UNJ Bahas Masa Depan Pendidikan di Era AI, Kampus Diminta Cetak Pencipta Teknologi
Nasional

UNJ Bahas Masa Depan Pendidikan di Era AI, Kampus Diminta Cetak Pencipta Teknologi

Channel9.id-Bogor. Perkembangan artificial intelligence (AI) mengubah cara manusia belajar, bekerja hingga melakukan riset. Perguruan tinggi pun dituntut tak sekadar menjadi pengguna, tetapi mampu menyiapkan sumber daya manusia yang bisa mengembangkan dan mengendalikan teknologi tersebut.

Hal itu menjadi salah satu pembahasan dalam Forum Group Discussion (FGD) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bertema “Pendidikan Transformatif di Era Artificial Intelligence Menuju Indonesia Emas 2045” di Ciawi, Bogor, Sabtu (12/9/2026).

Rektor UNJ Prof Komarudin mengatakan AI seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat proses pendidikan, bukan menggantikan peran manusia. UNJ, kata dia, siap memperkuat riset di bidang AI.

“UNJ siap mengembangkan itu. Salah satu riset yang dikembangkan adalah AI dan lainnya,” ujar Komarudin.

Senada, Kepala BRIN Prof Arif Satria menilai tantangan pendidikan Indonesia bukan hanya bagaimana menggunakan AI, tetapi juga melahirkan pencipta teknologi tersebut.

“Bukan sekadar apakah pendidikan menggunakan AI, tetapi mampukah pendidikan melahirkan pencipta teknologi,” kata Arif.

Menurut Arif, kemampuan AI dapat dilihat dalam tiga tahap, yakni memahami, menggunakan, dan membangun AI. Indonesia perlu memperkuat kemampuan membangun teknologi tersebut agar tidak hanya menjadi konsumen.

Pengembangan AI juga membutuhkan ekosistem yang lebih luas, mulai dari energi, pusat data, cip, sumber daya manusia, riset, industri hingga regulasi. Karena itu, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan peneliti dan talenta teknologi.

Arif juga membuka peluang kolaborasi antara UNJ dan BRIN di bidang riset dan inovasi. Ia menilai kekuatan UNJ di bidang pendidikan dapat menjadi modal penting dalam menghadapi transformasi teknologi.

Sementara itu, Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Diponegoro Prof Mohamad Nasir menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

“Indonesia Emas 2045 tidak ditentukan oleh SDA, tetapi kualitas SDM yang berilmu, berinovasi, dan berkarakter,” ujarnya.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Daerah Tertentu Kemenko PM Prof Abdul Haris bahkan mendorong UNJ mulai memikirkan transformasi menjadi Intelligence University.

Menurutnya, transformasi tersebut harus dimulai dari pengelolaan data. Data dapat digunakan untuk memahami kondisi, membuat prediksi, hingga menjadi dasar pengambilan keputusan.

” Kita berangkat semua dari data, kita pelajari data, membuat prediksi, dan akhirnya membuat keputusan,” katanya.

Di sisi lain, Guru Besar UGM Prof Ainun Naim mengingatkan penggunaan AI di kampus tetap memiliki risiko. AI memang dapat membantu mahasiswa dan peneliti, tetapi penggunaannya tanpa kendali dapat memunculkan persoalan hak cipta, privasi, akurasi informasi hingga menurunkan kemampuan berpikir kritis.

“Bagaimanapun manusia tetap pengendali. Artinya, tidak boleh menerima dan bergantung begitu saja pada hasil AI,” kata Ainun.

Ia menekankan pentingnya verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan AI serta menjaga transparansi, tanggung jawab intelektual, perlindungan data pribadi dan keadilan akses.

FGD tersebut menegaskan bahwa transformasi pendidikan di era AI bukan sekadar memasukkan teknologi ke ruang kelas. Perguruan tinggi juga harus mampu melahirkan manusia yang kritis, kreatif, berkarakter, sekaligus mampu menghasilkan dan mengembangkan teknologi untuk menghadapi Indonesia Emas 2045.

Baca juga: Satgas PPKPT se-Indonesia Berkumpul di UNJ, Bidik Kampus Bebas Kekerasan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2  +  3  =