Connect with us

Ekbis

Indonesia Terancam Resesi Menyusul Sejumlah Negara Maju

Published

on

Channel9.id-Jakarta.  Indonesia terancam memasuki masa resesi setelah sejumlah prediksi menyatakan pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal kedua 2020 berada di zona minus atau negatif. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, di Jakarta (3/8) menyatakan, pertumbuhan PDB Indonesia pada kuartal II 2020 akan menyentuh nilai -6,09 secara year on year (yoy).  Jika pencapaian negatif berlanjut di kuartal III saat ini, maka Indonesia resmi  mengalami resesi.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Permata, Joshua Pardede, menduga, pertumbuhan kuartal kedua berada di kisaran -4,79 (yoy). Adapahn Kepala Ekonom Bank CIMB Niaga, Adrian Panggabean, menyatakan pertumbuhan Q2-2020 akan berada di posisi -5,1%. Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri baru akan merilis nilai pertumbuhan Q2-2020 pada Rabu (5/8) esok.

Resesi adalah sebuah penurunan signifikan yang terjadi dalam kegiatan ekonomi dan berlangsung selama berbulan-bulan. Sejumlah indikator menyatakan, resesi terjadi jika pertumbuhan ekonomi mengalami negatif selama dua kuartal berturut-turut secara yoy. Kendati demikian, resesi dianggap bagian tak terhindarkan dari siklus bisnis suatu negara. Pengusaha Sandiaga Uno dan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Yudhoyono, juga menyatakan, kemungkinan Indonesia mengalami resesi kali ini sangatlah besar.

Penyebab resesi bisa bermacam-macam. Bisa karena utang yang berlebihan, inflasi yang terlalu besar, hingga guncangan ekonomi yang tiba-tiba karena pandemi virus Corona seperti saat ini.

Akibat pandemi virus Corona, beberapa negara maju sudah mengumumkan resesi yang mereka alami. Negara-negara itu terbentang di Asia, Eropa, dan Amerika. Berikut rangkumannya.

  1. Singapura

Singapura terjerumus dalam resesi setelah penutupan bisnis-bisnis di sana diperpanjang akibat penyebaran virus Corona.

Menyadur dari Bloomberg, dibandingkan dengan awal tahun, produk domestik bruto (PDB) Singapura turun -12,6% pada kuartal kedua. Begitu juga dengan nilai dolar Singapura. Dolar Singapura turun 0,2% menjadi S$ 1.3930 terhadap dolar Amerika Serikat.

  1. Jerman

Produk domestik bruto (PDB) Jerman menyusut turun sebesar -2,2% pada kuartal pertama. Menyadur dari DW, penurunan ini menjadi yang paling tajam sejak krisis keuangan global 2008 dan paling tajam kedua setelah reunifikasi Jerman.

Adapun resesi ini disebabkan oleh penurunan pengeluaran konsumen sebesar 3,2%, penurunan investasi perusahaan di pabrik dan peralatan sebesar 6,9%, penurunan ekspor sebesar 3,1%, dan penurunan impor sebesar 1,6%.

Menurut BBC, hal ini sangat disayangkan karena Jerman bisa dikatakan sebagai kekuatan besar dalam perdagangan global.

  1. Amerika Serikat

Melansir dari Sky News, selama periode 12 bulan terhitung dengan perhitungan bulanan, produk domestik bruto Amerika Serikat menunjukkan angka sebesar -32,9% pada kuartal kedua.

Peningkatan tingkat infeksi virus Corona membuat politisi semakin didorong untuk menyetujui datangnya bantuan-bantuan baru.

  1. Jepang

Jepang menjadi negara yang jatuh ke dalam resesi kuartal terakhir. Menyadur dari Japan Times, produk domestik bruto (PDB) Jepang menyusut menjadi -3,4% secara tahunan di kuartal 2020. Hal ini dikarenakan ekspor yang merosot dan pengeluaran konsumen yang terhambat karena social distancing.

     5-7. Italia, Spanyol, dan Perancis

Italia, Spanyol, dan Perancis masuk kedalam negara dengan penurunan ekonomi terburuk di antara negara-negara zona Eropa.

Menyadur Euractiv, tahun ini pengeluaran Italia akan turun 11,2%, sementara Spanyol akan turun sebanyak 10,9%. Sedangkan Perancis akan menjadi yang terendah dengan penurunan sebanyak 10,6%.

Kabar baiknya, telah diperkirakan bahwa ketiga negara ini akan bangkit kembali tahun depan dengan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 6,1% untuk Italia, 7,1% untuk Spanyol, dan 7,6% untuk Perancis.

IG/YD

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ekbis

Jokowi: Perkuat Ekonomi Desa di Tengah Pandemi

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Presiden Joko Widodo menyatakan pandemi dapat menjadi momentum untuk melakukan reformasi dan merencanakan strategi besar untuk mendukung ekonomi, salah satunya di desa-desa. Hal itu disampaikannya saat memimpin rapat terbatas melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, Kamis, 24 September 2020.

“Pandemi yang tengah kita hadapi harus menjadi sebuah momentum untuk menginstal ulang, memperbaiki lagi, juga melakukan reform mengenai strategi besar dalam transformasi ekonomi desa,” ujarnya melalui konferensi video dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 24 September 2020.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara meminta agar seluruh skema program yang berkaitan dengan jaring perlindungan sosial di desa seperti Program Keluarga Harapan, bantuan sosial tunai, bantuan langsung tunai desa dan lain sebagainya harus berjalan dengan efektif dan tepat sasaran.

“Pastikan itu diterima oleh masyarakat di desa yang terdampak Covid dan yang sangat membutuhkan,” tuturnya.

