Oleh: Rudi Andries*
Channel9.id-Jakarta. Upaya Indonesia mencapai kemandirian pangan menghadapi satu ancaman serius yang sering luput dari perhatian publik: salinisasi lahan sawah. Fenomena ini terjadi ketika kandungan garam, terutama natrium (Na⁺) dan klorida (Cl⁻), terakumulasi dalam tanah hingga mengganggu kemampuan tanaman menyerap air dan nutrisi. Dampaknya tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi dalam jangka panjang dapat merusak lahan secara permanen.
Di Indonesia, salinisasi bukan sekadar isu teknis pertanian, melainkan persoalan strategis nasional. Wilayah pesisir seperti Pantai Utara Jawa, sebagian Sumatera Timur, dan kawasan delta di Kalimantan menjadi titik rawan. Kombinasi intrusi air laut, sistem drainase yang buruk, irigasi berlebih, serta tekanan perubahan iklim mempercepat degradasi lahan. Dalam banyak kasus, petani menghadapi penurunan hasil panen hingga 20–50 persen, bahkan gagal panen pada kondisi ekstrem.
Ironisnya, banyak wilayah terdampak justru merupakan lumbung pangan nasional. Artinya, jika salinisasi dibiarkan, maka target swasembada pangan berisiko besar tidak tercapai. Lebih jauh lagi, ketergantungan terhadap impor dapat meningkat dan membebani fiskal negara.
Pendekatan konvensional seperti perbaikan irigasi dan drainase memang penting, tetapi belum cukup untuk mengatasi masalah secara menyeluruh. Di sinilah Biochar hadir sebagai solusi inovatif yang mulai mendapat perhatian global. Biochar adalah material karbon hasil pembakaran biomassa pada kondisi minim oksigen (pirolisis), yang memiliki kemampuan unik dalam memperbaiki kualitas tanah.

Dalam konteks salinisasi, biochar bekerja melalui beberapa mekanisme kunci. Struktur berporinya meningkatkan kemampuan tanah menahan air dan memperbaiki aerasi. Selain itu, biochar meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK), sehingga membantu menekan dominasi ion garam yang merusak. Hasilnya, tanaman menjadi lebih tahan terhadap stres salinitas, dan produktivitas dapat pulih secara bertahap.
Lebih dari sekadar solusi agronomis, biochar menawarkan dimensi ekonomi baru. Material ini mampu mengunci karbon dalam tanah dalam jangka panjang, sehingga berpotensi menghasilkan kredit karbon di pasar global. Dengan kata lain, program rehabilitasi lahan berbasis biochar tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membuka sumber pembiayaan baru melalui mekanisme ekonomi karbon.
Jika dirancang dalam skala nasional, misalnya melalui program “Biochar for Salinity Recovery (BSR)”, Indonesia berpeluang menggabungkan tiga agenda strategis sekaligus: ketahanan pangan, restorasi lingkungan, dan transisi menuju ekonomi hijau. Dengan skema pembiayaan campuran antara APBN, investasi swasta, dan pendanaan karbon, program ini bahkan berpotensi memiliki tingkat pengembalian investasi yang menarik.
Namun, keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada desain kebijakan yang tepat. Standarisasi kualitas biochar, sistem monitoring yang transparan, serta integrasi dengan perbaikan infrastruktur air menjadi kunci utama. Tanpa itu, risiko seperti klaim karbon yang tidak akurat atau adopsi teknologi yang rendah dapat menghambat implementasi.
Salinisasi lahan sawah adalah krisis yang berjalan perlahan, tetapi dampaknya bisa permanen. Kabar baiknya, solusi sudah tersedia dan dapat diimplementasikan. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk bertindak secara sistemik.
Kemandirian pangan tidak hanya ditentukan oleh benih dan pupuk, tetapi oleh kesehatan tanah itu sendiri. Jika tanahnya pulih, masa depan pangan Indonesia akan lebih terjamin.
Baca juga: Biochar dan Ketahanan Pangan
*Waketum DNIKS, dan Pengawas Asosiasi Biochar Indonesia Internasional (ABII)





