Connect with us

Ekbis

Ancaman Arus Balik Modal bagi Perekonomian Nasional

Published

on

Oleh: Awalil Rizky

Channel9.id-Jakarta. Modal finansial milik nonpenduduk (asing) cenderung masuk ke perekonomian Indonesia selama belasan tahun terakhir. Secara teknis, ada modal yang masuk dan keluar tiap bulan, triwulan dan tahun. Namun secara neto atau bersih selama setahun, selalu bersifat masuk. Ketika pandemi terjadi tahun 2020 sempat terjadi arus keluar selama beberapa waktu, namun kembali ada arus masuk, dan secara tahunan tercatat bersih bersifat masuk.

Bank Indonesia mencatat arus keluar masuk modal finansial asing tersebut dalam Transaksi Finansial yang merupakan bagian dari Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pada tahun 2020 tercatat arus bersih masuk sebesar US$25,04 miliar.

Modal finansial milik asing tersebut disebut dengan istilah “kewajiban” oleh Bank Indonesia. Arus keluar masuk bertahun-tahun dalam NPI tadi membentuk nilai posisi akumulasi, yang dinyatakan pada tanggal tertentu. Disebut sebagai Posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN).

Selain karena akumulasi dari tahun ke tahun, nilai posisi KFLN dipengaruhi oleh naik turunnya nilai investasinya, seperti harga saham. Posisi KFLN pada 31 Des 2020 sebesar US$685,46 miliar, yang diumumkan oleh BI dalam statistik Posisi Investasi Internasional Indonesia (PIII).

NPI dan PIII juga mencatat modal finansial milik penduduk Indonesia yang keluar dan masuk perekonomian nasional. Dinamakan sebagai aset. NPI mencatat aset tercatat keluar bersih sebesar US$17,21 miliar selama setahun pada 2020. Dengan kata lain, pada masa pendemi, penduduk Indonesia yang berinvestasi ke luar negeri masih terbilang banyak dengan nilai yang cukup besar.

PIII publikasi Bank Indonesia menyebut posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) sebesar US$404,30 miliar pada 31 Desember 2020. Namun besaran itu mencakup pula posisi cadangan devisa sebesar US$135,90 miliar. Bagaimanapun, posisi modal finansial milik penduduk Indonesia yang berada di luar negeri mencapai US$288,40 miliar.

Dilihat dari bentuknya, AFLN dan KFLN dikategorikan ke dalam empat kelompok. Yaitu: investasi langsung, investasi portofolio, derivatif finansial, dan investasi lainnya.

Investasi langsung merupakan jenis investasi dengan kepentingan jangka panjang. Terkait dengan kepemilikan perusahaan atau turut serta dalam pengelolaannya. Investasi portofolio secara teoritis bertujuan jangka pendek, berbentuk surat berharga seperti saham dan surat utang, yang diterbitkan dan diperdagangkan di pasar finansial terorganisasi. Investasi lainnya terutama berbentuk simpanan dan pinjaman di perbankan dan lembaga keuangan, utang piutang dagang, dan surat berharga jangka pendek yang tidak melalui pasar modal.

Perbandingan antara posisi KFLN dan posisi AFLN (termasuk posisi cadangan devisa) disebut PIII neto. Pada akhir tahun 2020 tercatat berupa kewajiban bersih sebesar US$281,2 miliar. Disebut kewajiban bersih, karena KFLN lebih besar dibanding AFLN.

Dilihat dalam NPI, proses dinamis masuk dan keluarnya modal finansial milik asing dari waktu ke waktu selama ini memang selalu bersifat neto masuk. Tertinggi dialami pada tahun 2014 sebesar US$55,70 miliar dan pada tahun 2019 sebesar US$51,90 miliar.

Sedangkan proses dinamis masuk dan keluarnya modal finansial milik penduduk Indonesia dari waktu ke waktu selama ini memang cenderung bersifat neto keluar. Tertinggi dialami pada tahun 2015 sebesar US$21,49 miliar. Namun pernah terjadi bersifat neto masuk pada tahun 2016. Bisa disebut modal finansial penduduk “pulang kampung”.

Oleh karena arus modal finansial cenderung masuk, kondisi perekonomian Indonesia menjadi terbiasa dengan itu. Proses yang sebaliknya berpotensi menimbulkan gangguan bagi ketahanan eksternal. Jika terjadi arus neto keluar dalam nilai besar dan pada waktu yang singkat, maka bisa memberi dampak sangat besar. Bisa dikatakan “sudden reversal” jika misalnya terjadi arus balik beberapa puluh miliar dolar dalam waktu sebulan.  Hal itu akan sangat memukul ketahanan eksternal Indonesia.

