Connect with us

Techno

Virus Trojan Baru Curi Data Pengguna, Khususnya Detail Perbankan

Published

on

Channel9.id-Jakarta. Virus trojan terbaru bernama Ghimob mampu meniru aplikasi Android asli. Ia bisa memata-matai, bahkan mencuri data pengguna. Fakta ini didapat dari perusahaan keamanan siber Kaspersky, yang menemukan virus baru tersebut.

Mulanya, Kaspersky melaporkan virus tersebut dan mengunggah detailnya di Malpedia–yakni suatu basis data yang menyortir dan mencantumkan penemuan tentang perkembangan suatu virus.

Di wadah itu, Kaspersky memaparkan bahwa malware “Ghimob” ditujukan untuk menargetkan sistem Android dan meniru lebih dari 153 aplikasi smartphone.

Baca juga : Cinema XXI Resmi Dibuka di Jakarta Hari Ini

Ghimob ialah virus Trojan buatan suatu grup yang membuat malware Astaroth Windows. Adapun virus ini ditujukan untuk mencuri informasi yang berkaitan dengan bank dan koneksi keuangan.

“Ciptaan barunya –Trojan perbankan Ghimob–menarik korban untuk menginstal file berbahaya melalui email yang menunjukkan bahwa orang yang menerimanya memiliki semacam hutang,” jelas Kaspersky.

Email itu menyertakan link untuk diklik oleh korban dengan imbauan agar mereka tahu informasi lanjutan. Setelah Remote Acces Trojan (RAT) dipasang, malware akan mengirim pesan tentang infeksi yang berhasil ke servernya.

Ghimob bisa memata-matai 153 aplikasi seluler, terutama dari bank, perusahaan fintech, mata uang kripto dan bursa.

Berdasarkan data statistik Kaspersky, selain Brasil, target Ghimob pun berlokasi di Paraguay, Peru, Portugal, Jerman, Angola, dan Mozambik.

Tech Times melaporkan bahwa Ghimob menyamar sebagai aplikasi sah yang bisa diunduh dan digunakan pengguna. Prosedur semacam inilah yang digunakan oleh virus “Trojan Horse”. Aplikasi palsu ini mulanya akan meminta untuk mengakses data pengguna saat menginstal.

Setelah aplikasi diinstall, malware tersebut meminta pengguna untuk mengizinkan layanannya. Mirip dengan petunjuk setiap kali mengunduh dari aplikasi Play Store yang sah.

Jika disetujui, malware akan meluncurkan login palsu, yang meminta pengguna untuk memasukkan kembali nama pengguna, kata sandi, dan data lain pada aplikasi. Data ini dikumpulkan secara diam-diam, kemudian akan dikirim ke servernya untuk kompilasi. Demikian cara aplikasi malware tersebut mengakses informasi pribadi dan sensitif dari pengguna.

Biasanya Ghimob muncul di browser pengguna sebagai iklan yang menjanjikan akan memberi pengalaman aplikasi populer yang lebih baik, mislanya Google, WhatsApp, atau Adobe. Aplikasi yang meniru adalah Google Defender, Adobe Flash Update, WhatsApp Updater, lain-lain.

Aplikasi malware ini tak didistribusikan di Google Play Store, sehingga pengamanan dan aplikasi asli tak terpengaruh oleh aksi penjahat siber ini.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Rilis Green Screen Duet, TikTok Akun Lain Bisa Jadi Latar Belakang Konten

Published

on

By

Rilis Green Screen Duet, TikTok Akun Lain Bisa Jadi Latar Belakang Konten

Channel9.id-Jakarta. TikTok merilis fitur baru yaitu “Green Screen Duet” atau duet layar hijau. Fitur ini memungkinkan pengguna menambahkan TikTok orang lain sebagai latar belakang kontennya sendiri, dikutip dari The Verge, Rabu (12/5).

“Green Screen Duet” saat ini tersedia pada opsi menu tata letak duet. Sama halnya dengan semua duet, kreator konten asli akan diberi tag pada teks video baru.

Baca juga : Siap Saingi Facebook, TikTok Hadirkan Fitur Belanja Dalam Aplikasi

Adapun hadirnya fitur baru itu menjadi pertanda bahwa aplikasi TikTok kini punya kelebihan sensorik.

Selain itu, fitur tersebut juga sangat berguna bagi orang-orang yang sudah menggunakan “green screen” TikTok. Baik untuk meletakkan gambar di latar belakang video mereka maupun mengedit video untuk membuat efek serupa.

Itu juga mungkin membuat konten TikTok reaksi terhadap TikToks lain lebih kohesif secara visual daripada Duet (di mana video dipasang bersebelahan satu sama lain) dan Stitches (di mana klip video asli diputar selama beberapa detik sebelum yang baru dimulai).

Sekadar informasi, TikTok terus meluncurkan inovasi baru lantaran banyak perusahaan lain yang menambahkan fitur seperti TikTok ke aplikasi mereka.

