IHSG terbang2
Ekbis

Ekonom Soroti Fenomena “Decoupling”, IHSG Turun Saat Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh

Channel9.id, Jakarta. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir tidak serta-merta mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia yang sedang memburuk. Ekonom InFast, Bestari Gede Sandra, menilai penurunan pasar saham justru terjadi di banyak negara, termasuk sejumlah negara yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi relatif tinggi.

Menurut Gede, tren koreksi pasar saham saat ini merupakan fenomena global yang terjadi di setidaknya 11 bursa saham dunia. Beberapa di antaranya berada di negara-negara anggota BRICS maupun negara berkembang lainnya, seperti Rusia, China melalui Bursa Hong Kong, Afrika Selatan, India, Maroko, Sri Lanka, Republik Ceko, Islandia, hingga Kuwait.

“Secara mingguan, lima bursa yang mengalami penurunan terdalam adalah bursa saham Rusia (MOEX) sebesar 9,72%, disusul Afrika Selatan (SA40) yang turun 6,02%, dan Indonesia (JCI) yang turun 5,42%. Setelah itu ada Hong Kong/China (HK50) yang turun 3,7% dan Maroko (MASI) yang turun 1,4%,” kata Gede dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026).

Pada periode bulanan, koreksi terdalam juga masih dipimpin Rusia dengan penurunan 13,65%, diikuti Hong Kong sebesar 8,54%, Islandia 7,19%, Afrika Selatan 6,02%, dan Indonesia 5,2%.

Sementara itu, dalam rentang tahunan, IHSG menjadi indeks yang mengalami penurunan paling dalam di antara negara-negara tersebut, yakni mencapai 31,95%. Posisi berikutnya ditempati Rusia dengan penurunan 18,91%, Hong Kong 8,66%, India 8,07%, dan Islandia 7,7%.

Meski demikian, Gede menilai pelemahan pasar saham tidak selalu berjalan searah dengan kondisi ekonomi riil. Ia mencatat sebagian besar negara yang mengalami penurunan indeks justru mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata global yang berada di kisaran 3,2%.

India, misalnya, membukukan pertumbuhan ekonomi hingga 7,8% pada kuartal I/2026. Indonesia tumbuh 5,6%, sementara China dan Maroko masing-masing mencatat pertumbuhan sebesar 5%.

Fenomena tersebut, menurut Gede, dikenal sebagai decoupling, yaitu kondisi ketika pergerakan pasar saham tidak lagi mencerminkan kinerja ekonomi riil.

“Ini menunjukkan sebuah fenomena ekonomi yang disebut sebagai decoupling, artinya berpisah jalan antara sektor riil dan pasar saham. Dengan kata lain, kinerja pasar saham tidak benar-benar mencerminkan situasi ekonomi masyarakat sehari-hari,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pasar saham dapat melonjak tinggi ketika ekonomi riil melemah, seperti yang terjadi pada masa pandemi Covid-19. Saat itu, berbagai stimulus moneter dan kebijakan quantitative easing mendorong likuiditas besar masuk ke pasar keuangan sehingga harga saham meningkat meskipun aktivitas ekonomi belum sepenuhnya pulih.

Sebaliknya, pasar saham juga bisa mengalami koreksi akibat sentimen global dan ketidakpastian geopolitik, meskipun aktivitas ekonomi domestik tetap tumbuh positif.

Lebih lanjut, Gede menilai berbagai langkah reformasi ekonomi yang tengah dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berpotensi memperkuat fundamental ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Salah satunya adalah upaya mengurangi kebocoran devisa melalui kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan pembentukan PT DSI yang akan mengelola bursa komoditas strategis.

Menurutnya, kebijakan tersebut dapat meningkatkan penerimaan negara dan memperkuat kapasitas pembiayaan pembangunan nasional.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik global, khususnya terkait situasi di Selat Hormuz, masih menjadi faktor utama yang membebani sentimen pasar keuangan saat ini.

“Ketika ekonomi riil terlihat baik dan koordinasi fiskal serta moneter berjalan semakin kuat, perbaikan struktural ekonomi lainnya tetap harus dipercepat, termasuk pembenahan institusi dan tata kelola berbagai program unggulan pemerintah,” katanya.

Gede menambahkan, penguatan tata kelola program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga menjadi langkah penting untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7  +  2  =