Potensi bagi arus keluar tersebut dapat dilihat dari posisi KFLN yang mencapai US$685,46 miliar. Bisa dianggap yang berbentuk investasi langsung tidak mungkin akan keluar secara mendadak. Namun, sebagian cukup besar dari yang berbentuk investasi portofolio dan investasi lainnya dimungkinkan untuk terjadi. Posisi keduanya mencapai US$435,20 miliar.

Pada saat bersamaan, posisi cadangan devisa hanya sebesar US$135,90 miliar. Tidak seluruh cadangan devisa bersifat cukup likuid dan tersedia bagi keperluan operasi moneter ataupun menahan dampak guncangan jika “sudden reversal” terjadi.

Secara hipotetis, andai arus keluar neto di kisaran US$50 miliar dalam waktu kurang dari satu bulan, maka dampaknya sangat mengguncang. Pukulan terhadap pelemahan rupiah akan sangat besar, dan aspek lain dari sistem dan industri keuangan turut terguncang.

Salah satu yang patut diwaspadai juga adalah tentang arus keluar modal finansial milik penduduk Indonesia yang pada tahun 2020 justeru bertambah dibanding tahun 2019. Jenis investasi yang naik signifikan dalam arah itu adalah investasi lainnya. Salah satunya berupa simpanan pada bank dan lembaga keuangan di luar negeri. Dalam hal ini, telah terjadi pula pada tahun 2019.

Secara sederhana, penulis ingin mengatakan bahwa yang perlu dicermati adalah keduanya. Potensi milik asing yang sudah di Indonesia untuk keluar dan fenomena peningkatan milik penduduk Indonesia yang keluar.

Tentu saja ini belum terjadi. Penulis menyebut berpotensi juga tidak berarti akan terjadi. Akan tetapi sebaiknya pihak otoritas lebih waspada dalam soalan ini. Terutama dalam kondisi perekonomian dan keuangan global yang penuh ketidakpastian, meski banyak dinilai telah membaik. Begitu juga dengan pemulihan ekonomi nasional yang belum sepenuhnya terjadi dan masih rentan untuk stagnasi atau bahkan memburuk lagi.

Penulis juga kurang setuju dengan otoritas yang terkesan melebihkan soal ketahanan eksternal yang dianggap kuat dan masih aman. Contoh analisis di atas menyampaikan hal yang berbeda, kondisi eksternal kita masih cukup rentan.

*Kepala Ekonom Institut Harkat Negeri

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekbis

Jadi GoTo, Gojek dan Tokopedia Resmi Merger

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek dan PT Tokopedia resmi merger. Keduanya  membentuk perusahaan bernama GoTo.

Andre Soelistyo dari Gojek akan memimpin GoTo sebagai CEO Group, dengan Patrick Cao dari Tokopedia sebagai Presiden GoTo. Sementara itu, Kevin Aluwi akan tetap menjabat sebagai CEO Gojek dan William Tanuwijaya akan tetap menjadi CEO Tokopedia.

CEO GoTo Andre Soelistyo mengatakan pembentukan Grup GoTo menandai fase pertumbuhan selanjutnya bagi Gojek, Tokopedia, dan GoTo Financial.

Baca juga: Tokopedia Dapat Kucuran Dana Segar Rp16 Triliun 

Andre menutrukan, mitra driver Gojek akan memiliki peluang pendapatan yang lebih besar antara lain dengan mengirimkan lebih banyak pesanan dari pengguna Tokopedia, sementara penjual dan mitra merchant dari berbagai skala bisnis akan mendapatkan berbagai manfaat dan kesempatan untuk meningkatkan usahanya.

“Hadirnya Grup GoTo juga akan memungkinkan kami untuk semakin mendorong inklusi keuangan di Indonesia dan Asia Tenggara,” kata Andre, Senin (17/05).

Pembentukan Grup GoTo ini diklaim sebagai kolaborasi usaha terbesar di Indonesia, sekaligus kolaborasi terbesar antara dua perusahaan internet dan layanan media di Asia hingga saat ini.