Tak hanya itu, Jokowi juga menginstruksikan jajaran terkait untuk mengonsolidasikan program-program kementerian yang dapat meningkatkan ekonomi desa. Ia meminta agar masing-masing kementerian tidak boleh menjalankan program secara sendiri-sendiri dan harus mengintegrasikan diri ke dalam skema program yang saling mengisi satu sama lain.

Baca juga: Presiden Jokowi Luncurkan Bantuan Subsidi Upah 

“Misalnya Kementerian Desa memastikan dana desa digunakan lebih produktif, Kementerian PUPR menyediakan infrastruktur dasarnya, Kementerian Perhubungan konektivitasnya, Kementerian Sosial mengenai penanganan warga yang kurang mampu, dan Kementerian Koperasi dan UKM untuk sektor usaha kecil dan mikro,” jelasnya.

“Kalau tidak terintegrasi hasilnya akan tidak kelihatan. Oleh sebab itu, semuanya dijalankan dalam strategi besar yang solid dan terintegrasi,” sambung Jokowi.

Lebih jauh ia mengatakan, masing-masing desa juga harus diarahkan untuk mengembangkan potensi lokalnya dalam rangka memperkuat daya ungkit ekonomi desa.

“Ini yang harus difasilitasi serta diberikan akses permodalan dan teknologi maupun di sisi keterampilan. Juga dorong kerja sama antardesa agar bisa masuk ke supply chain yang lebih luas sehingga pelaku usaha di desa bisa upskilling dan naik kelas,” pungkasnya.

Continue Reading

Ekbis

Asing Lepas Saham Perbankan, IHSG Melemah 1,57%

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 77,25 poin atau 1,57% ke 4.840,70 pada akhir perdagangan sesi I pada Kamis 24 September 2020. Semua sektor saham kompak memerah.

Adapun sektor saham dengan pelemahan terdalam yakni sektor perkebunan yang anjlok 2,66%. Selanjutnya sektor industri dasar turun 2,53% dan sektor infrastruktur turun 2,01%.

Baca juga: IHSG Melemah Lagi, Dibuka Turun 0,12% 

Investor asing melepas saham-saham perbankan yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) RP 93,9 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 53,6 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 45,3 miliar.

Sedangkan saham-saham dengan pembelian bersih terbesar asing adalah PT United Tractors Tbk (UNTR) Rp 14,7 miliar, PT Astra International Tbk (ASII) Rp 14,1 miliar dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp 10,1 miliar.

Hingga penutupan sesi I, PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS) menjadi top loser dengan penurunan terdalam 5,31%. Disusul PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang merosot 5,21% dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk yang turun 4,92%.

Sementara itu, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) menjadi top gainer dengan naik 0,85% dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) naik 0,75%.

Continue Reading

Ekbis

Pertumbuhan Ekonomi Semester II Dibayangi Kebijakan PSBB DKI

Published

on

By

Channel9.id-Jakarta. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan dampak kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tahap II di DKI Jakarta akan membayangi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester kedua 2020.

“Perkembangan ekonomi sektoral kuartal III dan IV dibayangi risiko dampak penerapan PSBB di wilayah DKI Jakarta sejak tanggal 14 September dan resiko akibat peningkatan kasus Covid-19,” ujarnya, Kamis, 24 September 2020.

Secara sektoral, kata Andry, sektor jasa seperti, perdagangan, transportasi, hotel, restoran dan jasa-jasa perusahaan, akan mengalami pemulihan yang relatif lambat dari perkiraan semula. “Demikian pula sektor industri pengolahan, pemulihannya mengikuti pola umum peningkatan ekonomi nasional karena sangat tergantung perbaikan daya beli dan confidence masyarakat sehingga mulai membelanjakan uangnya,” tuturnya.

Kendati demikian, sektor komoditas kelapa sawit dinilai bisa menjadi katalis positif yang mendorong perekonomian Indonesia, khususnya di Sumatera dan Kalimantan. “Harga minyak kelapa sawit sampai akhir tahun, kami perkirakan masih akan bertahan di tingkat harga US$ 700 per ton (FOB Malaysia),” kata Andry.

Baca juga : Sampai Agustus, Penerimaan Pajak Minus 15,6 Persen Dibanding Tahun Lalu

Andry menuturkan kinerja beberapa industri akan mengalami perbaikan dibandingkan kuartal II.
Pada Kuartal III 2020, khususnya Juli dan Agustus, berbagai indikator menunjukkan perbaikan kegiatan ekonomi dibandingkan April dan Mei 2020. Sebagai contoh, penjualan kendaraan bermotor pada Agustus lalu sudah mencapai 37.291 unit setelah mencapai titik terendah yaitu 3.551 unit pada Mei. Meski ada kenaikan penjualan Agustus masih jauh di bawah angka rata-rata penjualan tahunan 2019 yang mencapai 85.577 unit.

Tingkat hunian kamar hotel juga mulai membaik pada Juli 2020 menjadi 28,7 persen walaupun masih di bawah sebelum periode Covid-19 yaitu 56,7 persen pada Juli 2019.

Adapun harga-harga komoditas penting bagi perekonomian Indonesia selama pandemi Covid-19 masih tertekan. Sampai dengan 20 September 2019, harga minyak mentah turun 35 persen (year to death) atau berada di kisaran US$ 43 per barel dan harga batu bara turun 23 persen atau berada di tingkat US$ 52 per ton.

Namun demikian, harga minyak kelapa sawit sejak Juni membaik dengan cepat dan sudah mencapai US$ 753 per ton. Harga itu sama dengan sebelum harga Covid-19 pada Desember 2019. Harga karet juga membaik 20 persen mencapai US$ 2 per kilogram.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

HOT TOPIC