Connect with us

Hukum

Terungkap, Banyak Artis Menerima Jasa Klinik Ilegal di Ciracas

Published

on

Terungkap, Banyak Artis Menerima Jasa Klinik Ilegal di Ciracas

Channel9.id-Jakarta. Polisi mengungkap fakta baru dibalik kasus praktik dokter kecantikan palsu berinisial SW alias Y, pemilik klinik ilegal Zevmine Skin Care di ruko Zam-zam, Jalan TB Simatupang, Ciracas, Jakarta Timur.

Terungkap, bahwa dokter palsu tersebut ternyata pernah melayani sejumlah publik figur sebagai pasiennya.

Hal itu diungkapkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus. Yusri menyebut banyak pasien yang telah menerima jasa dokter palsu Y termasuk kalangan publik figur.

“Cukup banyak pasien tersangka ini bahkan ada beberapa publik figur pernah jadi pasien yang bersangkutan,” kata Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (23/2).

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dit Reskrimsus) Polda Metro Jaya sebelumnya menangkap Y pada 14 Februari pekan lalu.

Baca juga : MAKI Serahkan Profil ‘King Maker’ Kasus Djoko Tjandra ke KPK

Dokter palsu sekaligus pemilik klinik kecantikan ilegal Zevmine Skin Care itu tercatat telah melayani pasiennya hingga ke wilayah Aceh.

Selain melayani pasiennya di klinik tersebut, Y juga menerima panggilan pasien hingga keluar kota.

“Bukan cuma di Jakarta saja, sampai ke Aceh. Tapi lebih sering di daerah Jawa Barat; Bandung,” kata Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (23/2/2021).

Kepada calon pasiennya Y mengaku sebagai dokter. Beberapa tindakan medis yang ditawarkan kepada pasiennya di antaranya; suntik botox, suntik filler hingga tanam benang itu telah dilakukan oleh Y selama empat tahun terakhir.

“Padahal dia sama sekali tidak memiliki ijazah kedokteran, dia dapat belajar karena pernah bekerja menjadi perawat (di klinik kecantikan),” ungkap Yusri.

Sejauh ini, ada dua korban akibat tindak medis dokter kecantikan palsu Y yang telah melapor. Kedua korban masing-masing mengalami pembengkakan pada bagian payudara dan bibir akibat malpraktik dari dokter palsu tersebut.

“Sebelum Covid-19 itu rata-rata pasien yang datang 100 orang perbulan, tapi di situasi pandemi ini agak berkurang sekitar 30 orang. Harga tertinggi Rp9,5 juta dari tarifnya,” beber Yusri.

Y kekinian telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Polda Metro Jaya. Dia dijerat dengan Pasal 77 Juncto Pasal 73 Ayat (1) dan atau Pasal 78 Juncto Pasal 73 Ayat (2) Undang-

Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum

Polresta Banyuwangi Berhasil Gagalkan Peredaran Uang Palsu

Published

on

By

Polresta Banyuwangi Berhasil Gagalkan Sindikat Peredaran Uang Palsu Senilai Rp2,8 Triliun

Channel9.id-Banyuwangi. Polresta Banyuwangi berhasil menangkap 10 orang yang di duga menjadi pengedar uang palsu dan menyita ratusan lembar uang palsu dari berbagai mata uang asing. Ada US Dollar, Dollar Hongkong, Ringgit Brunei, Yuan China, Dollar Canada, Cinco Blanco Cruzeiro Brazil hingga pecahan Rupiah.

Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifuddin mengatakan pengungkapan kasus ini bermula dari informasi adanya transaksi jual beli uang palsu di salah satu hotel Banyuwangi. Dari informasi itu polisi langsung melakukan pengejaran hingga akhirnya menangkap enam orang.

“Ada enam orang yang berhasil diamankan, yakni AW, HW, BU, NH, MT, dan NH. Dari tangan tersangka kami mengamankan barang bukti berupa 12 bendel uang dolar Amerika pecahan $100 atau setara dengan USD 120.000,” kata Arman, Jumat (26/2/21).

Polisi kemudian melakukan pengembangan terhadap sindikat uang asing palsu tersebut dan akhirnya menangkap tersangka lainnya. Yakni tersangka CH alias KS, kemudian AE, SU alias MB, dan tersangka SH.

Dari tangan keempat tersangka ini, kata Arman, polisi mengamankan barang bukti berbagai mata uang asing palsu siap edar. Di antaranya 10 bendel (1.000 lembar) uang pecahan USD 100.000 tahun 1934 atau setara dengan USD 100.000.000.

Saat ini, kata Arman, polisi tengah mendalami kasus tersebut, untuk mencari aktor intelektual dari sindikat peredaran uang asing palsu ini. “Terus kita dalami sampai pada aktor intelektualnya,” tegas Arman.

‘Total barang bukti uang palsu tersebut jika dikurs kan dalam Rupiah berjumlah Rp 2.822.780.000.000 atau setara dengan Rp 2,8 Triliun. Barang bukti lain yang berhasil disita ada dua buah mobil dan handphone. Ada dua brangkas kecil bertuliskan United States of America. Tersangka terancam hukuman 15 tahun penjara,” pungkasnya

Continue Reading

Hukum

Anggota TNI di Komplek Berland Ditusuk Tetangganya

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. TNI dari Pusat Intelijen Angkatan Darat (Pusintelad) Serka Komang ditusuk tetangganya bernama Manik pada Kamis (25/2). Diketahui Manik ternyata sudah menargetkan Komang, bahkan sengaja menunggu Komang lewat sebelum akhirnya melakukan penusukan di lokasi kejadian.

