Channel9.id-Jakarta. Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan film drama keluarga bertajuk Yang Disebut Nakal. Film garapan sutradara Benni Setiawan ini resmi memulai proses syuting di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, dengan menghadirkan deretan aktor muda dan senior lintas generasi.
Benni Setiawan juga menulis skenario film ini bersama Kodrat W. Saroyo. Mengangkat isu sosial, Yang Disebut Nakal menyoroti kehidupan anak-anak dan remaja di Binalaku, tempat pembinaan fisik dan mental bagi mereka yang kerap mendapat label negatif dari lingkungan maupun keluarga.
Produser Diana Limbong mengatakan, proses produksi di Purwakarta mendapat dukungan dari pemerintah setempat setelah seluruh prosedur perizinan ditempuh.
“Film ini syutingnya di Purwakarta. Soal keterlibatan pemerintah setempat, jelas sangat terlihat. Kami sudah menempuh prosedur perizinan dan alhamdulillah mendapatkan izin untuk syuting secara penuh di sana,” ujar Diana dalam konferensi pers di Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (21/10/2026).
Film produksi DLK Pictures yang bekerja sama dengan Inhype Pictures ini dijadwalkan menjalani proses pengambilan gambar selama 23 hari. Inhype Pictures sebelumnya dikenal melalui serial web Sore: Istri dari Masa Depan.
Dari sisi pemain, film ini menghadirkan Giulio Parengkuan sebagai Jalu, El Putra Sarira sebagai Dani, Fatih Unru sebagai Asep, Donny Damara sebagai Pak Surya, serta Sita Nursanti sebagai Bu Ratih.
Sejumlah aktor lain turut memperkuat cerita, di antaranya Ceu Popon, Iang Darmawan, Oppie Andaresta, Iwa K, Boris Bokir, dan Aming Sugandhi. Film ini juga dibintangi Astrid Juwita, Nichita Limbong, Andrew Barret, Joshia Frederico, Rafi Sanjaya, Richard Derick, Jeremie Moeremans, Bebeto, Ricky Watimena, dan Faiz Vishal.
Perpaduan aktor lintas generasi dengan unsur drama dan komedi diharapkan membuat film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan sosial yang kuat.
Melalui Yang Disebut Nakal, penonton diajak melihat kehidupan remaja dari perspektif berbeda. Label “nakal” yang melekat pada seorang anak tidak selalu menggambarkan keseluruhan dirinya, sehingga pemahaman, pendampingan, dan kepedulian keluarga maupun lingkungan menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang mereka.
Kontributor: Akhmad Sekhu




