Channel9.id – Bogor. Kementerian Transmigrasi akan menerjunkan 1.476 civitas akademika ke 53 kawasan transmigrasi prioritas di seluruh Indonesia melalui program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Para dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan tersebut ditugaskan memetakan potensi daerah, mengidentifikasi persoalan masyarakat, serta menyusun rekomendasi berbasis data untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi.
Program ini merupakan bagian dari Transmigrasi Patriot, salah satu program unggulan dalam agenda 5T Kementerian Transmigrasi. Sebanyak 1.476 peserta terpilih dari sekitar 10 ribu pendaftar dan akan menjalankan penugasan selama empat bulan, mulai 31 Juli hingga 27 November 2026, setelah mengikuti pembekalan selama lima hari.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan pembangunan memerlukan kehadiran langsung di lapangan agar kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan kondisi riil masyarakat. Menurutnya, para peserta tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga bertugas menggali potensi, mengidentifikasi persoalan, dan menyusun solusi yang dapat menjadi dasar pengembangan kawasan transmigrasi.
“Kalau Bapak, Ibu, dan Adik-adik tidak hadir di tiap sudut Indonesia, maka orang lain yang akan hadir. Karena itu, negara memfasilitasi kehadiran para Patriot (civitas akademika) untuk melihat langsung kondisi di lapangan,” ujar Iftitah saat membuka Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Bogor, Sabtu (25/7/2026).
Ia menilai kawasan transmigrasi memiliki potensi ekonomi yang besar, namun juga menghadapi berbagai tantangan yang memerlukan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan. Karena itu, pemerintah mendorong generasi muda untuk menerapkan kompetensi akademiknya dalam menghasilkan solusi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Pembangunan tidak cukup hanya dibahas di ruang kelas atau ruang rapat. Kita harus hadir, memahami persoalan secara langsung, lalu mencari jalan keluarnya bersama masyarakat,” katanya.
Iftitah menambahkan berbagai persoalan di kawasan transmigrasi telah berlangsung dalam waktu lama sehingga tidak dapat diselesaikan secara instan. Ia berharap para peserta TEP menjadi bagian dari proses perubahan yang berkelanjutan melalui rekomendasi dan inovasi yang dihasilkan selama bertugas di lapangan.
“Persoalan yang sudah berlangsung puluhan tahun tentu tidak selesai dalam satu atau dua hari. Yang penting kita terus bergerak, terus mencari solusi, dan memastikan pembangunan tetap berjalan,” ujarnya.
Kementerian Transmigrasi menyebut hasil kerja Tim Ekspedisi Patriot diharapkan tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi menjadi pijakan bagi penyusunan kebijakan, pengembangan inovasi, masuknya investasi, serta terciptanya kegiatan ekonomi baru di kawasan transmigrasi. Temuan para peserta juga diharapkan dapat mendukung pembukaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas kawasan, dan penguatan usaha masyarakat melalui pemanfaatan teknologi, akses pasar, serta investasi.
TEP 2026 melibatkan 10 perguruan tinggi mitra dan 155 perguruan tinggi nonmitra. Dari total peserta, terdapat 246 ketua tim yang terdiri atas 39 profesor, 158 doktor, dan 49 magister, serta 1.230 anggota yang berasal dari jenjang magister, sarjana, dan sarjana terapan. Mereka akan ditempatkan di 53 kawasan transmigrasi prioritas yang mencakup 41 kawasan prioritas nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, dan 10 kawasan transmigrasi di Papua.
HT