Hal itu diketahui melalui penuturan warga sekitar yang menjadi saksi peristiwa.

Menurut warga yang enggan disebutkan namanya, M memang sudah beberapa saat berdiam diri di salah satu perempatan di Komplek Berland, Matraman, Jakarta Timur.

“Iya memang sebelum kejadian, dia (pelaku) duduk di situ pinggir. Pas TNI lewat dia baru tusuk,” kata warga di lokasi, Jumat (26/2).

Sebelum ditusuk, kata warga, Serka Komang sedang melaju mengendarai sepeda motor menuju ke tempat kerja.

“Jadi pas adzan juhur kejadiannya lah itu. Emang mungkin korban juga habis istirahat siang pulang ke rumah, lalu balik lagi ke tempat kerja,” ucap warga.

Serka Komang yang mengalami beberapa luka tusukan, sempat terbaring. Namun kondisi Komang masih sadar, tak sampai pingsan.

“Yang parah di telapak tangan mungkin karena nahan, ada lagi bagian perut. Cuma masih sadar, masih bangun, sempat nelepon. Dari situ terus diantar ke rumah sakit,” ujarnya.

Serka Komang sebelumnya dianiaya hingga mengalami luka tusuk di bagian perut dan lengan oleh Manik. Pelaku diketahui merupakan tetangga Serka Komang.

Kapolsek Matraman Kompol Tedjo Asmoro menyebut peristiwa terjadi di Jalan Komplek Berland, Matraman, Jakarta Timur, pada Kamis (25/2) siang kemarin. Pelaku telah tertangkap tak lama setelah peristiwa itu terjadi.

Peristiwa tersebut berawal dari adanya perselisihan antara Serka Komang dan tetangganya Manik. Ketika itu, Serka Komang menegur Manik lantaran tak terima dipelototi. Namun, perselisihan itu berhasil dilerai.

Selanjutnya, Serka Komang pun hendak pergi ke kantornya dengan menggunakan sepeda motor. Setelah berjalan sejauh 100 meter dari rumahnya dia dijegat dan ditusuk oleh Manik yang kemudian melarikan diri.

IG

Continue Reading

Hot Topic

KPK Duga Uang Korupsi Eks Mensos Mengalir ke Sejumlah Pihak Daerah

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami aliran uang korupsi Bansos Covid-19 eks Menteri Sosial Julari Batubara dengan menggali kesaksian Ketua Komisi DPRD Kabupaten Kendal, Munawir.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, KPK mensinyalir adanya uang korupsi Bansos Covid-19 mengalir ke sejumlah pihak di daerah yang diberikan oleh tersangka Juliari.

“Munawir didalami pengetahuannya terkait adanya dugaan aliran sejumlah uang yang di berikan oleh tersangka JPB (Juliari P. Barubara) ke beberapa pihak di daerah,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri, Jumat (26/2).

Selanjutnya, Politikus PDI Perjuangan Ihsan Yunus ditelisik terkait pengetahuannya mengenai adanya pembagian jatah bansos Covid-19 di Kementerian Sosial tahun 2020.

“M. R Ihsan Yunus dikonfirmasi pengetahuannya mengenai adanya dugaan pembagian jatah paket bansos,” kata Ali.

Sementara itu, saksi Rizki dan Firmansyah selaku anggota Tim Bansos Covid-19 dicecar penyidik antirasuah mengenai telah diaturnya sejak awal vendor-vendor yang akan mendistribusikan paket sembako.

“Sejak awal sekaligus dikonfirmasi adanya dugaan aliran sejumlah uang dari tersangka MJS (Matheus Joko Santoso) ke beberapa pihak di Kemensos RI,” imbuh Ali.

Dalam kasus ini, Juliari diduga mendapatkan jatah atau fee sebesar Rp 10 ribu per paket bansos. Dari program bansos Covid-19, Juliari dan beberapa pegawai Kementerian Sosial mendapatkan Rp 17 miliar.

Sebanyak Rp 8,1 miliar diduga telah mengalir ke kantong politisi PDI Perjuangan itu. Juliari juga dijanjikan akan mendapatkan jatah selanjutnya sebesar Rp8,8 miliar pada pengadaan bansos periode kedua.

Selain Juliari, KPK turut menetapkan dua pejabat pembuat komitmen (PPK) di Kementerian Sosial, yakni Matheus Joko Santoso (MJS) dan Adi Wahyono (AW), sebagai tersangka penerima suap.

Sedangkan pemberi suap adalah pihak swasta bernama Ardian I M (AIM) dan Harry Sidabuke.

Dalam OTT tersebut, KPK mengamankan barang bukti berupa uang mencapai Rp 14,5 miliar berupa mata uang rupiah dan mata uang asing. Masing-masing berkisar Rp11, 9 miliar, USD 171,085 (setara Rp 2,420 miliar) dan SGD 23.000 (setara Rp 243 juta).

IG

Continue Reading

HOT TOPIC