Jaja Mihardja Tak Mau Patenkan Jargon ‘Apaan Tuh’, Persilakan Orang Lain Menggunakan
Lifestyle & Sport

Jaja Mihardja Tak Mau Patenkan Jargon ‘Apaan Tuh’, Persilakan Orang Lain Menggunakan

Channel9.id-Jakarta. Komedian senior Jaja Mihardja dikenal luas lewat jargon khasnya, “Apaan tuh”, yang kerap disertai ekspresi mata sebelah. Meski telah melekat kuat sebagai identitasnya di dunia hiburan, Jaja mengaku tidak tertarik mematenkan jargon tersebut dan mempersilakan siapa pun untuk menggunakannya.

Saat ditanya mengenai keinginan mengklaim jargon tersebut sebagai miliknya, Jaja justru memilih untuk tidak membatasinya. Ia merasa tidak perlu mengakui jargon itu secara eksklusif karena masyarakat sudah mengenalnya sebagai bagian dari gaya khasnya.

“Ngapain? Jangan, biar orang pakai. Mending jangan ngakuin,” ujar Jaja Mihardja.

Menurut Jaja, ungkapan “Apaan tuh” sudah memiliki ciri khas tersendiri, terutama ketika diucapkan dengan ekspresi mata sebelah yang menjadi daya tariknya di hadapan penonton.

“Kalau ‘apaan tuh’ pasti matanya sebelah,” katanya.

Jaja kemudian mengenang awal mula dirinya membangun gaya tersebut saat menjadi pembawa acara. Kala itu, sejumlah rekan sesama artis sempat mempertanyakan penampilannya yang dinilai berbeda dari kebiasaan pembawa acara pada umumnya.

“Waktu jadi pembawa acara itu kan. Iya, ‘Kenapa lu pakai begitu-begitu sih? Biasa aja kenapa sih?’ gitu,” kenang Jaja.

Meski sempat mendapat komentar dari rekan-rekannya, Jaja tetap mempertahankan gaya tersebut. Ia meyakini setiap pengisi acara maupun penyanyi memiliki karakter tersendiri yang dapat menjadi pembeda di tengah persaingan industri hiburan.

“Gua tiru kalau nyanyi kan, ‘Bentar ya, setelah yang satu ini.’ Gitu. Lain. Hari ini berhasil,” tuturnya.

Kini, jargon “Apaan tuh” menjadi salah satu identitas yang membuat Jaja mudah dikenali publik. Perjalanan panjangnya di dunia hiburan juga membuatnya mendapat sebutan maestro dan legenda.

Namun, bagi Jaja, predikat tersebut bukan sekadar penghargaan, melainkan tanggung jawab untuk terus menjaga sikap dan rekam jejaknya di hadapan masyarakat.

“Berat, berat juga nih nanggungnya. Sebab kalau udah legend kan aduh, gimana ya? Mesti sepak terjangnya mesti benar-benar. Itu aja, penjagaan. Ayah mesti hati-hati,” ungkapnya.

Di tengah perjalanan kariernya, Jaja mengaku bersyukur masih mendapat tempat di hati masyarakat. Ia pun tetap menekuni dunia hiburan yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupannya.

“Ya, orang masih cinta sama Ayah, gimana? Kalau kita enggak ini? Kan kebetulan memang bidang Ayah di situ. Dagang-dagang enggak bisa. Kecuali di sini,” pungkasnya.

Sikap Jaja yang tidak ingin memonopoli jargon khasnya menunjukkan bahwa baginya, identitas di dunia hiburan tidak semata-mata soal kepemilikan sebuah ungkapan, tetapi juga tentang kedekatan dengan masyarakat yang telah mendukung perjalanan kariernya selama ini.

Kontributor: Akhmad Sekhu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9  +  1  =