Opini

Terbelenggu “In This Economy”

Oleh: Fazel Rafi Zahran Sudrajat

Channel9.id – Jakarta. Bagi Generasi Z, frasa “in this economy” bukan lagi sekadar keluhan sarkastis di media sosial, melainkan sebuah realitas matematis yang brutal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa lebih dari 9,8 juta pemuda Indonesia (usia 15-24 tahun) masuk dalam kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training), sementara Gen Z mendominasi hampir 70% dari total pengangguran nasional.

Di tingkat makro, narasi tentang ketahanan dan pertumbuhan ekonomi mungkin terus digaungkan oleh negara, tetapi di tingkat mikro, generasi muda justru dihadapkan pada runtuhnya mitos meritokrasi.

Ratusan ribu dari mereka kini berada dalam fase hopeless of job—menyerah karena merasa mustahil bisa mendapatkan pekerjaan yang layak meski telah memegang gelar sarjana. Kita hidup di era di mana kebebasan individu diagungkan setinggi langit, namun ironisnya, Gen Z menjadi kelompok yang paling tercekik secara struktural. Bekerja keras sembilan jam sehari, atau bahkan mengorbankan waktu istirahat untuk mengambil pekerjaan sampingan di sektor gig economy, tak lagi menjamin stabilitas finansial, apalagi mobilitas ke kelas menengah.

Ketika standar upah minimum hanya merangkak pelan sementara inflasi harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan, hingga harga sewa meroket ganas, Gen Z dipaksa hidup dalam mode bertahan dari bulan ke bulan (paycheck to paycheck). Oleh karena itu, munculnya respons sosiologis seperti quiet quitting, doom spending (belanja impulsif di tengah krisis), hingga frugal living ekstrem pada dasarnya lahir bukan dari mentalitas yang manja atau kemalasan, melainkan sebuah manifestasi dari keputusasaan ekonomi di level sistemik.

Lebih dari dua abad yang lalu, filsuf Jean-Jacques Rousseau menulis sebuah kredo yang secara brutal merangkum nasib Gen Z hari ini: “Manusia dilahirkan bebas, tetapi di mana-mana ia berada dalam belenggu.” Jika di abad ke-18 belenggu itu berbentuk feodalisme monarki, hari ini belenggu tersebut telah bermutasi menjadi sistem ekonomi kapitalisme lanjut. Rantai besi itu kini berwujud jebakan paylater, sistem kerja gig economy tanpa jaring pengaman sosial, dan tuntutan hustle culture yang memeras tenaga usia muda. Gen Z lahir dengan kebebasan teoretis untuk menjadi apa saja, namun sistem ekonomi yang timpang telah memastikan bahwa sebagian besar dari mereka akan menghabiskan hidupnya hanya untuk berjuang agar tidak tenggelam.

Kepemilikan Pribadi dan Akar Ketimpangan Modern

Dalam karyanya yang berjudul Discourse on Inequality, Rousseau mengidentifikasi titik mula kemunduran peradaban: momen ketika seseorang pertama kali memagari sebidang tanah, menyatakan “ini milikku”, dan menemukan orang yang cukup naif untuk memercayainya. Generasi Z hari ini menjadi korban paling nyata dari institusi kepemilikan pribadi yang dimonopoli tersebut.

Kesenjangan struktural ini terekam jelas dalam statistik: rata-rata kenaikan gaji di Indonesia hanya bergerak perlahan, sementara harga properti perkotaan melesat ganas di angka 7% hingga 15% setiap tahunnya, yang secara konsisten terus menggilas daya beli. Tidak mengherankan jika angka backlog (kekurangan) perumahan di Indonesia masih menembus nyaris 10 juta unit.

Hunian bukan lagi sekadar kebutuhan dasar untuk berteduh (use value), melainkan telah dikomodifikasi menjadi instrumen spekulasi bagi akumulasi modal generasi sebelumnya. Gen Z dipaksa menyewa kembali ruang hidup mereka, terjebak dalam siklus di mana upah minimum mereka langsung kembali mengalir ke kantong para tuan tanah modern.

Strategi Bertahan Hidup sebagai Penolakan Sistemik

Di hadapan struktur yang opresif ini, narasi dominan kerap melabeli respons Gen Z sebagai sikap apatis, manja, atau melarikan diri dari realitas. Namun, jika ditelaah melalui analisis kritis, pilihan-pilihan radikal seperti gaya hidup frugal living, gerakan FIRE (Financial Independence, Retire Early), fenomena quiet quitting, hingga keputusan sadar untuk childfree adalah bentuk perlawanan rasional terhadap sistem yang eksploitatif.

Ketika partisipasi penuh dalam pasar tenaga kerja hanya menghasilkan keletihan tanpa jaminan kepemilikan masa depan, penarikan diri secara bertahap menjadi satu-satunya bentuk agensi yang tersisa. Menolak memiliki anak atau menolak mengorbankan waktu pribadi demi janji loyalitas korporat bukan sekadar preferensi gaya hidup; ini adalah pemogokan eksistensial terhadap mesin ekonomi yang membutuhkan reproduksi tenaga kerja murah demi kelangsungan dirinya sendiri. Seperti halnya manusia alamiah (homme naturel) dalam pandangan Rousseau yang menolak belenggu konvensi semu, Gen Z berupaya merebut kembali kedaulatan atas waktu dan eksistensinya dengan mengecilkan ketergantungan pada ilusi konsumerisme.

Menulis Ulang Kontrak Sosial yang Adil

Kebebasan sejati—sebagaimana ditegaskan oleh Rousseau dalam The Social Contract—bukanlah sekadar kebebasan negatif untuk memilih di antara ragam pilihan semu yang disodorkan oleh pasar. Kebebasan sejati mensyaratkan ketiadaan dominasi struktural di mana tidak ada warga negara yang begitu miskin hingga terpaksa menjual dirinya, dan tidak ada yang begitu kaya hingga mampu membeli orang lain.

Masa depan Generasi Z dan generasi sesudahnya akan tetap tergadaikan apabila tatanan sosial hanya berpihak pada akumulasi modal tanpa batas. Reformasi kebijakan perumahan yang berorientasi publik, penataan ulang regulasi kerja fleksibel, serta penguatan jaring pengaman sosial yang menyeluruh bukan lagi sekadar tuntutan teknis teknokratis, melainkan sebuah keharusan moral.

Tanpa keberanian kolektif untuk menulis ulang kontrak sosial yang adil dan memutus belenggu ekonomi struktural ini, janji kemerdekaan individu hanya akan abadi sebagai retorika kosong di tengah krisis generasi yang kian parah.

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UIN Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6  +  1  =