Oleh: Sapri Sale
Channel9.id – Jakarta. Dalam sejarah panjang peradaban, bahasa tidak pernah berdiri sebagai alat yang netral. Ia tumbuh bersama kekuasaan, membentuk persepsi, dan sering kali menentukan siapa yang didengar dan siapa yang dibungkam. Dari mimbar-mimbar kuno hingga layar televisi global hari ini, bahasa menjadi medan sunyi tempat peradaban saling berhadapan—tanpa dentuman, namun dengan dampak yang tak kalah dahsyat.
Bahasa adalah senjata halus: ia dapat meluruskan, tetapi juga membelokkan; dapat menjelaskan, tetapi juga menyamarkan. Dalam dunia yang semakin terhubung, kemenangan tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer, melainkan oleh kemampuan menguasai narasi.
Dalam eskalasi konflik yang berlangsung saat ini, yang melibatkan Iran versus Israel-Amerika, Iran tidak hanya bertempur di medan militer, tetapi juga di medan bahasa alias narasi global. Di tengah pusaran opini internasional, muncul dua figur intelektual di Iran yang memainkan peran penting sebagai juru bicara tak resmi: Prof. Seyed Mohammad Marandi, pendiri Institut Studi Amerika Utara dan Eropa di Universitas Teheran, dan Dr. Hassan Ahmadian, Asisten Profesor Studi Timur Tengah dan Afrika Utara di Universitas Teheran. Mereka adalah dua sisi mata uang yang sama: sama-sama cendekiawan, sama-sama patriotik, namun dengan persenjataan linguistik yang berbeda—dan mematikan.
Pengaruh Dr. Hassan Ahmadian begitu kuat di dunia Arab sehingga masyarakat Arab menciptakan sebuah lagu pujian untuknya yang berjudul “Ahmadiyan, Wahai Pribadi yang Memiliki Wibawa dalam Bertutur Kata”. Dalam sbeberapa bait liriknya, digambarkan ketangguhannya di medan wacana:
Di medan huruf, ia tak mengenal kekalahan, masuk ke dalam api dan membalikkan arah.
Di layar Al Jazeera, kilat dan badai,
Membungkam setiap juru bicara dengan logika. Seperti pedang ‘Dzul Faqar’, indah ketika berbicara,
Kami diam karena hormat, menghancurkan kepalsuan,
Dan membuat musuh merasa ngeri.
Ksatria yang tak membungkuk di hadapan pasukan Tartar.
Wahai, wahai, orang-orang tua mendengarnya.
Tak takut, tak mundur—kata-katanya adalah peluru.
Dengan argumennya yang kuat, tak ada jalan keluar bagi mereka.
Ia menghancurkan setiap permusuhan dengan ilmu dan keteguhan.
Keduanya tidak sekadar berbicara; mereka mewakili. Mereka tidak hanya menjelaskan posisi negaranya, tetapi juga menerjemahkan Iran ke dalam dua bahasa besar peradaban: Inggris dan Arab. Melalui mereka, Iran hadir dalam dua wajah—rasional di hadapan Barat, dan emosional-historis di hadapan dunia Arab.
Bahasa sebagai Senjata Peradaban
Sebagai pengajar bahasa-bahasa Semit—Arab, Ibrani, dan Suryani—saya melihat bahwa setiap bahasa membawa beban sejarah dan orientasi geopolitik. Bahasa Inggris adalah bahasa kekuasaan global modern atau ‘lingua franca’ -memiliki kemiripan dengan peran yang pernah dialami oleh bahasa Suryani (Syriac) pada abad ke-5 hingga ke-7 Masehi, sementara bahasa Arab saat ini adalah bahasa emosi, identitas, dan solidaritas kawasan wilayah Asia Barat.
Iran memahami ini dengan sangat baik.
Di satu sisi, Sayyid Mohammad Marandi tampil sebagai “wajah Iran” di media Barat. Ia adalah profesor di Universitas Teheran yang dikenal luas karena kefasihannya dalam bahasa Inggris serta kemampuannya berdebat di saluran internasional seperti BBC, CNN, Sky News dan podcast lainnya . Dalam berbagai wawancara selama perang, ia menekankan narasi bahwa Iran bukan pihak agresor, melainkan korban dari tekanan geopolitik Barat dan sekutunya.
Lebih dari sekadar kefasihan, Marandi menguasai retorika Barat. Ia memahami bagaimana publik Barat berpikir—dan bagaimana cara menggugatnya dari dalam bahasa mereka sendiri.
Dalam satu wawancara terbaru selama perang, Marandi menggambarkan konflik ini sebagai ujian terhadap ketahanan Iran, namun juga sebagai bukti kegagalan kalkulasi pihak lawan. Ia menegaskan bahwa serangan justru memperkuat solidaritas internal Iran, bukan melemahkannya .
Di sinilah letak kekuatan bahasa: Marandi tidak hanya berbicara tentang Iran—ia berbicara kepada dunia Barat, menggunakan kerangka berpikir yang mereka pahami.
Ia menjembatani jurang antara “Iran yang dilihat Barat” dan “Iran yang ingin dipahami Iran”.Marandi mampu membungkus kekuatan artikulasi bahasa dengan sangat elegan kepada dunia Barat.
Di sisi lain, ada figur muda Dr. Hassan Ahmadian memainkan peran yang berbeda namun sama pentingnya. Ia dikenal karena kefasihannya dalam bahasa Arab, dan sering tampil di media Asia Barat seperti Al-Jazeera, Al Araby, Al-Mayadeen dan sejumlah podcast yang berbahasa Arab, untuk menjelaskan posisi Iran kepada audiens Arab.
