Internasional

Mojtaba Khamenei Pimpin Iran Usai Serangan yang Tewaskan Ayah dan Keluarganya

Channel9.id, Jakarta. Iran secara resmi menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Serangan tersebut memicu konflik besar yang kini mengguncang kawasan Timur Tengah.

Pengangkatan Mojtaba diumumkan pada Minggu (8/3/2026) waktu setempat oleh para ulama yang tergabung dalam lembaga penentu pemimpin tertinggi Iran. Ia akan memimpin negara tersebut di tengah situasi krisis yang disebut sebagai salah satu yang paling serius sejak Republik Islam berdiri hampir lima dekade lalu.

Mojtaba dipilih oleh Majelis Ahli sekitar sepuluh hari setelah serangan udara yang menewaskan ayahnya. Dalam serangan tersebut, ibu Mojtaba serta istrinya, Zahra Haddad-Adel, juga turut menjadi korban.

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel itu terjadi pada 28 Februari lalu dan menghantam kompleks kediaman keluarga Khamenei di ibu kota Teheran. Laporan Anadolu Agency menyebut Zahra meninggal dunia akibat serangan udara yang menghantam kawasan tersebut.

Mojtaba sendiri dilaporkan selamat dari serangan tersebut. Namun, ia kehilangan sejumlah anggota keluarga lainnya, termasuk saudara perempuan, kakak ipar, serta beberapa keponakan.

Mojtaba yang kini berusia 56 tahun dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup dari publik. Berbeda dengan ayahnya, ia tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan dan jarang tampil di ruang publik.

Selama ini Mojtaba juga tidak pernah memberikan pidato terbuka ataupun wawancara kepada media. Foto dan rekaman videonya pun hanya beberapa kali dipublikasikan.

Bahkan, banyak warga Iran disebut belum pernah mendengar langsung suara Mojtaba, meskipun ia merupakan putra dari pemimpin tertinggi negara tersebut.

Meski jarang tampil di depan publik, sejumlah laporan menyebut Mojtaba memiliki pengaruh yang cukup besar dalam lingkaran kekuasaan Iran.

Menurut laporan BBC, putra kedua Ali Khamenei itu kerap disebut sebagai “pangeran bayangan” yang mengelola jaringan internal kekuasaan di sekitar ayahnya.

Ia juga diyakini memiliki hubungan yang kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) serta sejumlah lembaga intelijen negara.

Dalam beberapa tahun terakhir, namanya memang semakin sering disebut sebagai kandidat kuat yang berpotensi menggantikan Ali Khamenei.

Sejumlah analis menilai penunjukan Mojtaba menandakan bahwa kelompok garis keras di dalam struktur kekuasaan Iran masih memegang pengaruh besar. Situasi tersebut juga diperkirakan membuat peluang negosiasi atau kesepakatan damai dalam waktu dekat menjadi semakin kecil, terlebih ketika konflik telah memasuki pekan kedua.

Media Al Jazeera menggambarkan Mojtaba sebagai figur yang selama ini berperan sebagai “penjaga gerbang” bagi ayahnya dalam lingkaran kekuasaan.

Menurut laporan tersebut, pandangannya terhadap Amerika Serikat dan Israel juga sejalan dengan sikap keras Ali Khamenei. Karena itu, banyak pihak memperkirakan kepemimpinannya akan tetap bersifat konfrontatif dan kecil kemungkinan mengarah pada pendekatan yang lebih moderat.

Meski demikian, sebagian pengamat menilai perubahan kebijakan tetap mungkin terjadi dalam jangka panjang, terutama jika konflik yang berlangsung saat ini berakhir dan Mojtaba mampu mempertahankan stabilitas pemerintahan.

Rami Khouri, Distinguished Public Policy Fellow di American University of Beirut, menilai pengangkatan Mojtaba menunjukkan kesinambungan dalam sistem kekuasaan Iran. Namun, ia menilai masih terlalu dini untuk memastikan apakah pemimpin baru itu akan membuka ruang negosiasi guna mengakhiri perang.

Khouri juga menilai keputusan tersebut dapat dibaca sebagai pesan politik terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Menurutnya, Iran seolah ingin menunjukkan bahwa tekanan eksternal tidak akan mengubah sistem politik negara tersebut, bahkan dengan memilih sosok yang dianggap lebih keras dibandingkan pemimpin sebelumnya.

Sementara itu, anggota Majelis Ahli Iran, Heidari Alekasir, mengatakan kandidat pemimpin tertinggi dipilih berdasarkan pesan dan arahan Ali Khamenei sebelum wafat. Ia menilai seorang pemimpin tertinggi Iran justru tidak seharusnya mendapatkan pujian dari negara yang dianggap sebagai musuh.

Ia juga menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai sosok yang tidak dapat diterima untuk memimpin Iran.

Pemimpin tertinggi Iran sendiri dipilih oleh Majelis Ahli yang terdiri dari 88 ulama. Sebelumnya lembaga tersebut menyatakan telah mencapai konsensus mayoritas mengenai pengganti Ali Khamenei tanpa mengungkapkan namanya.

Ali Khamenei memimpin Iran selama 37 tahun setelah menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh yang memimpin Revolusi Iran pada 1979. Ia dilaporkan tewas dalam serangan yang terjadi di Teheran pada 28 Februari lalu, yang kemudian memicu konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, militer Israel bahkan sempat mengancam akan menargetkan siapa pun yang menggantikan posisi Khamenei. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga pernah menyatakan keinginannya untuk ikut menentukan pemimpin Iran berikutnya.

Trump menyebut konflik kemungkinan baru akan berakhir setelah kepemimpinan militer dan politik Iran berhasil dilumpuhkan.

Dalam pernyataannya kepada ABC News pada Minggu, Trump juga menegaskan bahwa pemimpin baru Iran tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan dari Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut langsung ditolak keras oleh pejabat Iran yang menegaskan bahwa hanya rakyat Iran yang berhak menentukan masa depan negaranya, termasuk dalam memilih pemimpin tertinggi.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bahkan menyindir pernyataan Trump dengan menegaskan bahwa masa depan Iran tidak akan ditentukan oleh pihak luar, melainkan oleh rakyat Iran sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8  +  2  =