Connect with us

Techno

Facebook Tingkatkan Layanan Belanja Online-nya

Published

on

Facebook Tingkatkan Layanan Belanja Online-nya

Channel9.id-Jakarta. Facebook berupaya meningkatkan layanan belanja online-nya, dengan memperluas pengalaman layanan WhatsApp Bisnis. Perusahaan ini memungkinkan penggunanya menemukan dan berkomunikasi dengan pelanggan potensial di aplikasi.

Nantinya, akun WhatsApp Bisnis bisa ditambahkan di tombol profil Instagram mereka. Saat diklik, pelanggan digiring ke WhatsApp dan bisa langsung mengirim ke perusahaan.

“Mengintegrasikan WhatsApp sangat penting bagi pelanggan di negara-negara seperti India dan Brasil, di mana aplikasi perpesanan milik Facebook banyak digunakan,” ujar Karandeep Anand, Vice President of Business Products di Facebook, dikutip Minggu (19/9).

Baca juga: Perluas Kebijakan, Facebook Akan Tindaklanjuti Kelompok Terkoordinasi Pelanggar Aturan

Selain itu, Facebook pun akan melakukan uji coba fitur Facebook Business Suite, dengan melibatkan para pelaku usaha. Fitur ini memungkinkan para pelaku usaha mengirim email dan mengelola profil atau kehadiran mereka di seluruh aplikasi media sosial, untuk mempermudah mereka menjangkau pelanggan.

Bukan cuma itu, Facebook juga akan menguji akun kerja baru yang memungkinkan admin mengelola akun bisnis tanpa perlu masuk dengan akun pribadi mereka.

Sebagai informasi, fitur-fitur bisnis itu hadir setelah WhatsApp melakukan uji coba fitur di Brasil, yang memungkinkan pengguna menemukan toko melalui direktori di aplikasi. Adapun seluruh pembaruan itu merupakan upaya Facebook untuk meningkatkan layanan belanja online-nya.

“Fitur-fitur baru ini akan membantu Facebook, yang sudah menjadi pemimpin dalam periklanan digital, menawarkan pengalaman belanja yang dipersonalisasi kepada penggunanya,” ujar Anand.

(LH)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Techno

Facebook Gugat Pencuri Data 178 Juta Pengguna

Published

on

By

Facebook Gugat Pencuri Data 178 Juta Pengguna

Channel9.id-Jakarta. Facebook menggugat Alexander Solochenko, warga negara Ukraina, lantaran diduga mencuri data lebih dari 178 juta pengguna, menurut laporan Engadget.

Solonchenko dilaporkan mengeksploitasi fitur impor kontak Messenger dengan alat otomatis yang meniru Android. Dia memberi jutaan nomor telepon ke Facebook, dan mengumpulkan data setiap kali situs itu mengembalikan info tentang akun tersebut.

Baca juga: Whistleblower Kedua Beberkan Masalah Bisnis Facebook

Dia diduga melakukan aksinya antara Januari 2018 dan September 2019—ketika Facebook menutup importir, dan mulai menjual data tersebut di forum pasar gelap pada Desember 2020. Facebook juga mengatakan bahwa pria itu juga telah mengambil data dari target lain, termasuk bank besar di Ukraina.

Facebook berhasil melacak Solonchenko setelah dia menggunakan nama pengguna forum dan detail kontak, untuk email dan papan pekerjaan.

Dalam pengaduannya, Facebook meminta ganti rugi—yang belum ditentukan, serta larangan yang mencegah Solonchenko mengakses Facebook dan menjual data yang dia curi.

Untuk diketahui, ini bukan insiden terbesar. Sebelumnya, pernah ada kejadian peretas mencuri 533 juta data pengguna melalui fitur yang sama. Adapun upaya Facebook untuk menindak pelaku pencurian data, paling tidak, menunjukkan bahwa bersedia menyelesakan masalah di pengadilan sipil dengan harapan bisa mencegah kejadian serupa.

(LH)

Continue Reading

Techno

Whistleblower Kedua Beberkan Masalah Bisnis Facebook

Published

on

By

Whistleblower Kedua Beberkan Masalah Bisnis Facebook

Channel9.id-Jakarta. Baru-baru ini, ada whistleblower kedua yang membeberkan bagaimana Facebook menjalankan bisnis. Dilaporkan oleh Washington Post, orang ini ialah mantan anggota tim integritas Facebook. Orang ini mengatakan bahwa perusahaan lebih mengutamakan keuntungan, sebelum akhirnya mengatasi ujaran kebencian dan misinformasi di platform.

Dikutip dari pernyataan tertulis yang diterima The Verge, whistleblower itu menuding—salah satunya—bahwa seorang mantan pejabat komunikasi Facebook menepis kekhawatiran tentang campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS) 2016, yang tanpa disadari dibantu oleh Facebook.

