lonjakan kasus yang tak henti-hentinya, penguncilan dan kesulitan keuangan. Dan mereka sekarang mulai mengekspresikan ketidakpuasan mereka di jalanan.

Kita telah melihat gerakan massa di Brasil, Kuba, Afrika Selatan, dan baru-baru ini rakyat Malaysia berkumpul protes menuntut perubahan politik.

Dengan pandemi yang menyebabkan kemerosotan ekonomi, krisis itu dapat cepat berkembang menjadi krisis politik.

Akses vaksin yang relatif jauh lebih kecil dibandingkan dengan negara-negara maju membuat negara-negara berkembang akan menderita lebih lama akivat Covid-19, daripada negara-negara di Amerika Utara dan Eropa.

Di negara-negara berkembang, tingkat vaksinasi rata-rata di bawah 20 persen, dan di banyak negara Afrika yang lebih miskin, tingkat rata-ratanya kurang dari 5 persen.

Di negara-negara berpenghasilan rendah, tingkat vaksinasi secara keseluruhan sangat rendah 1,1 persen. Kita boleh ambil contoh Venezuela, jika tingkat vaksinasi tidak dipercepat, akan dibutuhkan satu dekade lagi untuk mencapai keseluruhan penduduk tervaksinasi.

Dengan kata lain, jika bantuan tidak segera datang, itu akan menjadi situasi tanpa harapan.

Kita sering bertanya-tanya, bagaimana jadinya dunia setelah pandemi berlalu. Saat ini, tidak terlihat sangat menjanjikan.

Namun, kita tidak boleh putus asa, dan saya tidak dapat memikirkan contoh lebih baik tentang apa yang terjadi di Eropa pada tahun-tahun setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua.

Setelah Rusia menyerbu Jerman, dan Berlin jatuh pada tahun 1945, Uni Soviet di bawah rezim Stalin dengan cepat menguasai kendali atas negara-negara Baltik dan Eropa Timur.

Pada akhir 1940-an, sebagian besar Eropa Timur dikurung di balik apa yang kemudian dikenal sebagai Tirai Besi.

Sementara itu, di Eropa Barat yang dipimpin AS, perang dunia kedua telah menghancurkan seluruh perekonomian.

Pusat-pusat industri terkemuka telah hancur, infrastruktur penting rusak dan Eropa Barat tidak memiliki kemampuan utk memperbaiki. Produksi pertanian terganggu sampai-sampai orang Eropa di ambang kelaparan.

Karena kesengsaraan seperti itu, banyak perkiraan  bahwa masa depan politik Eropa Barat akan jatuh ke tangan partai komunis lokal yang didukung oleh Uni Soviet.

Telah tercipta iklim yang matang untuk revolusi dan, pada bulan Maret 1947, ketika Yunani dan Turki di ambang pengambil  alihan oleh gerakan gerilya yang didukung Soviet, hal itu membuat AS harus bersikap.

Presiden AS Harry Truman dan para pembantu utamanya mengatakan bahwa AS harus turun tangan dan memberikan dukungan militer dan ekonomi.

Eropa Barat cemas akan menghadapi nasib yang sama seperti Eropa Timur, dibawah hegemoni komunis dan Soviet Russia. Pada bulan Juni tahun itu, Presiden Truman mengumumkan kebijakan ‘Marshall Plan’, sebuah upaya kemanusiaan darurat yang memberikan bantuan 17 miliar dolar AS ke Eropa.

Empat tahun kemudian, pendapatan rakyat Eropa Barat naik dua kali lipat, tertinggi sejak sebelum perang, mereka kembali bekerja, dan demokrasi aman berkembang.

Apa yang dulu tampak tidak bisa terelakkan, bahwa seluruh Eropa akan menjadi satelit komunis Uni Soviet, ternyata tidak terjadi.