Jika Marandi berbicara kepada dunia dengan logika, Ahmadian berbicara kepada kawasan dengan rasa, dengan resonansi emosional dan historis.
Bahasa Arab bukan sekadar alat komunikasi di Asia Barat; ia adalah bahasa sejarah, agama, dan identitas kolektif. Dalam konteks konflik, penggunaan bahasa Arab memungkinkan Iran untuk mengaitkan narasi mereka dengan isu Palestina, penindasan terhadap orang Arab, selain itu menyentuh memori kolektif tentang kolonialisme dan perlawanan, tentu saja dengan bahasa Arab, Iran ingin membangun solidaritas lintas negara Arab.
Ahmadian, dengan kefasihan dan kepekaannya terhadap nuansa bahasa Arab, menjadi jembatan antara Iran (yang secara etnis bukan Arab) dengan dunia Arab yang seringkali skeptis.
Fenomena Marandi dan Ahmadian menunjukkan bahwa Iran tidak hanya berperang secara militer, tetapi juga secara linguistik dan kultural. Marandi menaklukkan ruang diskursus Barat dan Ahmadian menghidupkan resonansi regional Arab.
Ini bukan kebetulan, Ini strategi. Dalam perang modern, siapa yang menguasai narasi, dialah yang menguasai persepsi. Dan persepsi sering kali lebih menentukan daripada peluru.
Ketika Bahasa Menjadi Garda Depan
Sebagai seorang pendidik bahasa, saya melihat pelajaran fundamental dari dinamika yang terjadi di panggung global saat ini. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah kekuatan geopolitik dan ekonomi. Yang nyata-mampu membangun opini, membalikkan situasi, dan bahkan mengubah arah sejarah. Bukan cuma itu beberapa negara-negara kecil mampu mengangkat martabat mereka melalui bahasa dunia yang mereka narasikan dengan apik.
Kita di Indonesia cenderung “lemah” di kancah internasional, bukan karena lemahnya argumen atau tidak benarnya fakta yang kita bawa. Lebih sering, kita gagal karena satu kelemahan mendasar: Ketidakmampuan menyampaikan kebenaran itu dalam bahasa yang dikuasai dunia. Argumen sekuat apa pun akan kehilangan dayanya jika terbungkus dalam kemasan yang tak dapat dicerna oleh pendengar global.
Iran—melalui dua tokoh intelektualnya, Sayyid Mohammad Marandi dan Dr. Hassan Ahmadian telah memberikan teladan yang menarik. Mereka menunjukkan bahwa Menguasai bahasa lawan berarti memasuki pikirannya. Dengan fasih berbahasa Inggris, mereka mampu menjelaskan narasi dari pihak yang sering kali dibungkam media arus utama.
Mereka tidak sekadar menerjemahkan kata, tetapi menerjemahkan logika, budaya, dan konteks ke dalam kerangka yang dipahami dunia Barat dan Menguasai bahasa sendiri berarti menjaga jati diri. Di balik kefasihan mereka dalam bahasa global, akar pemikiran dan keberpihakan mereka tetap kokoh pada nilai-nilai lokal dan keyakinan bangsanya. Bahasa asing menjadi pintu masuk, bukan rumah baru. Kombinasi keduanya—kefasihan global dan integritas lokal—itulah kekuatan sejati.
Perang yang berlangsung selama lebih dari empat puluh hari di Asia Barat ini, kelak akan dicatat dalam lembaran sejarah sebagai perang militer, perang rudal, dan perang propaganda. Namun bagi saya, sebagai pengamat bahasa, ia juga merupakan perang bahasa yang tidak kalah menentukan.
Di tengah dentuman ledakan dan hiruk-pikuk informasi yang simpang siur, dua orang akademisi itu berdiri di garis depan. Bukan dengan senapan atau tank, tetapi dengan mikrofon dan kata-kata yang terstruktur, tenang, namun menusuk kesadaran. Mereka membuktikan bahwa di era informasi ini, narasi bisa lebih tajam dari pecahan peluru.
Pada akhirnya, yang menentukan arah sejarah bukan sekadar kekuatan kata, tetapi siapa yang mampu menggunakannya untuk mewakili dirinya sendiri di hadapan dunia. Bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan realitasnya dalam bahasa yang dipahami secara global.
Kita tidak harus berada dalam situasi seperti Iran—yang menarasikan dirinya di tengah konflik—untuk menyadari pentingnya bahasa. Bagi Indonesia, tantangannya berbeda, namun tidak kalah mendesak. Pertanyaannya adalah: siapa yang akan menceritakan Indonesia kepada dunia?
Apakah kita sendiri, atau justru pihak luar yang membingkai kita sesuai kepentingan mereka?
Di tengah persaingan global yang semakin terbuka, kemampuan bernarasi bukan hanya soal diplomasi politik, tetapi juga menyangkut kepentingan ekonomi, budaya, dan identitas bangsa. Jika kita tidak hadir dengan suara kita sendiri, maka ruang itu akan diisi oleh orang lain—dengan perspektif yang belum tentu mewakili kita.
Karena itu, tugas kita hari ini bukan sekadar belajar bahasa asing, tetapi menggunakannya untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia: tentang budayanya, potensinya, dan cara pandangnya. Kita memiliki kapasitas untuk melakukannya. Kita memiliki sumber daya manusia, kekayaan budaya, dan pengalaman sejarah yang layak untuk diceritakan.
Kita pasti bisa—asal kita mau mengambil peran itu sendiri.
Penulis adalah Pengajar Bahasa-Bahasa Semit (Arab, Ibrani dan Suryani) dan Guru Madrasah Aliyah Negeri 4 Pondok Pinang, Jakarta





