Channel9.id, Jakarta – Indonesia mencatat perkembangan positif dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Di tengah kecenderungan penurunan capaian pendidikan di sejumlah negara OECD, skor Indonesia justru menunjukkan peningkatan pada literasi sains dan membaca.
PISA 2025 diikuti 91 negara dan ekonomi dengan melibatkan lebih dari 760 ribu murid sampel di seluruh dunia. Jumlah tersebut menjadi partisipasi terbesar sejak asesmen pendidikan internasional ini pertama kali digelar pada 2000.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat, skor sains Indonesia meningkat enam poin, dari 383 pada PISA 2022 menjadi 389 pada PISA 2025. Kenaikan enam poin juga terjadi pada kemampuan membaca, dari 359 menjadi 365.
Sementara itu, skor matematika Indonesia tercatat sebesar 364.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen, Toni Toharudin, mengatakan capaian tersebut patut dilihat dalam konteks tren global. Menurutnya, selama 25 tahun terakhir skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD cenderung mengalami penurunan.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains,” jelas Toni.
Akses Pendidikan Meluas Hampir Dua Kali Lipat
Selain peningkatan skor, capaian Indonesia dalam PISA 2025 juga menunjukkan perkembangan signifikan dari sisi akses pendidikan.
Hal itu tercermin melalui Coverage Index, yakni proporsi murid berusia 15 tahun yang masih berada dalam sistem pendidikan formal. Ketika pertama kali mengikuti PISA pada 2003, Coverage Index Indonesia tercatat hanya 0,46.
Angka tersebut melonjak menjadi 0,90 pada PISA 2025 atau hampir dua kali lipat dalam kurun waktu lebih dari dua dekade.
Peningkatan ini menunjukkan semakin banyak anak Indonesia yang tetap berada dalam sistem pendidikan hingga usia 15 tahun. Perluasan akses tersebut juga berlangsung di tengah perubahan metode pelaksanaan PISA, termasuk transisi penuh Indonesia dari paper based test (PBT) ke computer based test (CBT) sejak PISA 2018.
Direktur Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher, mengapresiasi perkembangan Indonesia. Ia menilai Indonesia berhasil menghadapi salah satu tantangan besar yang masih dihadapi banyak negara, yakni memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran.
Murid Indonesia Unggul dalam Keingintahuan dan Kemampuan Digital
Hasil PISA 2025 juga memberikan gambaran mengenai karakter dan kemampuan belajar murid Indonesia.
Data OECD menunjukkan murid Indonesia berusia 15 tahun memiliki tingkat keingintahuan (curiosity) yang termasuk tinggi dibandingkan banyak negara peserta. Mereka juga dinilai telah mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri.
Menariknya, murid Indonesia menunjukkan kemampuan yang relatif lebih baik dalam pemecahan masalah komputasional dibandingkan pada sejumlah mata pelajaran yang lebih konvensional.
Kemampuan menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) juga menjadi salah satu sorotan. Murid Indonesia tercatat lebih sering terlibat dalam pembelajaran yang berkaitan dengan penilaian kredibilitas konten yang dihasilkan AI dibandingkan murid di banyak negara lainnya.
Temuan tersebut menjadi modal penting bagi sistem pendidikan Indonesia untuk menghadapi perubahan kebutuhan kompetensi di era digital.
Empat Strategi Kemendikdasmen
Menindaklanjuti hasil PISA 2025, Kemendikdasmen menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan nasional.
Strategi pertama adalah penguatan kompetensi guru. Pemerintah akan mendorong pemenuhan kualifikasi akademik, Pendidikan Profesi Guru (PPG), serta peningkatan kompetensi pedagogik dan digital, termasuk kemampuan di bidang koding dan AI.
Kedua, peningkatan kualitas pembelajaran melalui penerapan pembelajaran mendalam (deep learning), digitalisasi pembelajaran, serta penguatan literasi, numerasi, dan karakter murid.
Ketiga, harmonisasi kerangka Asesmen Nasional (AN) dan Tes Kemampuan Akademik (TKA) agar pengukuran capaian pendidikan dapat semakin selaras dan memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kemampuan peserta didik.
Keempat, pemerintah akan terus mendorong pemerataan kualitas dan akses pendidikan, sehingga peningkatan capaian tidak hanya terjadi di wilayah atau kelompok tertentu, tetapi dapat dirasakan secara lebih luas di seluruh Indonesia.
Hasil PISA 2025 dengan demikian tidak hanya menjadi ukuran posisi Indonesia dalam peta pendidikan global. Capaian tersebut juga menjadi gambaran bahwa perluasan akses pendidikan dapat berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas pembelajaran.