Kita menghadapi situasi yang sama hari ini. Alih-alih perang, dunia sedang mengalami pandemi, yang terburuk dalam lebih dari satu abad dan yang diyakini para ahli statistik dapat menyebabkan sebanyak 12 juta kematian, atau tiga kali lebih banyak dari jumlah resmi.

Triliunan dolar telah hilang dalam output ekonomi. Dan dengan kehancuran seperti itu, seperti yang dialami Eropa setelah Perang Dunia II, bisa berkembang menjadi krisis politik.

Alih-alih Rusia, hari ini Cina yang akan mencari cara untuk mengeksploitasi dinamika yang terjadi untuk memperkuat pengaruhnya, dan lebih lanjut melanjutkan agenda hegemoninya.

Namun pada saat penulisan ini, baik Joe Biden dari AS maupun para pemimpin dunia demokratis lainnya belum melangkah untuk mengatasi tantangan eksistensial ini.

Bertentangan dengan apa yang dipikirkan oleh para perencana kebijakan Barat, ancaman langsung dari Cina tidak berasal dari militernya.

Apa yang disebut Quad, semacam NATO untuk Asia, bukanlah solusi untuk ancaman saat ini.

Inisiatif ‘G7’s Build Back Better World’,  yang secara konsep akan menyediakan pembiayaan multilateral untuk proyek-proyek infrastruktur di negara berkembang, seolah-olah dengan persyaratan, yang dianggap lebih menguntungkan daripada ‘Inisiatif Belt Road Cina’, ternyata tidak memadai.

Biden sekarang harus menyadari tidak ada yang bisa menghentikan Beijing untuk mencoba mengeksploitasi ketidakstabilan politik di halaman belakang Amerika sendiri, Amerika Selatan.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang Afrika dan Asia, dua wilayah rentan lainnya di dunia.

Presiden Truman  memahami perlunya tindakan segera menghadapi hegemoni komunis Soviet Russia, Biden harus menyadari bahwa dia harus menerapkan Marshall Plan Baru untuk menghadapi hegemoni Cina.

Negara-negara berkembang yang  bisa jatuh dengan cepat ke dalam jurang membutuhkan dukungan segera. Jika tidak, akibatnya akan terasa jauh dan sangat luas.

Tulisan Edisi Bahasa Inggris dimuat di Thediplomat.com.

*Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia

Continue Reading

Opini

Bukan Lockdown Solusi Covid-19 di Tanah Air

Published

on

By

Pegawai KPK Tidak Lolos Test, Bentuk Saja Wadah Mentan Pegawai KPK

Oleh: Emrus Sihombing*

Channel9.id-Jakarta. Terus terang, saya termasuk yang prihatin tentang kasus Covid-19 yang menerpa negeri kita setahun lebih dan hingga kini belum ada tanda-tanda (indikator) yang meyakinkan bahwa akan berakhir kasus Covid-19 pada suatu waktu tertentu ke depan di tanah air.

Namun demikian, izinkan saya memberi pendapat sebagai seorang komunikolog Indonesia bahwa lockdown belum solusi efektif atasi Covid-19 dengan kondisi geografis, ekonomi dan sosial kultural masyarakat Indonesia.

Solusinya menurut hemat saya sebagai komunikolog bahwa seluruh masyarakat harus menjadi garis paling depan lawan Covid-19 dengan memberi “senjata perang” melalui komunikasi yang menumbuhkan kesadaran, membentuk sikap dan perubahan perilaku taat ketat prokes.

Baca juga: KPK Laporkan Greenpeace Indonesia ke Kepolisian Sangat Tepat 

Untuk itu, pengelolaan komunikasi publik pemerintah penanganan Covid-19 harus hal utama, jangan sampai dinomorduakan dan harus dilakukan di hulu. Sebagai keutamaan, antara lain, alokasi biaya komunikasi tersebut paling sedikit harus setara dengan biaya pengadaan vaksin.

