Opini

Obituary Imam Tantowi, Film Kolosal, Sinetron Merakyat dan Menolong Karier Akting Orang

Oleh: Akhmad Sekhu*

Channel9.id-Jakarta. Sore itu sepulang dari kegiatan di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, saya mendapati kabar dari Group WA Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI), bahwa ada kabar duka: Imam Tantowi meninggal dunia, Jumat sore, 21 Agustus 2026.

Saya tersentak dan hampir tak percaya, kalau ayah temanku itu meninggal dunia, tapi ternyata banyak orang turut berbela sungkawa hingga menyakinkan saya kalau Pak Imam Tantowi meninggal dunia.

Setelah itu, saya mengabarkan kabar duka ke berbagai Group WA Tegal yang sebagian besar berbasis Tegal, mulai dari Group WA SD Jatibogor Suradadi Tegal, SMP N 2 Kramat (Dukra) Kabupaten Tegal, SMA Pancasakti Kodya Tegal, hingga ke Group WA Perkumpulan Keluarga Kabupaten Tegal – Slawi Ayu (PKKT-SA).

Kedekatan saya dengan Pak Imam Tantowi, sungguh unik mulai dari saya kuliah di Jogja tahun 1994, dimana saya dekat dengan Adityawarman, anak Pak Imam Tantowi. Saya dan Adit sama-sama kuliah di D1 LPK Prisma Asri Yogyakarta. Awalnya, Adit memperkenalkan diri keluarganya dari Tegal yang membuat saya akrab dan sering begadang di Malioboro, hingga suatu hari teman saya mengabarkan kalau ayahnya Adit mendapat penghargaan, saya jadi bertanya-tanya, siapa ayahnya Adit? Teman saya tertawa dan menjawab kalau ayahnya Adit adalah Imam Tantowi, sutradara besar kelahiran Tegal.

Sewaktu libur kuliah, saya iseng main ke Jakarta dan mampir ke rumah Adit yang di Kavling Polri, Jelambar, Jakarta Barat, tapi ternyata Adit tidak ada di Jakarta. Pak Imam Tantowi cerita, kalau libur kuliah Adit lebih suka naik gunung. Saya pun menginap di rumah Adit dan jadinya mengobrol banyak dengan Pak Imam Tantowi tentang dunia perfilman.

Setelah lulus kuliah di Yogyakarta, saya merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan. Saat saya menjadi wartawan film di Majalah Moviegoers, saya melakukan wawancara eksklusif dengan Pak Imam Tantowi di Jelambar dan hasil wawancara dimuat khusus sampai enam halaman.

Dari sini, saya jadi sering main ke rumah Pak Imam Tantowi. Saya jadi tahu bagaimana Pak Imam Tantowi menggarap skenario sinetron ‘Tukang Bubur Naik Haji’, dimana setiap sinetronnya tayang, pembantu mencatat semua iklan yang masuk, hingga setelah sinetron selesai tayang Pak Imam Tantowi diskusi dengan sutradara dan produser.

Saya tenggelam dengan berbagai kesibukan di Jakarta, tapi begitu dapat kabar kalau Pak Imam Tantowi, saya langsung menjenguk ke rumah Pak Imam Tantowi di Jl. Mawaddah X Blok J-8 Nomor 13, Perumahan Islamic, Karawaci, Tangerang.

Saya datang bersama aktor Fendi Pradana yang terkenal dengan perannya sebagai Brama Kumbara dalam film kolosal ‘Saur Sepuh’ garapan sutradara Pak Imam Tantowi. Jadi saat bertemu mereka berdua nostalgia dalam penggarapan film fenomenal tersebut.

Bersamaan datang juga Pak Suswono, yang pada waktu itu sedang sibuk menjadi cawagub DKI Jakarta mendampingi Ridwan Kamil sebagai cagub DKI Jakarta. Semua menjenguk Pak Imam Tantowi yang sedang sakit.

Dalam menggarap film kolosal ‘Saur Sepuh’, Pak Imam Tantowi mampu memenej orang yang begitu sangat banyaknya, banyak sebagian besar orang naik kuda. Bahkan mampu mendatangkan banyak gajah.

Adapun, dalam menggarap sinetron striping ‘Tukang Bubur Naik Haji’, Pak Imam Tantowi banyak menolong orang untuk turut berakting dalam sinetron tersebut. Ia tahu betul hitung-hitungan honornya dalam sinetron merakyat itu sehingga mampu membagi rezeki dengan baik.

Kiprah

Imam Tantowi lahir di Tegal, 13 Agustus 1946. Pendidikannya, Fakultas Hukum Universitas Cokroaminoto Solo (tidak selesai) dan Elementery Cinematography – Biro Pendidikan Organisasi Karyawan Film Televisi (KFT).

Pengalaman organisasi, antara lain, Pelajar Islam Indonesia (1965 – 1969), Karyawan Film dan Televisi sejak 1973, Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia sejak 1998 sampai sekarang, dan Lembaga seni Budaya Muhammadiyah Pusat, Bagian Film.

Sepanjang perjalanan kariernya, ia dikenal sebagai salah satu sutradara yang banyak menggarap film berlatar sejarah, laga, dan kolosal.

Beberapa film yang pernah disutradarainya antara lain Saur Sepuh (Satria Madangkara) (1987), Saur Sepuh II (1988), Saur Sepuh III (1988), Soerabaia 45 (1989), Saur Sepuh IV (1991) dan Fatahillah (1997).

Kiprahnya tidak hanya berlangsung di layar lebar, tetapi juga berlanjut ke dunia sinetron.

Perjalanan Imam Tantowi di dunia seni sebenarnya telah dimulai jauh sebelum menjadi sutradara. Pada 1966-1969, ia aktif dalam lakon sandiwara sebagai pemeran sekaligus sutradara.

Ia kemudian sempat bekerja sebagai pembuat poster film sebelum pindah ke Jakarta. Kariernya di industri perfilman berkembang ketika mendapat kesempatan terlibat dalam film ‘Biarkan Musim Berganti’ (1971) sebagai dekorator. Ia memang berangkat dari pelaku sandiwara radio yang masuk ke industry film sebagai crew, tukang kabel, gambar poster, lalu menulis cerita, skenario, hingga menjadi sutradara handal.

Dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi penata artistik film ‘Si Rano’. Pengalamannya terus bertambah hingga ia menjadi asisten sutradara dalam ‘Tukang Kawin’ (1977), sebelum mulai menulis skenario untuk Dang Ding Dong (1978).

Imam Tantowi kemudian memulai debutnya sebagai sutradara pada 1982. Kemampuannya sebagai penulis skenario juga mendapat pengakuan. Ia beberapa kali masuk nominasi Festival Film Indonesia, di antaranya melalui Lebak Membara dan Carok.Pantai & Kepulauan

Piala Citra kemudian berhasil diraihnya sebagai penulis cerita asli terbaik lewat film ‘Si Badung’ pada FFI 1989. Film tersebut juga memperoleh penghargaan dalam kategori film musikal dan film anak-anak.

Prestasi Imam Tantowi semakin lengkap ketika ia meraih Piala Citra sebagai sutradara terbaik lewat ‘Soerabaia 45’ pada FFI 1991. Film tersebut juga membawanya masuk nominasi untuk kategori penulis skenario dan penyunting terbaik.

Ketika industri film nasional menghadapi masa sulit akibat dominasi film impor dan melemahnya produksi film dalam negeri, Imam Tantowi beralih memperluas kiprahnya ke televisi.

Ia aktif menulis cerita dan skenario sinetron. Di ajang Festival Sinetron Indonesia, namanya kembali muncul sebagai nominasi sekaligus peraih penghargaan.

Pada 1994, Imam Tantowi meraih Piala Vidia sebagai penulis cerita asli terbaik melalui ‘Madu Racun dan Anak Singkong’. Setahun kemudian, ia kembali mendapat penghargaan untuk Jejak Sang Guru.

Pada 1996, ia meraih penghargaan sebagai penulis skenario komedi terbaik melalui ‘Suami-suami Takut Istri’. Karya tersebut juga membawanya meraih penghargaan sebagai penulis cerita asli komedi terbaik.

Kreativitas Imam Tantowi terus berlanjut melalui berbagai karya televisi, termasuk ‘Bang Jagur’ dan ‘Maha Kasih’. Salah satu karyanya yang paling dikenang adalah kisah ‘Tukang Bubur Naik Haji’.

Cerita tersebut kemudian dikembangkan menjadi sinetron Tukang Bubur Naik Haji the Series pada 2012. Serial itu bertahan hingga ratusan episode dan menjadi salah satu tayangan televisi yang populer pada masanya.

Penghargaan Terakhir

Atas jasa dan kiprahnya dalam dunia perfilman, Imam Tantowi meraih penghargaan Lifetime Achievement atau pengabdian seumur hidup pada Festival Film Indonesia (FFI) 2024.

“Saya seperti bangun dari mimpi setelah sekian puluh tahun tidak lagi di film, beralih ke televisi. Terima kasih kepada panitia yang telah memberi penghargaan yang luar biasa. Ini mungkin penghargaan yang terakhir dalam hidup saya,” kata Imam Tantowi, saat menerima penghargaan itu.

Penghargaan Lifetime Achievement adalah penghargaan terakhir Pak Imam Tantowi.

Selamat jalan Pak Imam Tantowi, nama dan jasamu akan selalu dikenang dalam dunia perfilman.

*Wartawan dan Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

70  +    =  75