Nasional

WNI Relawan GSF Ungkap Trauma dan Cedera Usai Ditangkap Israel

Channel9.id – Jakarta. Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSD) 2.0 telah kembali ke Tanah Air setelah sebelumnya dicegat dan ditahan militer Israel saat berlayar menuju Gaza, Palestina. Sejumlah relawan mengaku mengalami trauma fisik dan cedera akibat tindakan kekerasan selama proses penahanan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono menyambut langsung kepulangan para relawan di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Pemerintah juga memastikan pendampingan bagi para WNI yang mengalami trauma maupun cedera fisik setelah insiden tersebut.

“Selamat datang kembali, selamat berkumpul dengan keluarga. Dan tadi dari laporan, ada beberapa rekan kita yang mengalami trauma fisik yang akan juga ditangani lebih lanjut,” kata Sugiono.

Wartawan Republika yang juga relawan Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Bambang Noroyono, mengaku bersyukur dapat kembali ke Indonesia dan bertemu keluarganya. Ia mengatakan kondisi fisiknya mulai membaik, meski masih merasakan dampak dari benturan yang dialaminya selama penahanan.

“Syukur alhamdulillah bisa ketemu keluarga, karena ini tetap lanjut perjuangan bersama tentang memperjuangkan hak-hak masyarakat Palestina, hak-hak warga Gaza,” ujar Abeng.

Menurut Bambang, sejumlah relawan lainnya mengalami cedera yang lebih serius dan memerlukan perhatian lebih lanjut. Ia menyebut masih terdapat bekas luka dan rasa nyeri akibat benturan yang dialaminya.

“Kondisi saya sudah enggak terlalu khawatir lagi. Masih ada bekas benturan yang masih kerasa, tapi lambat laun akan menghilang. Luka juga masih ada. Ada beberapa teman yang harus diperhatikan, mengalami retak di bagian dalam tulang,” lanjutnya.

Relawan Republika dan GPCI lainnya, Thoudy Badai, menilai penahanan terhadap para relawan dilakukan saat mereka berada di perairan internasional. Ia mengatakan para relawan kemudian dibawa ke wilayah Israel dan ditahan selama beberapa hari.

“Penculikannya tentu di luar prosedur di perairan internasional, dan kita dibawa masuk ke perairan Israel lalu dibawa ke kapal besar milik Israel selama tiga hari dua malam,” kata Thoudy.

Thoudy juga mengaku para relawan menerima perlakuan yang tidak manusiawi selama masa penahanan. Pengalaman tersebut, menurutnya, memberikan gambaran mengenai kondisi yang dihadapi warga Palestina di Gaza.

“Dan tentunya diperlakukan keji. Itu sangat mungkin dialami masyarakat Palestina dengan kondisi yang jauh lebih keji. Jadi, tetap suarakan Free Palestine,” tegasnya.

Baca juga: Diplomasi Berhasil, Menlu: 9 WNI Relawan Gaza Segera Pulang ke Tanah Air

HT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

33  +    =  35