Channel9.id, Jakarta. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah mempercepat pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Maluku.
Bahlil menyampaikan hal itu usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan pengusaha Jepang pada Indonesia–Japan Business Forum di Tokyo, Senin (30/3).
Blok Masela masuk Proyek Strategi Nasional (PSN). Perusahaan energi Jepang, Inpex Masela Ltd, mengelola proyek ini dan menargetkan produksi mulai berjalan pada 2029. Pemerintah menyepakati nilai investasi proyek ini mencapai US$20,9 miliar.
Bahlil mengatakan Presiden Prabowo meminta percepatan realisasi proyek yang lama tertunda.
“Atas arahan Bapak Presiden Prabowo, saya ditugaskan untuk melakukan dua hal kunjungan di Jepang. Pertama adalah memastikan percepatan tentang investasi di transisi energi, yang kedua adalah menyangkut impact Blok Masela,” ujar Bahlil.
Ia menjelaskan proyek Masela sempat tertunda karena pembahasan teknis yang panjang, terutama terkait skema fasilitas gas alam cair (LNG), apakah dibangun di laut (offshore) atau di darat.
Namun, serangkaian pertemuan intensif sepanjang 2025 berhasil mendorong kemajuan proyek tersebut.
“Alhamdulillah sudah selesai total project-nya USD 20,9 miliar karena dia tambah CCS (teknologi penangkapan karbon) USD 1 miliar di POD-nya (rencana pengembangan lapangannya),” jelasnya.
Pemerintah kini fokus mempercepat realisasi proyek agar segera masuk tahap konstruksi. Bahlil menilai langkah ini penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional, khususnya di sektor minyak dan gas.
Lapangan Gas Abadi di Blok Masela menjadi salah satu proyek gas laut dalam terbesar di Indonesia. Cadangannya diperkirakan mencapai 18,54 triliun standar kaki kubik (TSCF). Proyek ini berpotensi memproduksi sekitar 1.200 MMSCFD dan memenuhi kebutuhan gas domestik.
“Kenapa ini harus dipercepat, karena ini penghasil migas salah satu yang besar, 1.200 MMSCFD. Kalau ini mampu kita lakukan maka ketahanan energi kita di sektor migas itu akan semakin kuat,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan, jika proyek berjalan sesuai rencana, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pemain utama gas dunia, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Di sisi lain, pemerintah tetap mendorong pengembangan energi non-fosil sebagai bagian dari transisi energi nasional.
“Karena geopolitik ini kita gak pernah tahu kapan selesai. Jadi mau geotermal, mau air, mau matahari, mau angin, selama ada teknologi harganya efisien, kita akan dorong,” tegasnya.