Misalnya di Instagram ada Reel Instagram yang kini bisa “di-remix” seperti duet TikTok. Ada pula Snapchat dengan Spotlight, yang berhasil menggaet 100 juta pengguna setelah bulan setelah diluncurkan, dan YouTube berencana membayar kreator yang menggunakan YouTube Shorts untuk mendorong mereka terus menggunakan fitur tersebut.

Sementara itu, TikTok membuat fitur yang memungkinkan TikTok orang lain jadi latar belakang mereka sendiri.

(LH)

Continue Reading

Techno

Siap Saingi Facebook, TikTok Hadirkan Fitur Belanja Dalam Aplikasi

Published

on

By

Siap Saingi Facebook, TikTok Hadirkan Fitur Belanja Dalam Aplikasi

Channel9.id-Jakarta. TikTok berencana menambahkan fitur belanja dalam aplikasi untuk bersaing dengan Facebook, demikian laporan dari Bloomberg.

Dilaporkan pula bahwa saat ini TikTok tengah menguji penjualan dalam aplikasi di Eropa, dikutip The Verge Rabu (12/5). Dalam hal ini, perusahaan pun turut bermitra dengan beberapa merek, termasuk perusahaan pakaian yang berbasis di Inggris, Hype.

Baca juga : Facebook Akan Pastikan Pengguna Baca Artikel Sebelum Membagikannya

Sebelumnya, TikTok pernah berinisiatif memfasilitasi perdagangan di platformnya dengan memungkinkan kreator untuk menjual barang dagangan melalui integrasi Teespring, bermitra dengan Shopify, dan mengerjakan sejumlah jenis produk langsung. Adapun model ini seperti ruang belanja yang diintegrasikan di Instagram, di mana tab belanja terpisah di bawah akun merek yang mencantumkan produk dengan gambar dan harga.

Halaman akun Hype saat ini memang nampak seperti fitur belanja itu. TikTok sendiri telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang menguji fitur tersebut.

TikTok memang sangat cocok untuk iklan, sementara penggunanya dibuat mudah menikmati konten di platform tersebut. Adapun model belanja ini kemungkinan tak terlalu fokus pada video, yang identik dengan TikTok. Namun, mungkin mirip seperti model yang ada di Facebook dan Reels Instagram.

Sekadar informasi, Facebook telah menambahkan fungsi perdagangan seperti tab belanja yang disebutkan tadi dan informasi produk di Reels. Bahkan, baru-baru ini, Facebook menguji iklan stiker di Stories.

(LH)

Continue Reading

Techno

Dorong Penggunaan Shorts, YouTube Gelontorkan Rp1,4 Triliun Untuk Bayar Kreator

Published

on

By

Dorong Penggunaan Shorts, YouTube Gelontorkan Rp1,4 Triliun Untuk Bayar Kreator

Channel9.id-Jakarta. YouTube berencana membayar $100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun kepada kreator yang menggunakan YouTube Shorts sepanjang tahun depan. Adapun fitur tersebut merupakan pesaing TikTok.

Dikutip dari The Verge pada Rabu (12/5), platform streaming video itu berniat mendorong para kreator untuk terus menggunakan fitur barunya itu—yang tak bisa menghasilkan uang secara otomatis bagi kreator.

Baca juga : YouTube Longgarkan Aturan Iklan, Konten Terkait Narkoba Bisa Dimonetisasi

YouTube mengatakan pihaknya akan memantau para kreator setiap bulan, untuk mencari paling banyak terlibat dan tampil di platformnya. Perusahaan juga menyebutkan ribuan kreator bisa mendapat bayaran setiap bulan. Meski demikian, perusahaan tak merinci seberapa besar penghasilan yang bisa didapat kreator.

Perihal Shorts, YouTube mengatakan siapa saja bisa mengunggah konten melalui fitur ini. Namun, satu-satunya syarat ialah konten harus asli dan mematuhi kebijakan YouTube.

Lebih lanjut, pembayaran itu mula-mula akan tersedia di Amerika Serikat dan India. Ke depannya, YouTube berencana untuk memperluasnya ke lebih banyak wilayah. Namun, belum ada tanggal pasti kapan perusahaan akan melakukan pembayaran, yang jelas kebijakan ini akan berlangsung tahun ini hingga 2022.

Diketahui, Shorts dirilis oleh YouTube pada Maret lalu. Fitur ini memungkinkan pengguna bisa melihat video pendek di aplikasi seluler YouTube. Sama seperti TikTok atau Instagram Reels, pengguna bisa menggeser dari satu video ke video berikutnya.

Adapun pendekatan yang dilakukan oleh YouTube—yakni membayar kreator yang menggunakan fitur pesaing TikTok—juga dilakukan oleh perusahaan lain. Mereka berniat kreator agar tetap menggunakan platform mereka.

Pada Juli 2020, TikTok meluncurkan dana $200 juta untuk para kreator. Kemudian pada November 2020, Snapchat membayar $1 juta per hari untuk jangka waktu tertentu setelah pesaing TikTok-nya, Spotlight.

(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC