Channel9.id-Jakarta. Sebuah film tak hanya hiburan semata, tapi juga menyampaikan pesan. Demikian dengan film ‘Laut Bercerita’ yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen digarap dengan pendekatan populer untuk menjembatani peristiwa sejarah dengan penonton masa kini dan menimbulkan kedekatan dengan gambaran suasana dan emosinya. Sebuah film yang mengadaptasi novel karya Leila S. Chudori.
“Kami membuat film ini tuh pendekatannya populer. Jadi pendekatannya bukan pendekatan film sejarah yang sangat kaku, tapi ini film populer,” ujar Anggi Noen saat ditemui di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026).
Lebih lanjut, Anggi menerangkan dalam menggarap film tersebut bahwa unsur budaya populer dalam film seperti musik, dan lain-lain. “Itu berfungsi mendekatkan penonton pada narasi dan emosi sejarah tersebut, “ terangnya.
Anggi juga menekankan bahwa novel aslinya merupakan kekuatan penting untuk cerita film itu dengan karakternya yang relevan dengan lintas generasi seperti Asmara Jati yang ditampilkan dengan penuh ketegaran saat menghadapi kehilangan.
“Ekspresi nanti yang muncul di layar ketika seorang Asmara muncul itu bukan Asmara yang menunjukkan kesedihan dengan air mata, tapi menunjukkan kesedihan dengan kesetiaan menunggu dan mencari, karena menunggu itu juga bagian dari perlawanan,” beber Anggi.
Sementara itu, aktris Yunita Siregar yang memerankan Asmara Jati mengonfirmasi bahwa karakternya digambarkan sebagai sosok rasional dengan kecerdasan emosional dalam merespons hilangnya sang kakak, Biru Laut (Reza Rahadian).
“Dia responsif, tapi ketika dia menerima informasi, dia cerna dulu. Enggak langsung beraksi, dia cerna dulu, dia atur strategi, baru dia eksekusi,” tutur Yunita.
Melalui peran tersebut, ia juga memetik pelajaran mendalam tentang esensi kehilangan. “Yang dipelajari adalah berduka itu bukan berarti melupakan, tapi mencintainya dengan cara yang lain. Ya sudah, kita mencintai Mas Laut dengan ketidakhadirannya dia, tapi tetap selalu dikenang,” tegasnya.
Aktor Dewa Dayana yang memerankan tokoh Sunu Dyantoro mengatakan novel asli karya Leila S. Chudori adalah acuan dalam menyelami dinamika perjuangan aktivis tersebut pada era 1998. “Pergerakannya digambarkan lebih komunal dalam bertukar gagasan dan bergerak bersama-sama, “ ujarnya.
Kisahnya tentang perjuangan sekelompok aktivis mahasiswa yang diculik dan disiksa pada masa Orde Baru.
Cerita berlatar belakang akhir tahun 1990-an, dengan fokus pada aktivisme mahasiswa dan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Tokoh utama, Biru Laut, digambarkan sebagai aktivis yang menentang kediktatoran rezim.
Kehidupan dan perjuangannya berakhir tragis setelah ia diculik dan dihilangkan paksa. Film ini juga menyoroti perjuangan tak kenal lelah keluarga mereka dalam mencari kebenaran dan keadilan.
Cerita berlatar akhir tahun 1990-an, fokus pada aktivisme mahasiswa dan pelanggaran HAM. Tokoh utama, Biru Laut, adalah aktivis yang menentang kediktatoran rezim Presiden Soeharto. Kehidupan dan perjuangannya berakhir tragis setelah ia diculik dan dihilangkan paksa.
Narasi film ini dibagi menjadi dua sudut pandang yang kuat. Bagian pertama mengikuti kisah Biru Laut dari penculikan hingga tragedi yang menimpanya.
Bagian kedua disampaikan dari sudut pandang keluarga, terutama adik Biru Laut, Asa Karang. Mereka berjuang mencari kebenaran dan keadilan setelah Biru Laut dan teman-temannya menghilang.
Orang tua Biru Laut, keluarga Wibisono, dan kekasihnya, Ratih Anjani, terus mencari tanpa lelah. Bahkan belasan tahun berlalu, mereka masih percaya Biru Laut masih hidup.
Novel ‘Laut Bercerita’ lahir dari riset panjang Leila S. Chudori. Ia mewawancarai saksi dan korban masa Orde Baru serta keluarga korban penghilangan paksa.
Film ini disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. Naskahnya diadaptasi dan ditulis bersama oleh Leila S. Chudori dan Yosep Anggi Noen, memastikan keselarasan dengan sumber aslinya.
Diproduksi oleh Pal8 Pictures, film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada tahun 2026. Ini menjadi penantian panjang bagi para penggemar novelnya.
Kontributor: Akhmad Sekhu



