Channel9.id, Jakarta. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto mengingatkan bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak hanya bergantung pada kualitas pendidikan dan penguasaan teknologi, tetapi juga pada keberhasilan membangun karakter generasi muda. Tanpa fondasi moral, etika, dan nilai kebangsaan yang kuat, bonus demografi berisiko tidak memberikan manfaat optimal bagi pembangunan nasional.
Bima menuturkan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak semata ditentukan oleh kemampuan intelektual masyarakatnya. Menurutnya, karakter menjadi elemen penting yang menjaga keberlanjutan peradaban dan menentukan kualitas kepemimpinan di masa depan.
“Peradaban besar ditopang oleh pengetahuan dan dipertahankan oleh karakter. Karena itu, tugas kita hari ini adalah fokus membangun karakter dan mengusung kembali nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” ujarnya saat menghadiri Pengukuhan Pengurus Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) di Jakarta, Sabtu (13/6/2026).
Dia menjelaskan, tantangan pembentukan karakter generasi muda saat ini semakin kompleks seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial. Arus informasi yang bergerak cepat kerap tidak diiringi dengan proses verifikasi yang memadai, sehingga berpotensi memengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat, khususnya kalangan muda.
Menurut Bima, kondisi tersebut menuntut generasi muda untuk memiliki kemampuan berpikir kritis, integritas, serta kebijaksanaan dalam menyikapi berbagai informasi yang diterima. Kemampuan tersebut dinilai penting agar mereka tetap mampu membedakan fakta dan opini serta tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.
Lebih lanjut, Bima menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan kompetensi akademik dan keterampilan teknis. Penguatan karakter dan integritas harus berjalan seiring agar mampu melahirkan pemimpin yang bertanggung jawab dan memiliki orientasi jangka panjang bagi bangsa.
Dia juga mengajak generasi muda untuk memiliki perspektif global tanpa kehilangan identitas budaya dan kebangsaan. Menurutnya, para pendiri bangsa telah menunjukkan bagaimana nilai-nilai lokal dapat menjadi fondasi untuk berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Bima mencontohkan sejumlah tokoh Melayu seperti Raja Ali Haji dan Buya Hamka yang dinilai berhasil memadukan tradisi intelektual, nilai moral, dan wawasan kebangsaan dalam pemikiran maupun karya mereka.
Karena itu, dia berharap organisasi seperti ISMI dapat berperan aktif dalam memperkuat nilai budaya, etika, dan kebangsaan melalui berbagai kegiatan edukasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan bonus demografi yang dimiliki Indonesia dapat menjadi modal pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, bukan justru menjadi tantangan baru akibat rendahnya kualitas karakter generasi penerus bangsa.