Selain itu, izinkan juga saya menyampaikan saran kepada Bapak Presiden agar segera mengangkat seseorang langsung di bawah Presiden untuk memimpin komunikasi publik pemerintah dari seorang komunikolog handal yang menguasai konsep, teori, manajemen dan aksiologi komunikasi serta juga memiliki profesional komunikasi di ruang publik.

Jika komunikasi bukan keutamaan dalam penanganan Covid-19, dipastikan akan mengalami kendala dalam rangka menumbuhkan kesadaran, membentuk sikap dan perubahan perilaku di masyarakat. Padahal, tiga hal ini penting sekali.

Dengan komunikasi publik yang buruk, pada suatu waktu ke depan kemungkinan kita bisa berada pada jebakan pandemi, sebagaimana dikatakan oleh seorang epidemiolog, ketika kami live bersama di stasiun televisi berita terkemuka di tanah air beberapa hari lalu. Saya berpendapat, jebakan pandemi ini jangan sampai terjadi karena akan menimbulkan persoalan yang semakin sulit diurai dan ditangani.

Sebaliknya, jika komunikasi publik pemerintah dikelola dengan prinsip manajemen yang baik dalam rangka mengatasi Covid-19, maka persoalan di hilir (tracing, testing, treatment) dipastikan akan semakin terkendali dan kasus Covid-19 menjadi berkurang signifikan. Pada akhirnya kita bisa lepas dari pandemi. Tentu, lebih cepat lebih baik.

*Komunikolog Indonesia

Continue Reading

Opini

4 Wapres, Moerdiono, 1 Sifu

Published

on

By

Oleh: Indra J Piliang*

Channel9.id-Jakarta. Denmark. Piala Eropa baru saja selesai. Tim dinamit tidak jadi meledak.

Atas kuasa langit, tampak lelaki berperawakan sedang, sawo matang, berjas kebesaran, sedang menuju stasiun kereta api di Kopenhagen. Tak jauh dari stasiun itu, terdapat deretan toko penjahit pakaian. Sistem pasar sosial yang berlaku di Denmark langsung terlacak. Usia toko-toko itu rerata sudah lebih dari satu abad.

Mohammad Hatta atau Bung Hatta. Pria berkacamata berusia 119 tahun kurang dua hari itu pernah berutang budi kepada penjahit pakaian Denmark. Tak punya uang, mantel robek, tukang jahit itu membolehkan Hatta yang masih mahasiswa di Amsterdam untuk berhutang.

“Pelajar Hindia Belanda adalah warga paling jujur di planet bumi,” begitu alasan penjahit itu.

Saking terkesan pada penjahit itu, Hatta terus berlangganan sampai usia menjemput.
Yang melayani Hatta berusia kepala lima.

Penjahit: “Mau bikin apa, Mister?”

Hatta mengeluarkan kiriman Gustika, cucunya, garmen untuk pakaian pramuka. Termasuk kacu merah-putih. Celana coklat. Baju warna coklat muda. Berbeda dengan pakaian pramuka orang Eropa yang lebih coklat tua.

Penjahit: “Kenapa warnanya lebih muda?”

Hatta: “Hemat bahan pewarna.”

Sebentar lagi 17 Agustus. Hatta lebih senang berpakaian pramuka, hadir di barisan energi pahlawan yang turut bernyanyi Indonesia Raya di Istana Negara.

Ketika duduk menunggu pakaian jadi, seseorang mendehem.

“Sehat ya, Bung Hatta? Walau tanah air kita sedang dilanda krisis manajemen penanganan krisis. Krisis di atas krisis,” ujar orang itu.

Hatta: “Yang Mulia Sultan Hamengkubuwono IX? Sejak kapan di sini?”

Sultan HB IX: “Dua hari yang lalu datang. Baru sempat ke sini. Kerajaan Denmark ini masih menganggap saya sebagai raja dari Hindia Belanda. Mereka adakan upacara kerajaan. Termasuk naik kereta kencana. Beruntung mereka kalah pada babak dengan sistem gugur Liga Eropa. Saya bisa menyamar jadi orang biasa, keluar dari penjagaan pengawal kerajaan, naik trem ke sini. Kan Bung Hatta yang kasih tahu tempat ini.”

Kedua sosok itu saling berangkulan. Sama-sama pernah menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Namun berperilaku seperti rajawali. Satu berwatak Elang Laut Hindia. Satu lagi berijiwa Elang Bondo Jawa, lebih banyak berada di kalangan jelata burung-burung.

Hatta jarang berkomentar tentang Sultan HB IX, pun sebaliknya. Usia mereka berselisih 10 tahun. Hatta lebih senior.

Dua pasang mata itu tertuju ke arah pintu masuk. Seorang lelaki dengan warna kulit yang sama sedang masuk. Tersenyum ramah. Bercakap sumringah dengan siapa saja. Mudah akrab. Satu kancing baju lepas.

Lelaki itu sadar sedang diamati. Setengah berlari, sambil merunduk, langsung ke arah kedua tokoh itu.

“Sendiko dawuh, Sultan. Merdeka, Bung Hatta!” kata lelaki itu.

Sultan HB IX: “Moerdiono. Susah mencari café khusus musik tradisional Asia di sini, ya?”

Moerdiono: “Nggih, Sultan!”

Hatta: “Seingatku, Moerdiono jarang sekali berpakaian pramuka? Kenapa tadi membawa bahan garmen yang sama?”

Moerdiono: “Kan Sultan HB IX adalah Maharaja Diraja Kerajaan Pramuka di Nusantara? Legendaris. Saya tahu, medan energi para pahlawan bakal berbaris di Istana Negara jelang Hari Proklamasi. Jurnalis segan bertanya kepada para tetua. Saya bersedia jadi bumper guna memberi informasi lengkap.”

Ketiga lelaki itu bercakap akrab. Moerdiono terlihat semakin muda. Sembilan belas hari lagi, Moerdiono baru berusia 87 tahun.

Mereka berpindah ke café yang berada di luar tempat penjahit baju. Sebelum sempat duduk, pelayan sudah menunjukkan meja buat mereka.

Moerdiono: “Siapa yang pesan?’

Pelayan menoleh ke arah meja dekat kasir. Seorang lelaki bermuka runcing, mirip Zola, pemain Tim Nasional Italia. Berjaket kulit hitam. Parlente. Berkacamata hitam.

Hatta: “Tempat duduk saja bisa diatur oleh Adam Malik Batubara. Sejak zaman Jepang paling berani sebagai jurnalis. Punya jaringan kuat di kalangan pemilik warung.”

Lelaki yang dibicarakan itu tampak tersenyum. Berjalan penuh percaya diri. Memeluk Moerdiono. Bersalaman dengan Hatta dan Sultan HB IX.

Moerdiono: “Jam segini sudah minum anggur?”

Adam Malik: “Minum berbeda dengan menghirup aroma anggur. Walau bukan untuk mencegah virus Corona, ya.”

Moerdiono: “Bukankah Faisal Basri Batubara suka menghirup aroma anggur dari botol-botol tua di rumah? Kalau ketemu Faisal, kami suka bicarakan kebiasaan para pembesar negeri. Faisal keras khas Batak, tapi bertutur lembut seperti orang Sunda.”

Hatta, Sultan HB IX dan Adam Malik sama-sama tertawa. Mereka tahu, Faisal adalah cucu Adam Malik yang baru saja ulang tahun ke 104 tahun. Kejujuran Moerdiono menganggap mereka sebagai pembesar negeri lumayan menghibur.

“Sunda mampu mengubah segalanya. Apapun. Siapapun,” ucap seseorang bernada berat. Tubuhnya tambun. Duduk di pojokan, hampir dekat toilet.

Moerdiono mendekati lelaki itu. Memberi hormat dalam militer. Lalu mengawal ke arah meja tiga orang itu.

“Umar Wirahadi Kusumah! Lengkap sudah secara etnografis. Batak, Minang-Palembang, Jawa Ngayogyakarta, Banyuwangi – Jawa Timuran, dan Sunda! Yang belum ada, Semarang, Jawa Tengah. Cuma, saya sudah telanjur pesan pakaian pramuka dari Shanghai!”

Pria yang tak kalah bangsawannya dibanding Sultan HB IX itu, terlihat masih tegap di usia menjelang 97 tahun. Kewibawaannya mencapai tujuh lapis langit.

Seseorang menyerobot jalan Umar dan Moerdiono, sambil membawa bangku sendiri.

Adam Malik: “Paling muda. Paling pandai memintal.”

Hatta: “Yang namanya jurnalis di republik ini, sudah pasti secara geneanologis terhubung dengan Adam Malik. Tapi Tuan Christianto Wibisono sudah pasti tak termasuk kelompok anti kaum tua, apalagi sampai menculik senior citizen.”

Hatta menyindir sekondannya, Adam Malik. Sultan HB IX menyeringai.

Moerdiono: “Dek Chris, boleh tanya? Kenapa beli di Shanghai?”

Christianto yang jelas paling muda, langsung bersalaman gaya jamaah. Menyembah dengan dua kepal tangan.

“Indra J Piliang, boss saya, pernah ketipu ketika belanja di Shanghai. Padahal, murah dan dekat dari Jakarta. Tan Malaka saja belanja baju-baju murah di Shanghai, sebelum Jepang masuk kan? Saya bisa bahasa Mandarin. Sekaligus, supaya tak dianggap pelit, saya langsung pesan satu kontainer untuk dikirim ke alamat Sangga Nusantara. Biar mereka berseragam, setelah diam-diam saja melewati ulang tahun ketiga,” jelas Christianto sejelas-jelasnya.

Hanya satu orang yang tersenyum mendengar jawaban Christianto. Siapa lagi kalau bukan Moerdiono. Senyum kecut. Sebab belakangan, murid Christianto itu mulai masuk industri hiburan di tanah air, yakni bernyanyi berjam-jam di facebook atau instagram, walau hampir tak ada penonton.

“Dek, kalau HUT Kemerdekaan nanti, kita singgah ke markas gerilyawan ya?” bisik Moerdiono ke Christianto.

CW: “Ada yang penting, Cak?”

Moerdiono: “Aku ngakak baca kolom Indra J Piliang minggu lalu. Aku ndak mau diperlakukan seperti Mas Harmoko itu lho. Nanti aku dibilang jubir komat-kamit lagi.”

Bel berbunyi dari arah toko penjahit. Karyawan datang. Memberi tahu pesanan pakaian pramuka mereka sudah selesai.

“Semua bisa diatur, Cak. Semua ada harganya, tentu,” bisik CW ke telinga Moerdiono. Sambil berjalan ke arah toko penjahit.

Moerdiono kembali meringis. Mengatupkan kedua bibir. Membasahi.

Jakarta, 31 Juli 2021

Hatta, bernama Mohammad Attar, lahir di Fort de Kock – sebelum diganti nama menjadi Bukittinggi, guna menghapus jejak PRRI – lupa PDRI – pada 12 Agustus 1902.
Adam Malik, lahir di Pematang Siantar, 22 Juli 1917.
Sultan Hamengkubuwono IX, lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 12 April 1912.
Christianto Wibisono alias Oey Kian Kok, lahir di Semarang, 10 April 1945.
Moerdiono, lahir di Banyuwangi, 19 Agustus 1934.
Umar Wirahadikusumah, lahir di Sumedang, 10 Oktober 1924.

*Ketua Umum Perhimpunan Sang Gerilyawan Nusantara

Continue Reading

HOT TOPIC