Continue Reading

Ekbis

Usai Libur Lebaran, Emas Antam Naik Rp4.000

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Harga emas produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik usai libur Idul Fitri 1422 H. Logam mulia Antam dijual Rp937.000 per gram atau naik Rp4.000 pada perdagangan hari ini, Senin (17/05).

Sebelumnya, harga emas Antam berada di level Rp933.000 pada akhir pekan lalu, Sabtu (15 Mei 2021).

Baca juga: Harga Jual Emas Antam Kompak Turun Rp4.000

Sementara itu, harga buy back juga ikut naik sebesar Rp5.000 dan berada di level Rp842.000.

Berikut daftar harga emas Antam pada Senin, 17 Mei 2021:

  1. Emas batangan 1 gram Rp937.000
  2. Emas batangan 2 gram Rp1.814.000
  3. Emas batangan 3 gram Rp2.696.000
  4. Emas batangan 5 gram Rp4.460.000
  5. Emas batangan 10 gram Rp8.865.000
  6. Emas batangan 25 gram Rp22.037.000
  7. Emas batangan 50 gram Rp43.995.000
  8. Emas batangan 100 gram Rp87.912.000
Continue Reading

Ekbis

Mendagri Minta PT. BAI Perhatikan Aspek Lingkungan

Published

on

By

Mendagri Minta PT. BAI Perhatikan Aspek Lingkungan

Channel9-id-Bintan. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dalam kunjungan kerjanya ke Kepulauan Riau, sempat meninjau Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang yang dikelola PT Bintan Alumina Indonesia (BAI), di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), pada Minggu (9/5/2021).

Dalam kesempatan itu, Mendagri yang turut didampingi Gubernur Kepulauan Riau, meminta PT. BAI memperhatikan aspek lingkungan, agar selaras dengan komitmen pemerintah dalam mewujudkan green industry dan green economy. Ia pun menekankan kegiatan di sana jangan sampai menghasilkan efek polusi yang dapat mencemari lingkungan.

“Tadi saya pesan kepada PT BAI, nomor satu saya minta tolong masalah lingkungan, karena pemerintah pusat sekarang mindsetnya adalah green industry, green economy, ini jangan sampai memberikan dampak polusi terutama apalagi ada penggunaan batu bara, sudah ada teknologi untuk zero transmission, zero pollution untuk batu bara, fine, bagus,” ujar Mendagri.

Mendagri juga berpesan agar PT BAI memperhatikan pengelolaan sampah, terutama sampah plastik, agar tak turut mencemari lingkungan. Terlebih, plastik merupakan jenis sampah yang sulit diurai. “Jangan sampai ada sampah plastik, jangan sampai ada industri besar seperti ini sampahnya tidak teratur, plastik terutama,” pesannya.

Selain persoalan sampah, Mendagri juga minta status KEK tak mengubah kawasan hijau dan lingkungan sekitar, misalnya dengan membiarkan ruang hijau dan perbukitan yang telah ada sebelumnya. “Ruang hijau jangan diubah, jadi tetap ada hutan, industri di tengah hutan, itu hebat,” tandasnya.

Tak kalah penting, selain aspek lingkungan, Mendagri juga menekankan pengembangan sumber daya manusia (SDM) masyarakat setempat. Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton. Ia pun meminta agar pelatihan masyarakat lokal dijadikan prioritas. Dengan demikian diharapkan KEK Galang Batang akan mampu menyerap tenaga kerja lokal dan menguntungkan semua pihak.

“Nah ini kalau semua diuntungkan, perusahaan jangan hanya mikir untung sendiri, perusahaan diuntungkan, masyarakat diuntungkan, pemda diuntungkan, pemerintah pusat diuntungkan, kita semua pasti akan mendukung investasi menjadi model buat tempat lain,” tuturnya.

Mengutip data dari www.kek.go.id, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang berada di Pulau Bintan Kepulauan Riau, yang merupakan sentra choke point Selat Malaka. KEK Galang Batang akan dikembangkan sebagai sentra industri pengolahan mineral hasil tambang (bauksit) dan produk turunannya baik dari refinery maupun dari proses smelter. Diperkirakan KEK Galang Batang akan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 23.200 orang, tersebar untuk industri pengolahan refinery sebesar 350 orang, industri pengolahan smelter sebesar 260 orang dan jasa dermaga serta pelabuhan yang berpotensi menciptakan kegiatan ikutan (multiplier effect) di kawasan tersebut.

Continue Reading

HOT TOPIC