Channel9.id – Jakarta. Sejumlah tokoh lintas agama dan organisasi masyarakat sipil menyoroti dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat. Mereka mendesak pemerintah mengambil langkah untuk menangani krisis lingkungan yang dinilai turut memengaruhi kehidupan sehari-hari warga.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Doa Bersama Lintas Agama bertajuk “Suara Keprihatinan dan Doa Pemulihan Bangsa” di GPIB Immanuel Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (27/10/2026). Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 100 peserta dari kalangan tokoh agama, pimpinan gereja, aktivis lingkungan, dan pegiat kemanusiaan.
Head Project Ummah for Earth di Greenpeace Indonesia, Riska Rahman, mengatakan dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh lingkungan, tetapi juga masyarakat yang terpapar asap. Kondisi tersebut, menurut dia, menunjukkan bahwa penanganan krisis iklim perlu mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan manusia.
“Di sini pemerintah harus segera bertindak. Tidak hanya untuk keselamatan warga, namun juga keselamatan bumi,” kata Riska, sebagaimana dikutip Channel9.id dalam diskusi tersebut.
Ia juga menyoroti dampak asap karhutla yang disebut telah menyebar hingga negara tetangga. Paparan asap tersebut turut menambah beban masyarakat karena harus menghadapi dampak kesehatan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain karhutla, penyelenggara menyoroti persoalan lingkungan dan kemanusiaan lainnya, termasuk aktivitas vulkanik, kecelakaan transportasi, ketidakpastian ekonomi, polarisasi sosial, serta korupsi. Berbagai persoalan itu dinilai membutuhkan perhatian bersama karena berkaitan dengan keselamatan warga, keadilan, dan kepercayaan publik.
Ketua Umum Majelis Sinode (FMS) GPIB, Pendeta Nitis Putrasana Harsono, mengatakan pengelolaan alam perlu memperhatikan keberlanjutan kehidupan. Menurut dia, pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan sosial dan ekonomi.
“Ketika kita hidup oleh alam, semesta ini dipercayakan kepada kita untuk dikelola, dan hidup dalam keberlanjutan, yaitu kehidupan bukan hanya mengatasi masalah sosial ekonomi tapi juga masalah sosial ekologis,” ujar Nitis.
Doa bersama tersebut juga menjadi ruang bagi perwakilan berbagai agama untuk menyampaikan refleksi mengenai kondisi bangsa dan mendoakan masyarakat yang terdampak berbagai persoalan. Para peserta turut membahas komitmen untuk menjaga perdamaian, keadilan, dan kelestarian lingkungan.
Melalui kegiatan itu, para penyelenggara mengajak masyarakat melihat pemulihan bangsa sebagai upaya yang tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi dan pembangunan, tetapi juga cara manusia memperlakukan sesama, lingkungan, dan menjalankan kekuasaan.
Koalisi yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Departemen Germasa-Lingkungan Hidup GPIB, Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Institut WJ Rumambi, WWF Indonesia, Interfaith Rainforest Initiative (IRI), Eco Bhinneka Muhammadiyah, Ummah for Earth, Eksekutif Nasional WALHI, Forest Watch Indonesia (FWI), serta Indonesian Working Group on Forest Finance (IWGFF).
HT




