Channel9.id, Jakarta. Pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi menerjunkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) ke kawasan transmigrasi akhir Juli ini. Tim yang terdiri atas 1.476 civitas akademika dari berbagai perguruan tinggi ini memiliki misi untuk menghubungkan dunia akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan, terutama di kawasan transmigrasi.
Para peserta TEP tidak hanya memetakan potensi lokal, tetapi juga menyusun rekomendasi yang dapat menjadi dasar perumusan kebijakan pembangunan kawasan.
“Program ini menghadirkan talenta-talenta terbaik Indonesia untuk mengabdi kepada masyarakat. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat harus berjalan beriringan agar menghasilkan solusi nyata bagi pembangunan,” kata Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat sesi Town Hall di acara Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, di Jakarta, dikutip Jumat (31/7/2026).
AHY menjelaskan peran tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia tengah menghadapi berbagai tantangan global. Mulai dari dinamika geopolitik, disrupsi teknologi, krisis iklim, hingga persaingan antarnegara dalam memperebutkan talenta dan teknologi.
AHY mendorong seluruh peserta TEP 2026 memanfaatkan masa penugasan sebagai ruang belajar sekaligus ruang pengabdian. Menurutnya, peserta TEP tidak cukup hanya menjadi peneliti yang menghasilkan laporan, tetapi harus tampil sebagai pemimpin transformatif yang mampu menghadirkan solusi bagi pembangunan kawasan transmigrasi.
“Indonesia Emas 2045 harus tetap menjadi visi kita bersama. Kuncinya adalah kualitas sumber daya manusia, inovasi, produktivitas, dan kepemimpinan. Saya berharap Tim Ekspedisi Patriot dapat menjadi bagian dari generasi yang membawa Indonesia menuju negara maju, adil, dan sejahtera,” tuturnya.
Motor Penggerak Pertumbuhan Ekonomi Baru di Kawasan Transmigrasi
Sejalan dengan pandangan tersebut, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan Tim Ekspedisi Patriot merupakan bagian dari paradigma baru transmigrasi yang berorientasi pada penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Kementerian Transmigrasi melepas 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 yang akan bertugas di berbagai kawasan transmigrasi untuk memetakan potensi daerah, memperkuat kapasitas masyarakat, dan membuka peluang investasi berbasis potensi lokal.
“Keberhasilan transmigrasi tidak lagi diukur dari berapa banyak orang yang dipindahkan, tetapi dari berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, investasi yang masuk, dan masyarakat yang semakin sejahtera. Itulah paradigma baru transmigrasi yang sedang kami bangun,” ujar M. Iftitah saat Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (29/7).
Menurutnya, kawasan transmigrasi harus menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menghasilkan nilai tambah melalui pengembangan industri berbasis potensi lokal. Karena itu, kehadiran Tim Ekspedisi Patriot diharapkan mampu mengidentifikasi peluang pengembangan kawasan sekaligus menjembatani kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
Pendekatan tersebut mulai menunjukkan hasil. Di Kawasan Transmigrasi Toriwang, Kabupaten Halmahera Utara, investasi pada industri pengolahan kelapa telah membuka ribuan lapangan kerja bagi masyarakat setempat dan diproyeksikan terus berkembang hingga mampu menyerap puluhan ribu tenaga kerja. Model pengembangan kawasan berbasis investasi dan hilirisasi tersebut akan direplikasi di berbagai kawasan transmigrasi lainnya.
Khusus di Papua, Kementerian Transmigrasi menempatkan sekitar 1.200 personel Tim Ekspedisi Patriot yang akan bertugas di 10 kawasan transmigrasi. Kehadiran mereka merupakan tindak lanjut atas aspirasi pemerintah daerah dan masyarakat Papua yang menginginkan dukungan sumber daya manusia unggul untuk memperkuat pendidikan, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta mempercepat pengembangan ekonomi kawasan.
Revitalisasi Pembangunan di Kawasan Transmigrasi
Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengatakan Presiden RI Prabowo Subianto ingin melakukan revitalisasi pembangunan di berbagai kawasan transmigrasi. TEP nantinya ditugaskan untuk memetakan sejumlah persoalan di kawasan transmigrasi, kemudian menemukan solusinya.
Kerja-kerja TEP ini akan disinergikan dengan kementerian/lembaga terkait. Viva Yoga meyakini sinergi ini sebagai cara agar pembangunan di kawasan transmigrasi menjadi lebih cepat, efektif, dan efisien.
Ia mencontohkan, bila ada sekolah yang rusak, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) bisa bersinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Bila petani membutuhkan alat-alat pertanian, pupuk, bibit, Kementrans menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertanian.
“Kalau ada jalan yang rusak, bisa bersinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Dengan sinergi maka berbagai kendala di kawasan transmigrasi bisa dituntaskan,” kata Viva Yoga.
Peserta TEP juga diharapkan mampu memaksimalkan inovasi dan kreasi mereka untuk pengembangan kawasan transmigrasi.
Viva Yoga mengatakan perlu ada tata kelola dari proses penanaman, pemeliharaan, produksi, pascapanen, dan offtaker. Bila rantai tata kelola itu terbangun maka panen durian, kopi, kakao, coklat, sawit, dan sumber daya alam lainnya akan menghasilkan produktivitas ekonomi yang lebih menyejahterakan masyarakat.
Kementrans melibatkan 10 perguruan tinggi unggulan, yakni UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, UGM, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin dalam TEP 2026.
Peserta TEP 2026 disebar di 53 kawasan transmigrasi, seperti di Salor, Papua Selatan; Selaut, Aceh; Lunang Selaut dan Muara Takung-Kamang Baru, Sumatera Barat; Batu Betumpang, Bangka Belitung; hingga Barelang, Kota Batam Kepulauan Riau;.
Di Papua, peserta TEP didorong untuk menciptakan dan membangun inovasi, kreasi, dan sistem baru dalam tata kelola dan manajemen pengembangan, pemberdayaan, dan pembangunan kawasan transmigrasi yang berbasis pada ilmu ketahuan dan teknologi.
“Diharapkan setelah TEP 2026 ada peningkatan aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan bidang kehidupan lainnya,” kata Viva Yoga.





