Channel9.id-Jakarta. Bayangkan satu kelas berisi sepuluh anak usia 15 tahun. Menurut PISA 2025, delapan di antaranya belum mencapai kompetensi dasar matematika, tujuh belum memadai dalam membaca, dan enam belum memadai dalam sains. Inilah wajah mutu sumber daya manusia kita. Angka IQ rata-rata Indonesia yang kerap disebut 78 memang diperdebatkan metodologinya, tetapi data PISA sulit dibantah: masalah kita bukan kekurangan anak berbakat, melainkan kebiasaan, rumah, dan kebijakan yang belum bekerja.
Posisi kita di Asia
Skor Indonesia pada PISA 2025 (dirilis OECD, 8 September 2026): sains 389, membaca 365, matematika 364. Sains dan membaca naik tipis, matematika turun dua poin. Rata-rata OECD 465, 463, dan 484, jadi kita tertinggal sekitar 95-100 poin. Peringkat kita turun karena negara lain bergerak lebih cepat.
| Negara/ekonomi | Matematika | Membaca | Sains |
|—|—|—|—|
| B-S-J-Z (Tiongkok) | 612 | 527 | 597 |
| Singapura | 563 | 535 | 560 |
| Korea Selatan | 522 | 501 | 526 |
| Thailand | 407 | 392 | 432 |
| Malaysia | 397 | 393 | 419 |
| Filipina | 371 | 367 | 373 |
| *Indonesia* | *364* | *365* | *389* |
Catatan: “Tiongkok” di sini hanya empat wilayah maju (Beijing, Shanghai, Jiangsu, Zhejiang), bukan seluruh negeri. Vietnam mencatat matematika 443, jauh di atas kita meski pendapatannya tidak lebih tinggi. Selisih kita dengan Malaysia menyempit, tetapi dengan Singapura dan Korea tetap lebar: sekitar 160-200 poin di matematika. Dengan patokan kasar bahwa 20-30 poin setara satu tahun ajaran, itu jarak yang sangat jauh.
PISA bukan tes IQ. Ia mengukur literasi, yakni kemampuan memahami dan menggunakan pengetahuan untuk memecahkan masalah nyata. Kecerdasan pun bukan takdir. Flynn effect menunjukkan skor kecerdasan banyak bangsa naik seiring perbaikan gizi, kesehatan, dan pendidikan. Tiga hal berikut menentukan arahnya.
1. Kebiasaan membaca untuk berpikir kritis
Kelemahan budaya kita adalah habit. Membaca belum menjadi kebiasaan harian, dan sekolah terlalu lama menghargai hafalan. Dalam taksonomi Bloom, kita berhenti di tingkat mengingat, sementara PISA menuntut menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Efeknya berlipat. Matthew effect menjelaskan bahwa anak yang gemar membaca makin kaya kosakata dan makin mudah membaca, sedangkan yang tertinggal makin menjauh dari buku. Selisih kecil di kelas awal berubah menjadi jurang di usia 15 tahun. Karena itu membaca harus dilatih sebagai keterampilan berpikir: membandingkan sumber, menemukan argumen, menguji bukti, dan berani bertanya.
2. Rumah sebagai sekolah pertama
Otak anak berkembang paling pesat di tahun-tahun awal, dan pembentuknya adalah interaksi. Konsep serve and return dari Harvard Center on the Developing Child menggambarkannya: ketika anak melempar suara, senyum, atau tangisan, dan orang dewasa membalas dengan perhatian dan kata-kata, terbentuk koneksi saraf yang menjadi fondasi bahasa, emosi, dan nalar.
Keluarga yang terbuka, yang mengajak anak bicara dan mendengarnya, membangun fondasi itu. Anak yang belum bisa menjawab tetap menyerap dan mengingat, dan pengalaman itu kelak membentuk kepribadiannya: berani berpendapat, nyaman berbeda pandangan, terbiasa berpikir panjang. Mendongeng dan mengobrol di meja makan lebih berharga daripada menyerahkan gawai kepada anak.
3. Kebijakan yang konsisten
Singapura dan Korea Selatan tidak sampai di puncak lewat satu kurikulum ajaib, melainkan lewat puluhan tahun investasi pada kualitas guru dan arah kebijakan yang dijaga lintas pemerintahan. Di sini, kurikulum kerap berganti mengikuti pergantian pejabat sehingga perbaikan tak sempat tuntas.
Kita butuh peta jalan terukur: target jelas, indikator konsisten, evaluasi berkala, dan akuntabilitas lintas pemerintahan. Isinya: guru yang kompeten dan dihargai, literasi-numerasi sejak PAUD, penilaian yang mengukur nalar, dan pemerataan mutu antardaerah. Taruhannya besar. Skor PISA yang rendah ikut menahan indeks modal manusia (HCI) kita yang baru sekitar 54, lalu menghambat produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Satu catatan dari Asia Timur: jangan meniru semuanya. Prestasi Korea dan Tiongkok sering dibayar dengan tekanan belajar yang tinggi. Yang layak ditiru adalah fondasinya, bukan tekanannya.
Kerja bersama
Keluarga menanamkan rasa ingin tahu, sekolah melatih cara berpikir kritis, negara menjaga arah kebijakan. Bila salah satu absen, dua lainnya bekerja dengan beban berat.
Bangsa yang cerdas tidak lahir dari tes, melainkan dari kebiasaan. Perubahannya bisa dimulai malam ini, dengan satu buku dan satu percakapan di rumah.
*Konsultan Manajemen | GRC Expert | Asesor LSP Tatakelola, Risiko, Kepatuhan (TRK)
Baca juga: Janji Reformasi Setelah Bursa Koyak