“Situasinya sekejap. Beberapa legislator akan marah. Dan kemudian, dalam beberapa minggu, mereka akan beralih ke sesuatu yang lain. Sementara itu kami mencetak uang di ruang bawah tanah dan kami baik-baik saja,” tutur Wakil Presiden Komunikasi di Facebook Tucker Bounds, berdasarkan pernyataan tertulis dari whistleblower tadi.

Whistleblower menuduh adanya perbedaan antara pernyataan publik Facebook dan pengambilan keputusan internal. Mereka mengatakan bahwa proyek Internet.org untuk menghubungkan orang-orang di “dunia yang berkembang” punya pesan internal, yaitu untuk memberi pijakan untuk Facebook agar tak bisa ditembus dan menjadi “satu-satunya sumber berita”. Sehingga mereka bisa mengumpulkan data dari pasar yang belum dimanfaatkan.

“Ini menjadi preseden berbahaya untuk menggantung seluruh cerita pada satu sumber yang membuat berbagai klaim tanpa bukti yang jelas,” ujar Facebook kepada Washington Post, mere menghasilkan keuntungan. Tetapi, gagasan bahwa kami melakuspons laporan. “Inti dari cerita ini adalah premis yang salah. Ya, kami adalah bisnis dan kamikannya dengan mengorbankan keselamatan atau kesejahteraan orang, salah memahami di mana kepentingan komersial kami berada.”

Ada banyak tuduhan yang disampaikan oleh whistleblower ini kepada Komisi Sekuritas dan Bursa melalui pernyataan tertulis, menggemakan kekhawatiran yang diajukan oleh whistleblower pertama Frances Haugen. Haugen, yang juga mantan karyawan Facebook, memberi dokumen internal terkait kinerja platform Facebook ke Wall Street Journal. Adapun yang paling menonjol ialah penelitian internal yang menemukan Facebook sadar bahwa platform Instagram-nya “toxic” bagi remaja.

(LH)

Continue Reading

Techno

Konten Kreator Bisa Lebih Mudah Dapat Cuan di Instagram

Published

on

By

Konten Kreator Bisa Lebih Mudah Dapat Cuan di Instagram

Channel9.id-Jakarta. Ke depannya, Instagram memungkinkan kreator lebih mudah menghasilkan uang di platform. Saat ini, perusahaan sedang menguji coba toko afiliasi, fitur yang pertama kali diperkenalkan di acara Creator Week pada Juni lalu, dan kotak masuk khusus mitra.

Toko afiliasi merupakan perpanjangan dari fitur belanja Facebook yang sudah ada. Namun, versi baru etalase ini memungkinkan kreator menautkan produk sesuai pengaturan afiliasi mereka. Kreator akan mendapat komisi jika ada pengikut yang membeli produk dari toko-toko ini. Namun, ketentuan soal hal ini belum dirinci.

Baca juga: Instagram Tambahkan Deretan Fitur di Feed dan Reels

Instagram juga mengatakan bahwa untuk saat ini, fitur belanja itu hanya akan tersedia untuk kreator yang merupakan bagian dari program afiliasi itu.

Selain itu, perusahaan juga menguji coba fitur kotak masuk yang akan memudahkan brand terhubung dengan kreator untuk sponsor. Nantinya direct message (DM) Instagram akan memiliki seksi “kemitraan” khusus, di mana hanya ada pesan dari brand. Menurut perusahaan, fitur ini memberi tempat prioritas untuk pesan-pesan, dan mencegah terjadinya “pesan tenggelam” atau tak terbaca.

Perusahaan mengatakan ini akan memberikan pesan-pesan “penempatan prioritas” dan akan memungkinkan mereka untuk melewati bagian “permintaan” di mana pesan masuk sering hilang.

Secara terpisah, Instagram sedang mengerjakan fitur yang bisa mencocokkan brand dengan kreator yang mencari sponsor. Dengan fitur ini, kreator bisa mengidentifikasi brand yang mereka minati untuk bekerja sama langsung dari aplikasi. Sementara, brand bisa menelusuri kreator yang sesuai dengan kebutuhan mereka—berdasarkan faktor seperti usia, jenis kelamin, dan jumlah pengikut.

Fitur itu masih dalam tahap awal, di mana saat ini hanya ada segelintir perusahaan dan kreator yang berpartisipasi. Namun, perusahaan telah mengisyaratkan fitur tersebut bisa berkembang secara signifikan. Bahkan, di awal tahun ini, CEO Facebook Mark Zuckerberg mengatakan bahwa Instagram sedang merencanakan “pasar konten brand” untuk membantu “kreator kelas menengah” jadi lebih besar.
(LH)

Continue Reading

HOT TOPIC