Channel9.id – Jakarta. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 3,58 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2026. Surplus tersebut terjadi karena nilai ekspor masih lebih besar dibandingkan impor.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, nilai ekspor Indonesia selama semester I 2026 mencapai USD 140,81 miliar atau meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun nilai impor tercatat sebesar USD 137,24 miliar.
“Hingga bulan Juni tahun 2026, neraca perdagangan barang mencapai surplus sebesar USD 3,58 miliar,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Ateng merincikan, kinerja ekspor Indonesia pada semester I 2026 didominasi oleh industri pengolahan. Nilai ekspor di sektor tersebut mencapai USD 115,5 miliar atau sekitar 82 persen dari total ekspor, atau meningkat 7,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di sisi impor, BPS mencatat sebagian besar barang yang masuk merupakan bahan baku dan barang penolong senilai USD 97,95 miliar atau sekitar 71 persen dari total impor.
Sementara itu, impor barang modal mencapai USD 27,36 miliar atau tumbuh 20,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tiga komoditas impor terbesar selama Januari-Juni 2026 juga didominasi kebutuhan industri, yakni mesin/peralatan mekanis senilai USD 20,07 miliar, mesin/perlengkapan elektrik sebesar USD 17,39 miliar, serta plastik dan barang dari plastik senilai USD 6,16 miliar.
“Pada Januari hingga Juni 2026 nilai impor ketiga komoditas tersebut memberikan andil sebesar 37,86 persen terhadap total impor nonmigas,” tuturnya.
BPS juga mencatat Amerika Serikat (AS) menjadi negara penyumbang surplus perdagangan terbesar bagi Indonesia pada semester I 2026 dengan nilai USD 10,44 miliar. Posisi berikutnya ditempati India dengan surplus USD 6,73 miliar dan Filipina sebesar USD 4,02 miliar.
Menurut Ateng, surplus perdagangan dengan India terutama berasal dari komoditas bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik. Sementara itu, surplus dengan Filipina didorong oleh ekspor kendaraan dan bagiannya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewan atau nabati.
“Untuk India, surplus terbesar terdapat pada komoditas bahan bakar mineral, lemak minyak hewan nabati, serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya. Sementara itu, surplus terbesar dengan Filipina berasal pada komoditas kendaraan dan bagiannya, kemudian bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewan nabati,” ungkapnya.
HT





